Menjaga Telinga Hati dari Tuli (bagian 3)

Lembaga yang berdiri empat tahun silam ini diberi mandat mengatasi tingginya angka gangguan pendengaran dan tuli di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia

SAGA

Selasa, 04 Jun 2013 15:43 WIB

Author

Ade Irmansyah

Menjaga Telinga Hati dari Tuli (bagian 3)

Telinga Hati, Tuli, Jakarta, Atieq SS Listyowati, Bising

Indonesia Peringkat Empat Dunia

“Bagaimana pendapat mas Aldi soal kebisingan di jalan sekarang-sekarang ini mas ? ya gimana ya, berisik banget sih. Kesel malah kadang-kadang. Apalagi sama suara bajaj, udah berisik, asepnya banyak. Motor-motor yang knalpotnya udah ga standar juga tuh suaranya berisik banget. Apa yang mas lakuin kalo udah ada ditengah-tengah kondisi kaya gitu ? ya mau gimana lagi, pasrah aja. Kalau mas Faisal gimana ? ya sama aja, berisik banget, bikin pusing. Trus apa yang dilakuin ? kalo sempet dan lagi berisik banget ya tutup kuping aja.” 

Itu tadi pendapat tiga warga Jakarta tentang suara yang sangat bising dan upaya pencegahan yang mereka lakukan.  Persoalan ini sebenarnya telah menjadi perhatian  Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) yang dibentuk  Departemen Kesehatan.

Lembaga yang berdiri empat tahun  silam ini diberi mandat mengatasi tingginya angka gangguan pendengaran dan tuli di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Ketua Komnas PGPKT, Damayanti Soetjipto menuturkan,“WHO menyebutkan bahwa penduduk dunia yang terkena gangguan pendengaran itu 360 juta yah, gradasinya sedang dan berat. Itu 50 persennya ada di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pernah data-datanya dikumpulkan Indonesia itu nomor 4 setelah Myanmar, Bangladesh dan India. Kita juga punya survei nasional itu cukup tinggi angka-angkanya.”

Data ini dilansir organisasi kesehatan dunia, WHO pada 2012 lalu. Lantas seperti apa hasil penelitian komisi itu? Kembali Damayanti menjelaskan, “Banyak tempat publik yang tidak aman. Itu sebetulnya yang harus melindungi pemerintah jadi kita memberi masukan ke Kementerian Kesehatan. Kita sudah mengukur di 16 kota besar. Jangan kira di Sorong itu tinggi 96 decible, di Banjarmasin itu apa lagi. Kalau pemerintah tidak turun tangan, itu sebenernya mereka itu hanya tinggal volumenya dikurangi saja.”

Komnas PGPKT mengaku telah melakukan berbagai program pencegahan dampak buruk suara bising. “Kegiatan sehari-hari kita adalah memberikan awarnes kepada masyarakat luas terutama pada yang populasi beresiko tinggi. Para pemusik kemudian anak-anak yang sering pakai Ipod, kemudian pekerja-pekerja yang ga mau pakai alat pelindung telinga,” paparnya.

Termasuk pengobatan gratis. “Memberikan bakti sosial untuk membersihkan kotoran telinga pada anak-anak SD, karena kotoran telinga anak SD itu besar sekali bisa mencapai 50 persen. Setelah dibersihkan mereka bisa mendengar lebih baik dan jadinya lebih cerdas dan gak minder lagi. Sekarang kita prioritaskan SMK, karena mereka bengkel tempat latihannya itu bisa mencapai 100 decible, itukan bahaya yah, jadi mereka harus pake ear mup. Kalau 100 decible itu Cuma bole 15 menit. Sedangkan mereka bisa sampai 4 jam lebih tanpa penutup telinga. Itu bisa tuli, kasian kan jadi nyari kerja juga susah.”

Kotoran yang ada dalam telinga salah satu penyebab tuli. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11