Ksatria Pelangi Penjaga Bumi

Greenpeace menilai proyek pembangunan jembatan Trans Papua semakin mengancam keberadaan satwa laut tersebut.

SAGA

Jumat, 05 Jul 2013 15:20 WIB

Author

Novaeny Wulandari

Ksatria Pelangi Penjaga Bumi

Greenpeace, Rainbow Warrior, Papua, Penyu Belimbing, Tanjung Priok

KBR68H -Greenpeace mengingatkan terancam punahnya sejumlah satwa dan flora di Bumi Cendrawasih. Dampak pembangunan dan penebangan hutan salah satu pemicunya. Temuan itu didapat dari hasil penelitian para aktivis lingkungan internasional bersama kapal legendaris Rainbow Warrior di Papua.  KBR68H masuk ke dalam kapal ramah lingkungan saat bersandar di perairan Jakarta. Mendengar cerita para awak kapal tentang pentingnya melestarikan kekayaan hayati. 

Langit biru terlihat cerah. Sebuah kapal bercat hijau dengan dua tiang kapal dan 5 layar raksasa berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di lambung kapal tertulis “Rainbow Warrior” atau jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, “Ksatria Pelangi”. Sejumlah orang berkumpul  menyambut  kapal milik LSM lingkungan internasional Greenpeace di bibir dermaga.   

Kapal dengan panjang lebih dari 50 meter dan lebar lebih dari 11 meter  tersebut baru saja berlayar dari Papua. Kapal ini merupakan ujung tombak kampanye Greenpeace melawan praktik-praktik perusakan lingkungan.  Dari kunjungan ke Papua, LSM yang berpusat di Amsterdam, Belanda mencatat spesies langka Penyu Belimbing  salah satu satwa yang terancam punah.

Juru Kampanye Greenpeace Zamzami menuturkan, “Jadi kita suatu saat singgah di Pantai Utara Jamursba Medi, di bagian Utara Papua. Di sana sekitar 18 kilometer Pantai pasir yang putih itu adalah tempat terbesar bagi Penyu belimbing untuk bertelur. Penyu belimbing itu oleh kelompok CITES, statusnya terancam punah. Karena habitatnya rusak, telurnya diambilin”

Greenpeace menilai proyek pembangunan jembatan Trans Papua semakin mengancam keberadaan satwa laut tersebut. Kembali Zamzami. “Pesisir pantai itu kini sedang dihancurkan oleh pembangunan jalan Trans Papua. Yang akan menghubungkan kota Sorong ke Manokwari, jadi betul-betul melewati lereng-lereng bukit di pantai itu. Nah sementara kalau penyu belimbing itu kalau bertelur mendarat kalau ada ganguan cahaya dia tidak akan bisa. Dia akan kembali lagi ke laut. Sebenarnya pembangunan itu tidak disanan diperuntukan, sudah ada jalurnya. Namun karena erfikir lebih pendek jalurnya.”

Selain Penyu Belimbing, populasi Hiu Paus di Teluk Cenderawasih dan habitatnya juga ikut terancam. Pemicunya praktik penebangan besar-besaran kayu langka Merbau terang Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Teguh Surya. “Yang paling parah lagi salah satu lokpon lagi, tempt penebangan kayunya tidak jauh dari tempat hiu paus bermain. Ini harus segera dihentikan praktek penebangan yang merusak ini. Karena, bukan hanya hutan yang rusak, tetapi lautnya nanti juga akan hancur.  Ya hari ini mereka masih bermain ya, tapi lma kelamaan jika semakin masif airnya tentu akan semakin keruh, banyak akses segala macam maka ia akan terganggu. Itu salah satu spesies hiu paus yang sangat langka, bukan hanya langka dari segi pausnya tetapi dapat dilihat sepanjang hari tidak menggunakan musim.”

Menariknya dalam ekspedisi ke  Bumi Cendrawasih, aktivis Greenpeace menemukan masyarakat adat yang peduli menjaga lingkungan. Misalnya yang dilakoni 50 keluarga di Desa Kwantisore,  Teluk Cenderawasih.  Tanpa diperintah  mereka melestarikan hutan dengan cara menanam pohon berjenis langka.

“Nah yang menarik disini awalnya memang mereka ngambil dari hutan ya, tanaman tumbuh liar di hutan. Tetapi berhasil membudidyakan sendiri. Dari salah satu masyarakat yang kami wawancarai, kami temui, karena kami berkeliling. Mereka bercerita, kenapa mereka membudidayakan Gaharu, karena mereka berfikir mengantungkan hidup dengan hutan itu tidak baik. Kalau hari ini tak apa, tapi bagaimana dengan anak cucu kami. Jadi mereka mulai mencoba sendiri dan berhasil lalu mereka tanam di wilayah-wilayah yang sudah kosong,” jelas Teguh.

Kearifan lokal masyarakat adat setempat tambah Teguh Surya ikut merawat lestarinya hutan.  “Mereka menebang itu tidka serampangan, mereka menebang itu sesuai kebutuhan. Dan aturannya, kalau gaharu dipanen itu kan mati ya. Dia tidak boleh memanen itu sebelum ada anakan. Tapi ia kalau mau menebang lihat-lihat dulu sudah ada anakan atau belum. Dia tidak ditebang, tapi diekstrak ya. kalau gaharu kan getahnya bagian dalamnya. Kalau kulit Mahosi bagian kulitnya, tapi abis itu mati. Makanya mereka kalau panen kalau ada anakan. Tapi sayangnya kalau mereka jual kan ke pengepul di Nabire, mereka jual murah. Rp 30.000,- per kilo, padahal harganya mahal sekali. Jadi pertama menurut kami itu akses informasi yang kurang di sana,” imbuhnya.

Sebagai kapal penelitian, Rainbow Warrior III bisa mengangkut peralatan hingga 8 ton.  Penelitian  guna mengetahui apa yang sebenarnya sedang menimpa planet Bumi.

Segudang pengalaman menarik yang dialami para awak kapal selama berlayar ke perairan Papua
.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17