Nasib Rumah Sang Gubernur

Menurut perempuan 74 tahun ini, rumahnya sudah tak layak huni. Saat ditengok, atap rumah bagian belakang sudah banyak yang bocor, bolong tanpa genteng. Dinding rumah sudah keropos.

SAGA

Senin, 03 Jun 2013 17:50 WIB

Author

Evilin Falanta

Nasib Rumah Sang Gubernur

Henk Ngantung, Jakarta, Gubernur DKI, Cagar Budaya, Rumah

KBR68H - Keluarga Henk Ngantung mengusulkan kepada  Pemprov DKI agar rumah  bekas Gubernur DKI Jakarta ini dijadikan cagar budaya. Langkah ini menyusul keterbatasan ekonomi keluarga memperbaiki rumah bersejarah itu. Bangunan berusia lebih dari empat puluh tahun tersebut  hanya dihuni istri Henk Ngantung yang sepuh.Ia hidup dari uang pensiun kurang dari satu juta rupiah saban bulannya.

Rumah yang berada di ujung  Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur  seperti tak berpenghuni. Kalaupun terdengar keramaian sumbernya bukan dari bangunan tua tersebut. Tapi dari aktivitas belajar  sekolah taman kanak-kanak yang letaknya berdampingan.

Hetty Evelyn Ngantung Mamesha  pemilik rumah itu. Ia adalah istri dari  bekas Gubernur DKI Jakarta mendiang Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau akrab disapa Henk Ngantung.  “Ini rumah sesudah Pak Henk tidak jadi apa-apa (setelah menjabat Gubernur DKI-red), karena beliau pensiun tahun 1965. Jadi kita tinggal  di gang paling ujung dekat kali lagi,” jelasnya. 

Rumah itu dibeli keluarga Henk tahun 1971 seharga Rp 5,5 juta. Sebelum tinggal di Gang Jambu, Henk sekeluarga bermukim di Jalan Tanah Abang II, Jakarta Pusat. Mereka terpaksa pindah ke pinggir Jakarta karena keterbatasan dana setelah Henk tidak lagi menjabat gubernur.

Menurut perempuan  74 tahun ini, rumahnya sudah tak layak huni. Saat ditengok, atap rumah bagian belakang sudah banyak yang bocor, bolong tanpa genteng. Dinding rumah sudah keropos.

Di rumah ini Evie tinggal sendiri. Semenjak suaminya wafat 21 tahun silam, ia harus berjuang membesarkan empat orang anaknya. Setelah dewasa dan menikah keempat anaknya masing-masing tinggal di Bali, Semarang dan Belanda. Meski jauh, sesekali anaknya menjenguk dan mengirimkan uang kepada sang bunda.   

“Saya hidup tentunya dari pensiun Pak Henk.Kalau Pak Henk pensiun RP 1.600.000 sekianlah ya, tapi semenjak Pak Henk meninggal saya hanya terima Rp 830 ribu, dan tiap bulan uang pensiun saya dipotong sampai akhirnya tinggal Rp 160 ribu,” akunya.

Tentu dengan mengandalkan uang pensiun sebesar itu,  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Jakarta.

Agar bisa bertahan hidup, Evie terpaksa menjual lukisan  suaminya kepada kerabat, pengusaha atau pejabat.
http://www.portalkbr.com/berita/saga/2662508_4216.html

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18