covid-19

Sekolah Kami Dikepung Polusi (bagian 3)

Tapi faktanya asap yang dihasilkan pabrik peleburan baja PT Kramayuda, Wahana Steel, Master Steel dan PT Cakra Steel itu terus menyergap siswa dan warga Rawa Terate.

SAGA

Selasa, 04 Jun 2013 14:23 WIB

Sekolah Kami Dikepung Polusi (bagian 3)

sekolah, cakung, polusi, pabrik, markamah

Bersikap Pasrah

Partikel-partikel debu yang dibawa asap pekat dapat mengganggu kesehatan. Utamanya gangguan pernafasan jelas  Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan DKI Tony Wibowo menuturkan, “Apa saja yang bisa timbul? banyak. Antara lain, secara garis besarnya kita sebutkan penyakit yang berhubungan dengan pernafasan, penyakit mata. Penyakit kulit, juga bisa mengebabkan kangker terantung partikela apa dan seberapa besar ia terpapar. Pada umumnya ia akan menurunkan kekebalan tubuh dan meninmbulkan penyakit-penyakit lain.”

Jika terus menerus terpapar asap, anak-anak  yang bersekolah dan  warga di Rawa Terate dapat terkena kangker paru.Untuk mencegahnya dinas kesehatan menyarankan agar   pihak sekolah Madrasah Ibtidaiyah Istiqomah B mendirikan Unit Kesehatan Sekolah atau UKS.

Setidaknya untuk memberikan protolongan pertama, kembali Tony Wibowo.“Debu jalanan itu kendaraan begitu banyak, mau disuruh berhenti semua di jalanan kan gak mungkin juga. Kita yang justru harus waspada terhadap paparan, pencemaran ini dengan cara yang memungkinkan kita lakukan. Tetapi kita tetap lakukan koordinasi, percaya sama saja kalau tujuannya baik pasti didengar. Tingkatkan UKS, Usaha Kesehatan Sekolah. Itu ada UKS-UKS di sekolah, perbanyak dokter kecil, dokter kecil itu anak-anak yang melaporkan kesehatan teman-temannya. Sehingga dapat dilakukan tindakan cepat jika ada penyakit.”

Sementara itu Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta mengklaim sudah mengingatkan agar perusahaan mengatur limbah atau polusi asap yang dihasilkan, kata Kasubid Pencemaran Sumber Kegiatan BPLHD Rina Suryani.

“Dimana untuk pengendalian pencemaran udara, khusus untuk sumber tidak bergerak, artinya disini untuk cerobong. Itu untuk setiap kegiatan usaha, wajib melakukan pengeloalaan emisi yang dikeluarkan dari cerobongnya. Hal yang dilakukan yang pasti, pertama melakukan alat penegndali udara di dalam kegiatan proses produksinya. Kemudian yang kedua, meningkatkan sarana teknis cerobong. Dan yang ketiga melakukan pengukuran emisi sevara teratur. Artinay setiap enam bulan sekai mereka harus ukur.”

Tapi faktanya  asap  yang dihasilkan  pabrik peleburan baja  PT Kramayuda, Wahana Steel, Master Steel  dan PT Cakra Steel  itu terus  menyergap siswa dan warga Rawa Terate. Rina Suryani mengaku BPLHD tak kuasa mencegahnya.  

“Sekitar cerobong itu sekitar 30 derajatnya itu tidak boleh ada halangan. Tapi memang untuk wilayah Jakarta karena sangat padat sekali, susah untuk memenuhi hal tersebut. Dan ini sudah coba untuk kita komunikasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Kerana cerobongnya sudah ditinggikan, ternyata kemudian disebelahnya muncul lagi bangunan tetangganya lebih tinggi lagi. Hal-hal yang seperti itu mau tidak mau yang terjadi di Jakarta. Jadi dari sisi yang intinya kita menekankan untuk ketinggian cerobong susah untuk diterapkan. Mereka awalnya sudah sesuai, tetapi muncul perusahaan kemudian meinggikan lagi gedungnya, sehingga sepertinya cerobongnya tengelam.”

Saat diminta tanggapannya salah satu perusahaan baja, PT Cakra Steel belum bersedia berkomentar.Sementara pengelola sekolah Madrasah Ibtidaiyah Istiqomah B, Markamah mengaku tak bisa berbuat banyak menghadapi pencemaran udara dari pabrik. Mereka terkesan pasrah.

“Ya komentar bagaimana, kita mau komentar sama siapa? Kan gitu, kalau kita demo ke perusahaan kan tambah....bukannya tambah menghasilkan yang bagus tapi nanti malah lain kan. Makanya ya udah kita terima aja deh. Kalau keadaan tidak memungkinkan ya udh dibubarin, pulang dulu,”

Siswa seperti Agustine dan Nanang sangat bersyukur jika mereka bisa bersekolah dengan nyaman tanpa gangguan kesehatan. “Terus juga ya tentramlah, belajarnya gak terganggu. Kalau bebas dari polusi berarti pindahin pabrik? Hahaha, bingung. Kepikiran pindah dari sekolah ini? Gak ada, gak ada. Enak.”

Asa  serupa disampaikan Markamah. “Ya kalau harapan kita sih, sekolah lebih nyaman. Anak-anak belajar bisa tenang, gitu aja. Apalagi kalau pas ngebul.”

Editor: Taufik Wijaya

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Fasilitas Jalan Aman di Indonesia

Menyorot Klaster Covid-19 pada Pembelajaran Tatap Muka

Kabar Baru Jam 10