Anugerah Listrik dari Alam Maros

Warga desa setempat Mulyadi mengaku selama 45 tahun hidup tanpa listrik. Kalaupun ada cahaya temaram di rumahnya itu bersumber dari sumbu api berbahan minyak tanah.

SAGA

Kamis, 01 Agus 2013 14:44 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

Anugerah Listrik dari Alam Maros

Maros, PLTMH, Energi Alternatif, Air, PNPM

KBR68H - Malam di Desa Barugae di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sebelum listrik menerangi, selama puluhan tahun warga hidup dalam gulita. Jarak desa ini dari pusat pemerintahan kabupaten setempat relatif dekat, sekitar 40 kilometer. Namun kabel listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum mampu menembus daerah yang masih diselimuti hutan dan bukit terjal tersebut.

Untuk menuju desa yang dihuni 800 jiwa ini, KBR68H harus naik motor trail. Kami disuguhi jalanan berlumpur dengan kanan kiri pepohonan lebat. Namun medan tanah yang berlumpur, licin dan mendaki membuat kendaraan roda dua itu seperti tak bergerak. Berjalan kaki akhirnya jadi pilihan. Setelah hampir 1 jam naik-turun bukit sekitar 9 kilometer kami tiba di Dusun Balanglohe .

Sangat melelahkan berjalan kaki di sisa perjalanan hanya 1 km dari gerbang desa. Sebab tanjakkan cukup terjal berkemiringan hampir 70 derajat. Tanjakan itu rata-rata jauhnya 30 meter.

Mengunjungi desa yang berada di 900 meter di atas permukaan laut itu, kami menemani Mulyadi, warga desa setempat. Mulyadi mengaku selama 45 tahun hidup tanpa listrik.  Kalaupun ada cahaya temaram di rumahnya itu bersumber dari sumbu api berbahan minyak tanah.  Alat penerangan sederhana ini  dibuat  dari  kaleng bekas cairan pembunuh serangga.  Mulyadi sendiri yang membuatnya.

Setiap malam, obor kaleng itu menghabiskan 1 liter minyak tanah. Namun untuk mendapatkan minyak tanah itu, dia harus berjalan sejauh 7 km menuju Pasar Mallawa di Maros. Jalan yang dia lewati persis seperti jalan yang kamu susuri saat menuju Desa Barugae.

“Iya jauh, jalan kaki sampai 7 km dari sini lah,” begitu kata Mulyadi saat ditemui di rumah panggungnya di desa itu.

Pria paruh baya berbadan tegap itu bekerja sebagai petani di desa itu. Penghasilannya sebagai petani mencapai Rp 6 juta per tahun atau rata-rata Rp 500 ribu per bulan


Dalam sebulan Jalaluddin harus merogoh kocek Rp 50 ribu lebih untuk beli minyak tanah.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kiat Menjalani Isolasi Mandiri bagi Remaja Terinfeksi COVID-19

Bantu Sesama di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Demi Oksigen Somasi Dilayangkan