Perempuan dalam Pusaran Industri Rokok

Indonesia sedianya menikmati “bonus demografi” pada 2030 nanti. Tapi bisakah dinikmati, jika prevelansi perokok anak masih tinggi, sementara jumlah perokok dewasa--termasuk perempuan, terus naik?

Jumat, 31 Mei 2019

Indonesia sedianya menikmati masa “bonus demografi” pada 2030 mendatang. Artinya, jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang usia tidak produktif seperti anak dan lansia. Iming-imingnya tentu saja ekonomi kita terus menguat.

Tapi "bonus demografi" bisa sia-sia jika penduduk usia produktifnya tak sehat. Prevalensi perokok anak masih tinggi. Sementara jumlah perokok dewasa, termasuk perempuan, terus naik.

Jurnalis KBR Sindu Dharmawan menelusuri soal ini selengkapnya.


- Perempuan dalam Pusaran Industri Rokok

Dilla, salah satu perkok perempuan ditemui di sebuah taman. (Foto: KBR/ Taufik H)

[AUDIO GESEKAN SUARA TAS SAAT MENCARI ROKOK]

Syadza Dilla membuka ransel dan mengeluarkan dua bungkus rokok mild – diklaim rendah tar dan nikotin. 

[AUDIO TAS DIBONGKAR UNTUK CARI ROKOK]

Satu bungkus rokok berisi 16 batang bisa dihabiskan dalam 2 hari. 

DILLA: Lebih ringan. Terus enak. Dia mentol gitu. Tapi, cons-nya dia adalah rokok putih. Cepat habis. Balapan sama angin. Gitu.

Konsumsi bisa lebih banyak kalau sedang nongkrong bersama teman atau mengerjakan tugas. 

DILLA: Kalau yang ini… ini lucu banget. Dia rasa semangka, terus ada varian lainnya juga rasa lemon. Cuma, aku enggak terlalu masuk ini, karena enek. Ini kayak rokok recreational. Jadi, ngerokok ini sehari sekali sebatang. Aku enggak kuat banyak-banyak, karena enek.

Cerita itu disampaikannya di sebuah taman di salah satu kampus kawasan Depok, Jawa Barat.

Dilla berusia 22 tahun, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus di Depok, Jawa Barat. 

Ia merokok sejak SMA. Orangtuanya tahu, tapi sebatas mengingatkan supaya ia tak merokok terlalu banyak. 

DILLA: Kalau kenal ya dari teman. Gara-gara teman ngerokok segala macam gitu sih. Cuma, baru…kayak itu first encounter sama rokok gitu, enggak cuma lihat kayak di tivi atau di majalah doang kayak gitu sih.

Dilla paham betul risiko merokok terhadap kesehatan. 

Tapi ia belum ingin berhenti. 

DILLA: Gue merasa bisa me-maintain gaya hidup gue gitu loh. Itu kan banyak orang bilang rokok enggak sehat, rokok enggak sehat…tapi sendirinya kayak masih olahraga enggak, sering makan junk food. Kayak gitu-gitu. Terus sering stres. Menurut gue, lu sama gue enggak ada bedanya. Bedanya lo enggak sehat dengan cara lu sendiri, gue enggak sehat dengan cara gue sendiri. Sudah!

Dilla pernah juga menulis tugas kuliah soal keterlibatan perempuan dalam iklan rokok. 

DILLA: Perempuan juga bakal jadi target market. Kenapa, karena karena banyak perempuan yang merasa mereka butuh untuk menjadi maskulin…kan sekarang lagi zaman-zamannya feminisme, ya. Mereka merasa, mereka butuh jadi maskulin untuk dapat setara dengan laki-laki.


Ketua Gaprindo, Muhaimim Moeftie saat melayani wawancara KBR. (Foto: KBR/ Taufik H)

[AUDIO OBROLAN DI RUANGAN KETUA GAPRINDO]

Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia, Gaprindo, tak serta merta mengiyakan.

Ketua Gaprindo, Muhaimin Moeftie. 

