covid-19

Jejak Peretas di Dunia Maya

Lembaga Pengawas Internet Security Incident Response Team On Internet Infrastructure atau ID SIRTII menyebut, terjadi peningkatan aktivitas peretes terhadap beragam situs internet di Indonesia

SAGA

Rabu, 12 Jun 2013 16:09 WIB

Author

Dimas Rizki

Jejak Peretas di Dunia Maya

peretas, hacker, Angga, Jakarta, internet

KBR68H - Pekan lalu hacker atau peretas situs pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wildan Yani Ashari, dituntut hukuman  10 bulan penjara. Kasus yang menjerat pemuda asal Jember, Jawa Timur ini mengundang kecaman dari kalangan peretas internasional yang menamakan diri “Anonymous”. Lewat akun Twitter,  mereka menyatakan “tidak ada yang bisa menahan ide” seraya mengklaim telah meretas situs-situs pemerintahan sebagai bentuk protes.  Tak selamanya peretas punya jejak buruk di dunia maya. Seperti kisah peretas berikut.

Pengalaman buruk  dialami Martin Sinaga. Blog atau catatan pribadinya di internet berhasil di-“acak-acak” orang lain.  “Ini baru saja dihack. Gak tahu siapa yang ngehack. Orang iseng doang kali. Blog saya jadi gak bisa dibuka gini. Sebenarnya ingin menambah artikel. Tapi gak bisa. Saat mau buka  blog saja sudah diblokir,” katanya.

Istilah hack yang dimaksud adalah aktivitas hacker atau  peretas merusak dan mencuri data di sebuah sistem internet. Aktivitas di dunia maya ini  bisa terjadi di akun pribadi media sosial seperti blog, facebook dan twitter. Atau bisa juga terjadi pada laman milik pribadi, perusahaan maupun pemerintah.

Lembaga Pengawas Internet Security Incident Response Team On Internet Infrastructure atau  ID SIRTII menyebut, terjadi peningkatan aktivitas  peretes terhadap beragam situs internet di Indonesia. Bahkan Ketua ID SIRTII Rudi Lumanto mengatakan, April lalu jumlah kasus meningkat tiga kali lipat dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu. “Jadi kita lihat total perbulan ya, untuk bulan April lalu, kita hampir menerima serangan hampir 10 juta. Di bulan yang sama untuk tahun lalu itu hanya  3,4 juta. Jadi ada peningkatan tiga kali lipat untuk tahun ini.”

Rudi  mengakui banyak situs milik pemerintah yang berhasil diretas. Pelaku biasanya punya motif  beragam. “Ini tergantung motivasi ya. Ada kalanya hacker ini mencari target yang dapat meningkatkan prestasi dia dikalangan hacker. Meretas go.id (milik pemerintah-red) ini kan sebuah prestasi sendiri ya. Kedua karena iseng. Dan memang yang go.id ini tidak dibuat dengan system keamanan yang bagus,” jelasnya. 

Salah satu situs internet yang belum lama diretas adalah milik Kepolisian Indonesia. Peretas mengganti laman depan  www.polri.go.id dengan tulisan “Hacked by Larcenciels feat WeNNex.” Di bawahnya terdapat keterangan dalam bahasa Inggris yang menerangkan laman tersebut berhasil diretas.

Selanjutnya si pelaku berkeluh soal tingginya hukuman yang diterima para peretas yaitu enam tahun penjara. Sementara, anak seorang menteri yang menabrak mobil dan menewaskan penumpangnya, hanya dijatuhi setahun penjara. Ini merujuk kepada kasus yang membelit anak Menteri Koordinator Prekonomian Hatta Rajasa beberapa waktu lalu.

Akibatnya situs internet milik lembaga penegak hukum tersebut tak berfungsi selama sepekan.  Kapolri Timur Pradopo pun berang. “Apa yang menjadi langkah-langkah sekarang ini akan dioptimalkan lagi. Seperti bagaimana kerjasama dengan ahli IT agar tidak diganggu itu bagaimana. Saya kira ini kan system, ini kan bagian dari system. Jadi yang lain tetap berjalan.”

Seorang peretas asal Jember, Jawa Timur dituntut 10 bulan penjara akibat ulahnya. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7