Sekolah Kami Dikepung Polusi

Maklum saja lokasi sekolah ini dikepung oleh cerobong-cerobong asap dari pabrik peleburan baja. Ada empat perusahaan di sana

SAGA

Selasa, 04 Jun 2013 14:32 WIB

Author

Novaeny Wulandari

Sekolah Kami Dikepung Polusi

sekolah, cakung, polusi, pabrik, markamah

KBR68H - Bagaimana rasanya bersekolah di tengah ancaman asap hitam  pekat dan partikel debu yang berterbangan? Tentu tak nyaman dan mengganggu kesehatan. Situasi itulah yang dihadapi siswa dan guru  Madrasah Ibtidaiyah Yayasan Istiqomah B di Cakung, Jakarta. KBR68H berkunjung ke sekolah itu berbincang dengan siswa dan pengelola sekolah. Mengapa mereka tetap bertahan di sana?

Kendaraan seperti truk hilir mudik di Jalan Kramayudha Cakung, Jakarta Timur. KBR68H menelusuri jalan raya beraspal itu hingga jalan bebatuan yang menyempit. Di sana berdiri perkampungan yang dikelilingi tembok-tembok besar pabrik. Nama perkampungan itu Kampung Sawah.

Saat disambangi anak-anak yang semula ramai bermain di halaman sekolah, satu persatu masuk kelas.Sekolah ini persisnya terletak di ujung gang perkampungan itu.  Papan nama sekolah  Madrasah Ibtidaiyah Istiqomah B  nyaris tak terlihat. Maklum saja lokasi sekolah ini dikepung oleh cerobong-cerobong asap dari pabrik peleburan baja. Ada empat perusahaan di sana   PT Kramayuda, Wahana Steel,  Master Steel  dan PT Cakra Steel.

Sekolah dua lantai ini dibangun atas bantuan dermawan sejak 1987 silam. Awalnya  kata  Kepala Sekolah sekaligus guru di sana  Markamah,  sekolah yang dipimpinnya hanya melaksanakan program pengentasan buta huruf  dari dinas sosial  setempat.  Atas permintaan warga sekitar, program pendidikan di madrasah itu diperluas laiknya sekolah pada umumnya.

“Bukan sekolah formal, bukan SD, bukan MI, bukan. Jadi kita awal mulanya ada sekolah ini itu melihat di daerah ini banyak anak usia sekolah tapi mereka tak sekolah. Karena jauh kan dari sekolah, lalu untuk aktfitas belajar mengajar tidak pake bangu, pakai tikar. Terus dari pemerintah Depsos khususnya ngasih bangku, tapi bangkunya tak untuk seluruh siswa. Kita cuma dapat bangku untuk 20 siswa, jadi Cuma dapat 10 bangku kan. Padahal siswanya ada 40 sampai 50an. Itu aja ruangan Cuma 2 x 3, jadi kan gantian,” terang Marmakah. 

Madrasah Ibtidaiyah Yayasan Istiqomah B hanya memiliki dua  ruang kelas. Akibatnya saat belajar-mengajar siswa kelas 1, 2, dan 3 digabung. Demikian pula dengan siswa kelas 4, 5, dan 6 yang mesti belajar bersama-sama.  Kembali Kepala Sekolah, Markamah. “Pelajarannya diambil yang dira-kira bisa sama. Matematika misalnya, ya matematika dua-duanya. Jadi yang ini ngerti yang itu juga ngerti. Kemarin kan PR matematika, tidak selesai karena saya ada kegiatan. Ya sudah kita selesaikan besok, karena anak-anak maunya tuntas.” Imbuhnya.

Meski demikian,  kerterbatasan tak membuat semangat Markamah  dan 4 guru di sana surut mengajar  anak-anak yang  tinggal di kawasaan Rawa Terate tersebut.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kesiapan Mental sebelum Memutuskan Menikah

Kabar Baru Jam 8

Setahun Pandemi dan Masalah "Pandemic Fatigue"

Kabar Baru Jam 10