[SERIAL] EPISODE 6: Penantian

Ada anak yang harus dilindungi dari jaringan teroris orangtuanya. Ada anggota keluarga yang harus dipastikan kedap dari radikalisme. Ada trauma yang masih perlu dipulihkan.

Selasa, 23 Juli 2019

Ketika anak dan orangtua terpisah karena kasus terorisme, bisakah mereka dipertemukan kembali? Ini rupanya bukan persoalan mudah. Tak semudah bersepeda di jalanan turunan, juga tak sekadar persoalan mengobati kangen. Ada anak yang harus dilindungi dari jaringan teroris orangtuanya. Ada anggota keluarga yang harus dipastikan kedap dari radikalisme. Ada trauma yang masih perlu dipulihkan.

Kita bertemu ibu-anak Yuni dan Gendis yang kini harus hidup terpisah setelah sang ayah ditangkap karena kasus terorisme. 

KBR menyajikan serial khusus menyoroti anak-anak yang jadi korban terorisme. Demi melindungi para bocah, identitas mereka kami samarkan.

Ikuti Serial "Hidup Usai Teror" episode ke-6: Penantian 


PERINGATAN! Seri liputan ini memuat konten yang boleh jadi mengganggu bagi sebagian orang.  

-
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya


YUNI: Assalamualaikum… Ibu kangen, sayang…

Ibu kangen… Ibu kepengen ketemu ke sana, nyambangi ke sana. Kalau diizinkan, cuma sayang … ibu nggak mau ngambil… 

Kalian di sana nggak usah khawatir, Nak.. Ibu di sini nggak papa, Sayang… Ibu di sini sehat, Ibu di sini jualan kue kayak dulu…

Jangan lupa sholat dan ngaji. Habis sholat, ngaji.. biar ayah adek di sana tenang…

Yuni terpisah dengan tiga anaknya, setelah polisi mengungkap rencana aksi teror sang suami.

Senin malam, bom meledak di sebuah rumah susun. Sehari setelahnya, rumah Yuni digerebek pasukan Densus Antiteror 88.

YUNI: Aku posisi duduk-duduk di luar, polisi semua datang. 'JANGAN BERGERAK!' Anak-anakku langsung lari. Itu baru wudhu ayahnya, jam lima kalau nggak salah. Kalau ingat kejadian …. Saya istighfar…

Ia melihat suaminya mati ditembus timah panas petugas.

YUNI: Aku takut anak-anak trauma …..

YUNI: Aku melihat suamiku meninggal, bapak meninggal di depanku 

Polisi menyebut sang suami turut membantu perakitan bom yang rencananya digunakan menyerang sejumlah lokasi.

Bahan peledak ditemukan di rumah sewa Yuni. 

Suami Yuni disebut tergabung dengan Jaringan Ansharut Daulah (JAD). Suami dan beberapa orang di daerah yang sama, merencanakan aksi teror, merakit bom hingga, lantas sempat berhasil melancarkan teror di beberapa titik.

YUNI: “Saat saya kirim (kue) pagi, atau ambil setoran siang, itu masih ada yang ngawasin. Intel-intel itu masih banyak. Kalau saya nggak ngikutin jamaah (jejaring teroris-red) kan saya nggak nyaman (diikutin). Enjoy aja, saya nikmati tapi pahit manis hidup… saya nikmati…”

Yuni mengaku tak tahu-menahu kegiatan sang suami—termasuk ulah merakit bom dan merencanakan teror.

YUNI: “Di sekelilingku itu masih banyak intel. Karena dia masih mau membuktikan, saya itu jaringan suami saya apa nggak….

Setelah hampir sepekan diperiksa polisi, ia dibebaskan. 

YUNI: “Saya ke situ malam, cuma nggak lama, lalu saya pulang. Dibilangin, kalau mau agak lama dengan anak-anak datang pagi ya. Saya besoknya datang pagi, tapi nggak tahunya molor. Malamnya itu anak saya minta uang, mau menelepon ayah katanya kangen ayah. Trus pas mau berangkat (ke rumah perlindungan), anak saya nangis. Saya tanya, kenapa nangis. Dia bilang: 'Bu, Ibu nggak ikut?''

"Kami sampaikan bahwa anak ini harus direhabilitasi dulu."

- Neneng Heryani - Kepala Rumah Perlindungan

Pemerintah dan polisi merasa anak-anak Yuni perlu dilindungi. 

Kepala rumah perlindungan, Neneng Heryani menjelaskan, memisahkan anak dan orangtua adalah bagian dari pemulihan trauma. Juga untuk menetralkan ideologi anak.

NENENG: Kami sampaikan bahwa anak ini harus direhabilitasi dulu, agar mereka kembali lagi ke anak-anak sesuai dengan perkembangannya. Keluarga besar menyerahkan kepada kami, dan membolehkan anak-anak tersebut untuk dirujuk, ditempatkan di rumah perlindungan Kemensos.

