[SERIAL] EPISODE 7: Yang Menimang Rindu

Kali ini kita bertemu seorang eyang berusia 70 tahun. Demi bisa mengontak sang cucu, ia belajar pakai telepon genggam

Selasa, 23 Juli 2019

Rindu ibu kepada anak yang tak tertahankan bukan hanya milik Yuni dan Gendis. Mereka terpisah karena sang bocah dinilai masih rentan akibat terjerat kasus terorisme. Kali ini kita bertemu seorang eyang berusia 70 tahun yang merindu cucunya, Anisa. Demi bisa mengontak sang cucu, ia belajar pakai telepon genggam dan aplikasi pesan. Mengetik rindu, terus berhitung hari menunggu cucunya kembali. 

KBR menyajikan serial khusus menyoroti anak-anak yang jadi korban terorisme. Demi melindungi para bocah, identitas mereka kami samarkan.

Ikuti Serial "Hidup Usai Teror" episode ke-7: Yang Menimang Rindu 


PERINGATAN! Seri liputan ini memuat konten yang boleh jadi mengganggu bagi sebagian orang.  

EPISODE 7: Yang Menimang Rindu

- -
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Kursi-kursi di ruangan ini rapat dengan meja. Tak ada celah untuk lewat. 

Bagian yang saya duduki, agak berdebu. Juga buffet di sisinya. 

Ruang depan ini seperti tak pernah dijamah.

Penghuni rumah ini ada 3: Eyang dan suaminya serta seorang anak mereka. Anak mereka yang lain sudah tinggal di rumah yang berbeda. 

Keramaian hanya mampir di siang hari karena beberapa cucu dititipkan di sana. Cucu Eyang kini tinggal 4. Dua diantaranya meninggal dalam aksi teror. 

Eyang menunjukkan foto salah satu cucunya itu, Anisa – cucunya yang paling kecil. Mereka mesti hidup terpisah ratusan kilometer. Karena kasus teror.

EYANG: Saya lihat yang ini… lalu yang ini… video yang nari itu, kalau lagi kangen saya lihat itu.. yang dikirimi Bu Sri Wahyuni pas lagi nari itu. Kalau di sini itu memang kan ya betah… nggak mau pulang, betah di sini, mulai sekolah itu sampai sore. Diajak pulang nggak mau. Kadang nginep sini, pas rumahnya dekat.

Anisa kini dirawat di rumah perlindungan milik pemerintah.

Orangtua Anisa serta dua kakaknya tewas terbakar saat melakukan aksi bom bunuh diri. 

Anisa ada di situ juga... satu-satunya yang selamat. 

Eyang yang kangen, cuma bisa bolak-balik memutar video. Atau memandang-mandangi foto yang tersimpan di telepon genggam. 

Orangtua Anisa adalah anak dan menantu si Eyang. Mereka bagian dari Jamaah Anshorut Daulah (JAD), pimpinan Aman Abdurrahman, yang terafiliasi dengan ISIS.

Kelompok ini akrab dengan senjata tajam, senapan rakitan serta bom berdaya ledak rendah.

Aman, memerintahkan pengikutnya untuk berbaiat atau melakukan janji setia ke Pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi. Juni 2018 lalu, Aman divonis hukuman mati karena terlibat berbagai kasus terorisme.

Eyang tak mengira cerita hidupnya bakal begini. 

EYANG: Pagi itu Anisa dijemput sama ibunya. Ibunya kan sekalian mengantar gula ke saya. Saya juga nggak tahu itu, pagi-pagi masih mengantar kok tahu-tahu …. Nah pas ada kejadian itu saya nggak tahu sama sekali, sampai sore. Tahunya orang-orang pada ke sini itu. Saya kaget sekali.

Usai aksi bom bunuh diri itu, Eyang sempat melihat Anisa, ketika bocah usia 8 itu dirawat di rumah sakit—sebelum diboyong ke rumah perlindungan.

EYANG: Pokoknya pas ditanya orang rumah sakit dia belum bisa ngomong. Kan itu belum sadar, pas itu belum bisa ke sana. Pas boleh ke sana juga itu dikawal sama polisi-polisi. Saya itu bisa masuk setelah beberapa hari, bisa nyambangi. Setelah itu saya disuruh nungguin.

Setelah itu, Eyang hanya bisa telepon. Atau mendengarkan rekaman percakapan.  

Eyang baru sekarang ini belajar pakai telpon genggam dan aplikasi pesan. Meski tak berbalas.

-

Fisik boleh saja lungkrah, mengetik boleh saja sulit – tapi ingatan Eyang masih tajam. 

