Menjaga Telinga Hati dari Tuli

Para aktivis kesehatan telah menetapkan Hari Bebas Bising Sedunia diperingati setiap 28 April. Lewat aksi ini diharapkan masyarakat makin sadar dengan ancaman tuli akibat bunyi yang memekakan telinga.

SAGA

Selasa, 04 Jun 2013 15:44 WIB

Author

Ade Irmansyah

Menjaga Telinga Hati dari Tuli

Telinga Hati, Tuli, Jakarta, Atieq SS Listyowati, Bising

KBR68H - Indonesia menempati peringkat keempat di dunia sebagai negara dengan tingkat penderita gangguan pendengaran tertinggi. Salah satu penyebabnya akibat suara bising. Atas dasar itu Komunitas Telinga Hati menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat indra pendengaran.

Pagi itu, sekelompok orang tengah menggelar aksi demonstrasi di sekitar air mancur Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Uniknya aksi damai itu tidak disertai orasi dengan alat pengeras suara  lazimnya unjuk rasa. 

Mereka sekadar membagikan selebaran sambil membunyikan lonceng kecil kepada pengguna jalan yang melintas. Para pengunjukrasa berasal dari Komunitas Telinga Hati. Kelompok yang  peduli pentingnya merawat indra pendengaran.

Koordinator aksi sekaligus Ketua Komunitas Telinga Hati,Atieq SS Listyowati, menjelaskan tujuan unjuk rasa. “Untuk memperingati Hari Bebas Bising Sedunia, jadi International Noise Awarnes Day. Jadi kita inginnya sadar bising. Yang memfasilitasi adalah Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran Dan Ketulian. Kita mengacu dari konsep WHO, Sound Hiring 2030.”

Para aktivis kesehatan telah  menetapkan Hari Bebas Bising Sedunia diperingati setiap 28 April. Lewat aksi ini diharapkan masyarakat makin sadar dengan ancaman tuli akibat bunyi yang memekakan telinga.   “Yang perlu diketahui bahwa Indonesia kan peringkat keempat yah negara yang paling mendapatkan banyak menderita ketulian. Jadi kita inginnya diminimalisir dan kita tidak diperingkat tinggi, tapi diperingkat rendah. Semoga dengan kesadaran ini membuat masyarakat Indonesia menjadi aware terhadap minimal dengan dirinya sendiri itu dan pemerintah jadi sinergis dengan seluruh lapisan institusi dan pihak-pihak yang terkaitnya”

Menurut Atieq bunyi lonceng kecil yang dibawa para pengunjuk rasa sebagai simbol suara atau bunyi yang dinilai  aman untuk kesehatan kuping.  “Ya kegiatannya sederhana saja, semoga dengan kesederhanaan itu bisa mencapai banyak kesadaran ya. Jadi kita membunyikan kelincingan ini sebagi kesepakatan dunia. Kelincingan ini adalah bentuk suara yang ramah lingkungan dan tidak mengandung polusi suara gitu. Jadi seperti ini lah, jadi sekitar 60 Decible itu sudah aman. Kalau lebih dari 80 itu mungkin klason mobil. Ini marupakan simbol tinggkat kebisingan yang aman”

Demonstrasi yang digelar Komunitas Telinga Hati diikuti puluhan peserta dari berbagai usia dan kalangan.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18