Anugerah Listrik dari Alam Maros (2)

Butuh waktu sekitar setengah jam menuju PLTMH yang terletak di lembah hilir sungai Desa Barugae.

SAGA

Kamis, 01 Agus 2013 15:33 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

Anugerah Listrik dari Alam Maros (2)

Maros, PLTMH, Energi Alternatif, Air, PNPM

Duduk di sebelah Mulyadi, sang istri, Yuni, bercerita selama menggunakan obor kaleng atau pelita, anaknya sulit belajar. “Kalau pakai lampu pijar itu kasihan, kalau mau belajar ngantuk berhenti lah belajarnya. Tidak terlalu terang. Tinggal belajar gini lagi berhenti,” timpal Yuni sembari menggendong anak keduanya yang masih balita.

Tak jauh dari rumah Mulyadi, warga Desa Barugae lainnya, Jamaluddin ikut berkisah. Kami menemuinya malam itu juga, selepas pulang dari rumah Mulyadi. Di selimuri hawa dingin dan diringi suara serangga pohon, Jamaluddin banyak bercerita masa-masa hidup tanpa listrik.

Untuk penerangan, bapak empat anak ini menggunakan cara tradisional, dengan membakar minyak kemiri atau menggunakan pelita minyak tanah. “Itu dulu pakai kemiri di tumbuk, minyaknya diambil. Baru pakai minyak. Dijepit, dibambu dan dibakar. Kuat tidak lama, hanya 1,5 jam, habis itu,” kata Jamaluddin.

Jamaluddin menjelaskan, dalam sebulan harus merogoh kocek Rp 50 ribu lebih untuk beli minyak tanah. Baru lima tahun lalu, dia mampu membeli generator listrik berbahan bakar bensin. Generator itu sanggup menyalakan 5 lampu selama 2 jam untuk 1 liter bensin. Generator biasanya dinyalakan untuk penerangan saat anak-anaknya belajar.

“Kalau 1 malam itu 5 liter, bujur itu sampai pagi. Itu nyala terus. Bujur itu sampai pagi, nyala terus. Tidak tambah. Itu pool. Itu tahan cuma 3 tahun saja. Karena habis uang dan modal,” ungkapnya lagi.

Untuk menikmati terangnya cahaya Mulyadi dan Jalaluddin perlu kerja keras untuk mendapatkan bahan bakar. Mereka harus ke luar dusun menuju Pasar Malawa, di Kabupaten Maros.

Jaraknya sekitar 9 kilometer dari desa mereka. Untuk menuju ke sana, harus melewati hutan perawan dengan jalan berbukit, tanjakkan terjal, berbatu dan berlumpur. Kebanyakan  warga Desa Barugae harus berjalan kaki. Sebab hanya sedikit  yang mempunyai  sepeda motor.

Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan warga agar pemerintah setempat membangun fasilitas penunjang listrik. 


Karena tak mendapat tanggapan  warga desa bergotong-royong membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro yang bersumber dari tenaga air sungai setempat.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kiat Menjalani Isolasi Mandiri bagi Remaja Terinfeksi COVID-19

Bantu Sesama di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Demi Oksigen Somasi Dilayangkan