Tenoon: Kain Tenun yang Merangkul Kelompok Disabilitas

Tahukah Anda kalau angka penyandang disabilitas di Sulawesi Selatan itu termasuk yang tertinggi di Indonesia? Pratiwi Hamdhana berupaya membalik keadaan lewat Tenoon.

Hasil kain tenun dari Tenoon. (Foto: KBR/ Taufik Hidayat)

Selasa, 16 Juli 2019

- Tenoon: Kain Tenun yang Merangkul Kelompok Disabilitas
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Tahukah Anda kalau angka penyandang disabilitas di Sulawesi Selatan itu termasuk yang tertinggi di Indonesia?

Pratiwi Hamdhana berupaya membalik keadaan lewat Tenoon--kain tenun Nusantara yang dibuat oleh teman-teman disabilitas. Jurnalis KBR, Astri Yuana Sari menengok kiprah Pratiwi di Makassar.


[AUDIO SUARA MESIN JAHIT]

ADELIA: Assalamualaikum. Nama saya Adelia. Umur saya 18 mau ke 19. Asal saya dari NTT.

Adelia, seorang tunadaksa dengan gangguan gerak pada kaki kirinya--tapi ia lincah memainkan mesin jahit di depannya.

[AUDIO SUARA GERAKAN PADA MESIN JAHIT]

ADELIA: Saya dulu dari Kementerian Sosial, saya dikasih belajar di situ, pelatihan di situ selama 2 tahun. Terus saya ingin mencari pekerjaan, terus dapat saya di sini, di Tenoon.

Tenoon dibangun oleh Pratiwi Hamdhana, 27 tahun, asal Makassar.

PRATIWI: Jadi, Tenoon itu sebuah usaha sosial dimana kami memberdayakan perempuan dan penyandang disabilitas untuk memproduksi produk-produk olahan dari kain tenun Indonesia.

PRATIWI: Kain tenun Indonesia sendiri kami ambil dari beberapa sumber, ada dari Jepara, ada beberapa daerah di Indonesia Timur, cuma memang mayoritasnya Indonesia Timur. Dan kami berkolaborasi atau mempekerjakan teman-teman disabilitas untuk membuat produknya.

[AUDIO SUARA MESIN PEMBUAT KAIN TENUN]

ADELIA: Saya membuat ini, tas, namanya Lima. Biasa dibikin satu hari 3 atau 4 produk. Biasa diupah satu tas Rp25 ribu.

Selain Adel, ada sepasang suami istri yang juga bekerja di Tenoon. Anwar dan Sari, keduanya tuli.

[AUDIO SUARA KAIN-KAIN DIGUNTING]

[AUDIO SUARA INTERPRETER ANWAR DAN SARI]

INTERPRETER: Assalamualaikum, nama saya Anwar, nama isyaratnya seperti ini, saya dari Tenoon.

INTERPRETER: Halo, nama saya Sari, nama isyaratnya seperti ini, saya dari Tenoon.

Para penjahit ini mendapat upah 25 sampai 50 ribu rupiah untuk setiap kain yang mereka buat, tergantung tingkat kesulitannya.


Selain itu, masih ada gaji tetap dari Tenoon, sehingga total mereka bisa mengantongi Rp3 juta per bulan. 

Pengalaman Pratiwi ketika sekolah di Inggris lah yang memicu lahirnya Tenoon.

PRATIWI: Saya melihat kalau ternyata pemerintah dan sektor private di sana itu sangat peduli dengan penyandang disabilitas. Jadi mereka sangat difasilitasi mulai dari cari kerja, bahkan hampir di setiap toko swalayan, pasti kita menemukan teman-teman disabilitas yang dipekerjakan sama tempat-tempat usaha ini.


"Di pemerintahan (Inggris) juga seperti itu, di kelas-kelas juga aksesnya lumayan inklusif. Nah, hal tersebut yang saya tidak pernah lihat, atau mungkin jarang sekali lihat di Indonesia,"

- ungkap Pratiwi lagi.

[AUDIO MUSIK]

Dan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 dari Kementerian Kesehatan menempatkan Sulawesi Selatan sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penyandang disabilitas tertinggi di Indonesia. 

Karena itulah sejak awal Tenoon menggandandeng penyandang disabilitas, dan memulainya lewat sebuah rumah produksi kecil di daerah Maccini, Makassar. 

PRATIWI: Kita ingin bikin sesuatu yang impactful, dan dapat inspirasi. Ya sudah, kita mempekerjakan kelompok marjinal. Cuma waktu itu definisi marjinal kan besar nih, kayak siapa saja nih kelompok marjinal. Nah kita mulai dengan teman-teman disabilitas, dan sampai sekarang kita fokusnya di pemberdayaan perempuan dan disabilitas.

Tenoon baru punya 3 penjahit yang adalah penyandang disabilitas.


Tapi Pratiwi dan Tenoon terus bergerilya memberdayakan kelompok ini lewat berbagai pelatihan.

PRATIWI: Jadi kita sempat bikin workshop pembuatan tas, workshop sosial media, sama foto produk. Dan itu memang mayoritas 90% yang dateng itu teman-teman disabilitas.

[AUDIO SUARA MESIN JAHIT]

Lewat Tenoon, Pratiwi ingin memberikan sumbangsih bagi tanah kelahirannya sekaligus memberdayakan kelompok disabilitas.

PRATIWI: Jadi kalaupun kita tidak bisa hire mereka karena kapasitas kita belum mumpuni, mungkin mereka bisa punya skill, atau mereka bisa bikin usaha sendiri, atau jadi mitra lepasannya kita.