Ia hapal persis tanggal cucunya dibawa pergi. Angka yang terus dihitungnya sampai sekarang. 

Kepada para pendamping di rumah perlindungan, Eyang rutin menanyakan kabar Anisa. 

Juga, kapan cucunya bisa pulang. 

EYANG: Orang-orang itu baik-baik. Ada yang ngasih uang buat, ada guru-gurunya. Dikasih buku, terus tas, terus jajan. Semuanya masih tak simpan di sini. Sama gurunya, sama polisi, nggak tahu siapa lagi itu, semuanya masih saya simpan, nanti kalau pulang tak kasihkan….

Mulanya Eyang enggan mengasuh cucunya lantaran ia sudah terlalu tua.

Tapi ia lantas jatuh iba… 

EYANG: Ya kemarin pas ke sini bilang, kok diminta ke pesantren.. Tapi kok saya pikir-pikir kok nggak enak juga di pesantren. Kalau Pakdhenya yo nggak papa (Anisa di pesantren-red), tapi kok ya kasihan pisah terus.. kan umurnya masih delapan tahun.

Eyang ingin merawat Anisa.

Meski ia tak tahu apakah anak-anaknya yang lain bakal setuju atau tidak.

EYANG: Bagaimana untuk ke depannya, maksudnya umpama sekolah atau apa itu sendiri, apa dibantu (pemerintah). Nanti kalau sudah kuliah atau apa ….

EYANG: Saya tu ya … Ya mudah-mudahan saya dikasih umur panjang biar bisa merawat cucu. Kan umur saya sudah banyak ini. Makanya saya tanya,  kapan dipulangkan, umur saya kan sudah banyak. Nanti kalau mundur… mundur… mundur… kan nggak enak…

Meski rindu membuncah, tak semudah itu Eyang bisa bertemu cucunya.

Sebab ini soal kasus terror. Menyerahkan kembali anak kepada orangtua atau anggota keluarga yang tersisa tak sesederhana menghapus rindu.

Kepala rumah perlindungan, Neneng Heryani mengungkapkan, persiapan mesti matang.  

Ternyata memang masih ada keluarga yang merasa masih takut, kalau anak tersebut dikembalikan ke mereka.

- Neneng Heryani - Kepala rumah perlindungan

NENENG: Anak-anak ini sebetulnya sudah siap untuk dikembalikan, Mbak. Ternyata memang masih ada keluarga yang merasa masih takut. Kalau anak tersebut dikembalikan ke mereka, maka keluarga mereka akan terancam karena masyarakat tidak mau menerima anak tersebut.

Perasaan tak diterima, stigma atau pelabelan menurut Neneng, justru membahayakan anak.

Berpotensi membikin anak terjerumus kembali ke lingkar terorisme.

NENENG: Inilah yang sebetulnya yang harus dihindari dan harus dihilangkan, labeling di masyarakat. Karena labeling ini lah yang membuat anak terpojok. Bahayanya, dampaknya yang terbesar itu anak akan kembali lagi ke kelompoknya, bahwa dia merasa nyaman dengan kelompoknya terdahulu.

Idealnya, pemerintah yang mengambil alih pengasuhan anak; kata pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andrie. 

Tapi…

TAUFIK: Terus terang saya agak gelap juga. Gelap, pertama karena regulasi. Kedua, karena, sebenarnya programnya apa sih? Mereka memang dikelola masing-masing 4 minggu atau beberapa mungkin pengecualian 6-8 minggu. Ini kalau bicara PSMP atau Kementerian Sosial itu kan ya, konseling aja kan.

TAUFIK: Tapi kan, lagi-lagi meng-address isu-isu strategis dan traumatik seperti ini, waktunya terlalu pendek. Sedangkan pemerintah tidak punya uang dong, ngasih makan, ngelola, dengan sumber daya terbatas.

Aturan di Indonesia tak memungkinkan anak-anak korban selamanya diasuh oleh negara. 

Kecuali, kalau tak ada lagi orangtua, paman dan bibi, atau juga kakek serta nenek.

Kalaupun toh mesti diasuh negara, sudahkah pemerintah dengan segala perangkatnya siap?

TAUFIK: Teman-teman Kementerian Ssosial ini juga menghadapi hal baru, baru sekali-kalinya ngurus terorisme kayak gini — ya bukan teroris pelaku sih. Tapi kan ini basisnya ideologi. Regulasinya tidak tersedia. Infrastruktur, bolehlah ada uang sedikit untuk ngasih makan. Tapi program nggak ada. Ekspert juga nggak ada. Apakah ada psikolog anak? Saya kira, nggak. Apakah psikolog yang bisa meng-address ideologi? Saya kira, nggak juga.