Menjaga Telinga Hati dari Tuli (Bagian 4)

Banyak cara untuk mengetahui batas kebisingan yang aman. Salah satunya dengan menggunakan alat ukur

SAGA

Selasa, 04 Jun 2013 15:35 WIB

Author

Ade Irmansyah

Menjaga Telinga Hati dari Tuli (Bagian 4)

Telinga Hati, Tuli, Jakarta, Atieq SS Listyowati, Bising

Penyebab Tuli

Damayanti menuturkan beberapa penyebab tuli.  “Kotoran, tingkat kebisingan, conge. Kemudian tuli pada orang tua karena proses alami. Kemudian bayi-bayi yang lahir tuli. Nah bayi-bayi yang lahir tuli, ibunya harus dikasih edukasi jadi kalau lagi hamil pada trimester pertama itu jangan minum obat-obatan yang bisa merusak organ pendengaran si janin. Obat itu misalnya obat TBC, itu bisa merusak”

Namun sebagian masyarakat masih meremehkan masalah ini.  “Nah itu kalau akibat bising, yang anak-anak remaja mendengar ipod kemudian balita yang ketempat bermain yang bising itu, itu permanen dan gak  bisa disembuhkan. Yang bisa disembuhkan itu kalau dia conge, dan bayi-bayi lahir tuli itu dia itu permanen ya tapi bisa dengan beri edukasi kepada ibu hamil”

Lantas seperti apa batasan suara yang aman untuk telinga? Kembali Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian, Damayanti Soetjipto. “Kalau misalnya bunyi angin bisik-bisik itu sekitar 5 decible, kalau kita berbicara itu kira-kira 50 sampai 60 decible. Yang 80 decible itu ya gini aja misalnya kalau anda dengerin radio dengan valume maksimal lalu dikembalikan sampai 60 persen. Nah kalau 80 decible itu tingkat aman pendengaran manusia dan bisa selama 24 jam mendengarkannya”

Banyak cara untuk mengetahui batas kebisingan yang aman. Salah satunya dengan menggunakan alat ukur “Kita ada alat namanya sound level meter. Atau bisa juga kalau punya android itu ada aplikasinya yang namanya noise meter. Jadi cara kerjanya misalnya kita teriak gitu, ntar langsung ketauan berapa tingkat kebisingannya. Kalau 97 decible yang cuma boleh 30 menit. Saya sarankan buat remaja-remaja buat mendownload yah yang punya android itu gratis. Itu bisa menjadi parameter bagi kita untuk mengukur kebisingan”

Damayanti dan kawan-kawan di Komnas PGPKT menyesalkan peran  pemerintah yang dinilai  belum optimal mengatasi masalah ini.  “Sudah melaporkan ke Kementerian Kesehatan, tapi mungkin ada hal-hal lain yang dianggap pemerintah lebih penting yah. Misalnya mungkin orang-orang yang kelihatan cacatnya, padahal sebenernya gangguan pendengaran ini kalau misalnya ditolong itu mereka bisa menjadi warga negara yang potensial. SDM yang betul-betul bagus. Karena mungkin pemerintah juga kurang tersosialisasi”

Persoalan gangguan pendengaran akibat suara bising,  tentu bukan jadi tanggung jawab komisi atau Kementerian Kesehatan semata. Perlu dukungan masyarakat untuk ikut aktif  menurunkan angka ketulian sebesar 50%  hingga dua tahun mendatang.

Editor: Taufik Wijaya

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kapten Barcelona Lionel Messi Lampaui Rekor Cristiano Ronaldo

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17