Choiriah Triliani, Mengurangi Sampah dengan Sedotan Bambu

Gusar dengan sampah plastik bernama sedotan, Choiriah putar akal untuk menguranginya. Ia lantas melihat sekeliling. Dan, mendapat ilham dari rimbun bambu yang tumbuh subur di Desa Rasau, Pontianak.

Sedotan bambu ala Pipet Kite yang digagas Choiriah Triliani bersama anak-anak muda dan ibu-ibu di Pontianak. (Foto: KBR/ Taufik H)

Jumat, 14 Juni 2019

Sedotan, sudah jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Saking biasanya, Divers Clean Action mencatat, orang Indonesia memakai lebih 90 juta sedotan per hari!

Pipet Kite menawarkan alternatif sedotan yang ramah lingkungan. Jurnalis KBR, Dian Kurniati bertemu penggagasnya di Pontianak, Kalimantan Barat.


- Choiriah Triliani, Mengurai Sampah dengan Sedotan Bambu

[AUDIO CHOIRIAH NGOBROL DENGAN IBU-IBU PENGRAJIN]

Choiriah Triliani, perempuan berusia 23 tahun ini, resah soal sampah plastik bernama sedotan. 

CHOIRIAH: Sedotan itu kan hal kecil ya, sehari-hari kita pakai. Kita mau orang sadar, kalau dari hal kecil itu mereka bisa membuat dampak untuk pengurangan sampah plastik.

Ia lantas melakukan survei kecil-kecilan. Bertanya kepada 100 orang yang rata-rata menjawab pakai 10 sedotan per minggu. 

CHOIRIAH: Kami mau meningkatkan kesadaran masyarakat kalau tidak hanya kantong plastik yang berbahaya, tapi sedotan juga. Salah satu contohnya, ada kura-kura yang hidungnya kemasukan sedotan itu.

Qori melihat ke sekelilingnya dan menemukan alternatif lain: bambu.

CHOIRIAH: Kalau orang berpikir kan kadang bisa pakai stainless, kenapa enggak? Kalau stainless kalau dibuang juga kan menjadi sampah, walaupun bisa di-recycle. Tapi kalau sedotan bambu, kan eco-fiendly. Jadi kalau dia sudah enggak dipakai, enggak bakal mencemari lingkungan.

[AUDIO DERU KENDARAAN]

Qori dan kawannya, Feliani, mengajak saya ke Desa Rasau Jaya III di Kabupaten Kubu Raya. Sekitar setengah jam berkendara dari Pontianak.

Di sana, bambu tumbuh subur.

[AUDIO SUARA OBROLAN IBU-IBU]

Qori dan teman-temannya menggerakkan ibu-ibu desa untuk membuat sedotan bambu.

CHOIRIAH: Awalnya enggak mudah, kita datang ke arisan ibu-ibunya, kita sambil menjelaskan, kasih workshop, pelatihan.


Anak-anak muda yang tergabung dalam Pipet Kite di Pontianak. (Foto: KBR/ Taufik Hidayat)

Salah satunya Sri Maryati, seorang ibu rumah tangga berusia 51 tahun.

[AUDIO LANGKAH KAKI MENGINJAK RANTING BAMBU]

Ia lihai menebang ranting bambu dengan parang. 

Tapi Sri mesti teliti. Tak semua batang bambu bisa diolah jadi sedotan. 

[AUDIO SRI MENEBANG BAMBU]

Yang ia cari adalah batang bambu tua, dengan diameter dua sentimeter dan punya rongga luas di dalamnya. 

SRI: Di sini kan enggak ada kegiatan, bambu juga di sini banyak. Jadi ada pelatihan. (Apakah susah?) Enggak ya. Kita kan orang kampung, biasa cari bambu, cari kayu.

Sri lantas membawa hasil tebasannya untuk dibuat sedotan, bersama-sama. 

[AUDIO IBU-IBU SAAT MENGAMPLAS BAMBU]

Di satu rumah, ada sepuluh ibu yang sudah menunggu. Mereka berbagi tugas. Ada yang memotong bambu. Ada yang mengamplas. Ada yang merebus batang bambu dengan cuka apel. 

Dari sinilah, pada 2017 silam, bermula ide usaha bernama Pipet Kite, yang artinya ‘sedotan kita’.

[AUDIO SAAT IBU-IBU MEMBELAH BAMBU-BAMBU]

Kata Qori, Pipet Kite menerapkan sistem bagi hasil dengan para pengrajinnya. Keuntungan bersih dibagi dua.

"Dengan mereka menggunakan sedotan Pipet Kite ini, mereka enggak hanya berkontribusi mengurangi dampak sedotan plastik, tapi juga membantu meningkatkan ekonomi kreatif ibu-ibu yang ada di desa di Kalimantan Barat ini,"

- ungkap Choiriah.

Ibu-ibu di desa senang karena dapat penghasilan tambahan. 

Sri, misalnya, mendapat tambahan pendapatan 500-800 ribu per bulan.

SRI: Oh, lumayan sekali. Harganya memang lumayan fantatis ini. Kalau di kampung harga segitu kan mahal. Jadi kita semangat. Mungkin kalau yang order banyak, ibu-ibunya lebih semangat lagi.

[AUDIO DERU KENDARAAN; BERALIH ke SUASANA DI WARUNG KOPI]

Dari Desa Rasau Jaya III, Pipet Kite sampai di sebuah warung kopi di Pontianak. 

[AUDIO GESEKAN DARI TAS]

Adit mengeluarkan kantong berisi dua sedotan bambu Pipet Kite dari tasnya.

ADIT: Karena ini salah satu terobosan baru. Saya kira pipet yang tidak menggunakan plastik hanya besi atau stainless, rupanya ada lagi. Jadi unik. Saya suka sih barang-barang yang tidak membuat lingkungan rusak.


Satu paket sedotan bambu Pipet Kite dalam kantong, serta buku panduan. (Foto: KBR/ Taufik Hidayat)

Pipet Kite dijual seharga 25 ribu Rupiah per paket. Satu kantong kain berisi 2 sedotan bambu, sikat pembersih dan buku panduan. 

Hingga saat ini, lebih 3 ribu batang sedotan bambu Pipet Kite diproduksi ibu-ibu Rasau Jaya.

Pemasaran utamanya lewat Instagram dengan menyasar pembeli individu. Kelak akan menjajaki kerjasama dengan sejumlah kafe di Pontianak. 

Direktur Operasional Pipet Kite, Feliani, melihat ada perubahan kebiasaan di orang-orang sekitarnya. 

FELIANI: Mungkin awalnya memang susah banget. Tetapi setelah proses hampir satu tahun ini, hampir semua di lingkungan saya, beralih ke Pipet Kite. Apalagi sekarang mulai trending gerakaan no straw. Kita bangga bisa mulai lebih awal dari trending yang ada sekarang.