Para bocah itu tinggal di tempat baru, bersama orang dewasa yang asing.

SRI WAHYUNI: Inget nggak pas pertama ketemu Bu Yuni itu apa yang di pikiran adik?

GENDIS: Kirain Bu Yuni itu jahat, ternyata baik… (tertawa)

SRI WAHYUNI: Emang kenapa? 

GENDIS: Takutnya di sini disiksa atau diapain, kan belum tahu.. tapi ternyata bukan gitu… ternyata tempatnya enak, banyak teman-teman..

Itu suara Gendis, anak sulung Yuni. 

Gendis senang dapat banyak teman dan disayang para pendampingnya. Tapi ia rindu ibunya. 

SRI WAHYUNI: Kan pertama kali ketemu Bu Yuni kan takut, kalau sekarang gimana akhirnya mau deket?

GENDIS: Soalnya Bu Yuni orangnya baik, trus ngomongnya lembut kayak ibuk…

Air muka Gendis seketika berubah cerah ketika mengenang masa-masa bikin kue dengan ibunya.

Yuni pun punya kenangan yang sama. 

YUNI: “Kalau bakpao itu, Mbak ya, saya ngasih isinya lalu anak-anak ngasih coraknya. Sehari kadang itu aku bisa bikin 100 lebih. Ini tuh banyak yang minta pesanan, tapi saya nggak bisa ….

Gendis menulis tiga keinginan saat kelak keluar dari rumah perlindungan: mencari makam sang bapak, melanjutkan sekolah dan bertemu ibunya.   

Yuni harus angkat kaki dari rumah sewanya yang lama. Warga setempat menolaknya. 

Ia kini menyewa tempat di rumah lain. Tinggal sendiri. Hanya bikin pesanan kue. 

Dan melepas rindu lewat foto. 

YUNI: “(Sambil menahan tangis) Kadang saya kangen gitu ya saya lihat (foto). Lihat gini, ini kan bapak, ini anak saya. Pas mereka masih kecil. (Ini waktu di mana?) Di Malang. Jadi seneng ya berlima, susah ya berlima.”

Berkali-kali ia berusaha meyakinkan dirinya, ini jalan Tuhan. 

YUNI: Saya sudah pasrah mau dipulangkan atau nggak, wes pasrah. Kalau masih rejeki saya di dunia, wes pasti kembali.” (suara menahan tangis)

Tapi rindu itu begitu membuncah. Ia memperlihatkan satu per satu foto anak-anaknya di telepon genggam. Foto bersama terakhir mereka. Semua tersenyum.  

Ia memperlihatkan satu per satu foto anak-anaknya di telepon genggam. Foto bersama terakhir mereka. Semua tersenyum

YUNI: Kalau mau dikembalikan ya Alhamdulillah, kalau tidak ya Alhamdulillah. Itu sudah rencana Allah. Allah pasti sudah punya yang lebih indah buat keluargaku.

Dalam kasus teror, menyerahkan kembali anak kepada orangtua atau keluarga yang tersisa, jadi lebih rumit dibanding kasus lainnya. 

REPORTER: Ada rencana mengembalikan anak-anak Pak? 

YUNI: Kalau anak-anak ya biasa, saya didik. Walaupun agama saya sedikit. Saya didik agama saja. 

REPORTER: Bakal sekolah?

YUNI: Ya jalurnya keagamaan aja, Mbak. Keagamaan, kalau umum kan kayak hitung-hitungan kan sudah. Kalau mau sekolah kan, artis-artis juga banyak yang nggak sekolah. Kan takutnya anak-anak juga minder. Ya kan ada homeschooling. Keinginan saya, kalau anak-anak dikembalikan ke saya, ya saya homeschoolingkan. Nanti sorenya saya les privat.

Ada kekhawatiran, orangtua atau lingkungan baru itu tak siap menerima sang anak.

Itu sebab, langkah lanjutan ini sangat hati-hati dipikirkan. 

Pemerintah mesti memastikan, orang tua juga lingkungan anak betul-betul bersih dari paham radikal. 

Karena jika tidak, justru bakal memunculkan benih-benih teroris.

Kepala rumah perlindungan, Neneng Heryani.

NENENG: Saya sudah sampaikan ke pemerintah daerah waktu itu ke Dinas Sosial, bahwa anak ini dicoba dicarikan tempat yang sesuai, yang representatif, yang layak untuk anak tersebut. Agar anak tersebut tetap bisa didampingi, karena kalau anak tersebut bila ada sedikit yang mencetuskan maka anak tersebut akan kembali ke yang dulu. Dan ini bahaya bagi mereka.”

NENENG: Jadi kami sampaikan ke Dinas Sosial, agar anak-anak ini betul-betul dicarikan tempat yang layak dan sesuai dengan mereka, agar bisa meneruskan hidup lagi seperti anak-anak lain.