MUHAIMIN: Ya, itu sesuatu yang alamiah ya. Artinya tidak harus didorong oleh perusahaan. Alamiah, perempuan sudah menganggap, perempuan yang tadinya menganggap bahwa merokok tidak baik..mereka mulai melihat bahwa, oh ada masalah pengaruh dari luar. Atau dia merasa bahwa saya lebih punya hak sama dengan laki-laki. Nah, itu yang membuat mereka mulai merokok.

Salah satu anggota Gaprindo adalah British American Tobacco, BAT, lewat anak perusahaannya. 

[AUDIO ORANG MEMBUKA LEMBARAN BERKAS]

Laporan Badan Kesehatan Dunia WHO tentang perempuan dan epidemi tembakau tahun 2001 mencantumkan dokumen strategi pemasaran BAT. 

Dokumen bernomor AQ1121 itu secara khusus menulis strategi mengubah sasaran dari laki-laki ke perempuan.

Perokok laki-laki digambarkan ‘loyal, tapi semakin tua’ sementara perokok perempuan adalah ‘pasar masa depan’.


Direktur Pencegahan Penyakit Kemenkes, Cut Putri saat berbincang dengan jurnalis KBR. (Foto: KBR/ Taufik H)

[AUDIO SUASANA DI RUANGAN DIREKTUR PENCEGAHAN PENYAKIT KEMENKES]

Apa yang dilakukan industri, tercermin pada Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas, dari Kementerian Kesehatan. 

Riskesdas 2018 menunjukkan ada total 60 juta lebih perokok di Indonesia. 

6 juta orang adalah perempuan usia 15-19 tahun --- yaitu sebanyak 4,8 persen. 

Padahal di Riskesdas 2013, prosentase perokok perempuan hanya 3,1 dan di tahun 2007 hanya 1,6 persen. Naik dari tahun ke tahun. 

[AUDIO REPORTER NGOBROL DENGAN DIREKTUR PENCEGAHAN PENYAKIT KEMENKES]

Salah satu cara untuk mengurangi konsumsi adalah mempersulit akses, mulai dari menaikkan cukai rokok sampai memperketat penjualan rokok. 

Direktur Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Cut Putri Arianie. 

CUT PUTRI: Wanita kan kodratnya kan melahirkan. Jadi, sebaiknya untuk menghindari terjadinya kelainan pada bayinya nantinya ya hindarilah rokok itu. Karena salah satu penelitian sudah menunjukkan itu. Nah, akibat dari rokok juga selain ibunya tidak sehat, nanti juga akan berdampak pada janin. Jadi, ini ada korelasi kesehatan nanti yang akan ditimbulkan.

Rokok membawa dampak buruk bagi kesehatan; dan efeknya lebih besar untuk perempuan. 

Penelitian di Amerika Serikat menyebut, perempuan perokok berpeluang dua kali lipat mengidap kanker paru. 

Sebab tubuh perempuan punya reaksi beda terhadap karsinogen, atau zat penyebab kanker, yang ada pada rokok. Zat yang sudah masuk pun tak bisa keluar lewat urin. 

Tanpa langkah yang signifikan, maka lupakan saja cita-cita menikmati bonus demografi. 

CUT PUTRI: Bonus demografi di mana generasi penerusnya, generasi yang berkualitas. Nah, pada saat ini mereka sudah terpapar misalnya dengan perilaku tidak sehat, merokok dan lainnya. Tentu itu akan sangat merugikan bangsa ini nantinya ke depan.


Puan Muda saat sedang deklarasi. (Foto: KBR/ Sindu D)

[ATMOS PUAN MUDA DEKLARASI 4 HAL SOAL ROKOK; IRINGAN MUSIK AKUSTIK]

“Tiga, melibatkan anak muda dan perempuan dalam perencanaan kesehatan dan pembangunan. Jangan takut, jangan gamang, kali ini pemerintah tidak akan kami biarkan sendiri. Kami semua siap menemani bersama memperjuangkan bumi pertiwi …”

[AUDIO AKUSTIK PENGIRING]

15 perempuan muda yang menamakan diri "Puan Muda" bertekad membalik situasi, supaya terbebas dari jeratan industri rokok. 

[AUDIO ORASI PUAN MUDA]

".... Kami tidak ingin sajak Indonesia emas 2045 hanya menjadi diksi ilmiah pemerintah saja."