Menjaga Perisai Pamungkas Pesisir Manado

Khawatir dengan menyusutnya luasan mangrove, sekelompok warga di Bahowo berupaya menjaga benteng alam terakhir di pesisir Manado.

Kawasan Mangrove Bahowo di Pesisir Manado. (KBR/ Zulkifli)

Senin, 20 Mei 2019

Manado, kini tak seindah dulu.

Bentang garis pantai sepanjang 18 kilometer tampak gersang. Reklamasi pantai berlangsung sejak tahun 1998 dan 60% hutan mangrove telah hilang.

Tapi ada harapan baru lewat kelompok Tunas Baru Mangrove Bahowo yang hadir menjaga benteng alam ini.

Jurnalis KBR di Manado, Zulkifli Madina menyusun ceritanya dan dibacakan Sindu Dharmawan.


- Menjaga Perisai Pamungkas Pesisir Manado

Selamat datang di Bahowo, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara.

[AUDIO SUARA OMBAK DI KAWASAN HUTAN BAKAU]

Udara terasa sejuk. 

Ini pagi yang sibuk. Sejumlah warga sibuk menanam bibit mangrove di tepi pantai. 

[AUDIO SUASANA KEGIATAN KELOMPOK TUNAS BARU MENANAM BIBIT MANGROVE]

Novanti Loho adalah Ketua Kelompok Mangrove Tunas Baru Bahowo. 

Ini adalah kelompok dampingan LSM Manengkel Solidaritas. 

Mereka telah mempertahankan 18 hektar lahan mangrove di Tongkaina; dari total 80an hektar di sana. 

NOVANTI: Kami tergerak karena melihat bahwa ternyata mangrove yang ada sangat berguna dalam kehidupan masyarakat, khususnya kami sebagai nelayan yang bertempat tinggal di pesisir pantai.

Sejak 2011, Novanti dan 25 warga lainnya aktif melestarikan alam di pesisir pantai. 

Mangrove akan menghalangi ombak besar yang datang, juga ikut membantu nelayan. 

NOVANTI: Dampak yang paling dirasakan oleh para nelayan yaitu dengan adanya pelestarian mangrove, nelayan merasakan hasil penangkapan ikannya terus meningkat dan pencarian ikan pun hanya tinggal dekat saja.

LSM Manengkel Solidaritas memberi pemahaman bagi warga pesisir untuk ikut melestarikan dan menjaga mangrove. 

Ketua Umum Manengkel Solidaritas Sulut, Sella Runtulalo.

SELLA: Mangrove adalah satu ekosistem pohon yang menyerap karbon terbesar dari pohon lainnya dan jika Manado kekurangan hutan mangrove, ini tidak baik bagi manusia.

"Kami bekerja membantu masyarakat pesisir dalam membangun desa mereka dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan mampu mengembangkan tanpa merusak lingkungan,"

- imbuh Sella.

Warga belajar soal pembibitan mangrove, pembuatan bedeng, sampai pemasaran mangrove.


Pendidikan anak-anak juga terus ditingkatkan, supaya kelak mereka tak tergoda untuk merusak ekosistem mangrove. 

SELLA: Kami juga telah melakukan beberapa pelatihan bagi masyarakat baik pelatihan pembibitan, pelatihan ekowisata, homestay dan tour guide.

[AUDIO KEGIATAN WARGA SAAT MENANAM MANGROVE]

Lambat laun, perekonomian masyarakat pun ikut terdongkrak. 

Novanti Loho sudah ikut upaya pelestarian mangrove ini sejak tahun 2011. 

Bibit mangrove ini dijual, dan hasilnya menguntungkan desa, juga warga. 

NOVANTI: Kalau kami kelompok meningkatkan perekonomian dengan adanya penghasilan penjualan pembibitan. Dan aturan penjualan pembibitan kami 10 persen masuk kas dan 80 persen dibagi kepada masing-masing kelompok.

Upaya pelestarian mangrove ini dibantu juga oleh PT. Tirta Investama Aqua Airmadidi yang sudah memiliki Rencana Besar Konservasi Air dalam Laporan Berkelanjutan 2011-2012. 

Manajer Stakeholder Imanuel Adoeng, menjelaskan.

IMANUEL: Mangrove Bahowo telah diidentifikasi sebagai hutan mangrove terakhir yang ada di pesisir Kota Manado. Sejauh ini mangrove telah tergeser dengan kepentingan pembangunan yang ada. Dan keberadaan mangrove Bahowo juga menjadi benteng yang menjaga taman laut bunaken dari sampah.

Ada 15 keluarga yang dibantu lewat program pelestarian mangrove ini. 

Mulai dari ibu-ibu yang mengembangkan bibit mangrove, sampai anak-anak yang dilatih sebagai pemandu wisata bagi turis yang datang.

[AUDIO OBROLAN WARGA SAAT MENANAM MANGROVE]

Lahan mangrove di sini adalah bagian dari kawasan Taman Nasional Bunaken, seluas 283 hektar.


Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Farianna Prabandasari menjelaskan, edukasi soal pentingnya mangrove perlu terus digalakkan. 

Sebab masih ada saja warga yang menebang mangrove. 

FARIANNA: Di Mantehage sempat kemarin ada penebangan pohon mangrove oleh masyarakat. Karena mereka tidak tahu itu masuk dalam daerah konservasi dan juga mereka belum tahu akan mangrove itu sendiri.

Pelestarian mangrove sudah jadi perhatian khusus Pemerintah Sulawesi Utara. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Marly Gumalag menjelaskan, daerahnya punya misi besar -- Sulawesi Utara sebagai destinasi investasi dan pariwisata yang berwawasan lingkungan. 

Karenanya Dinas mulai menggandeng kelompok lokal pelestari mangrove seperti di Bahowo ini.

Dana dari APBD pun siap dikucurkan untuk mendukung kegiatan di sana. 

MARLY: Kita melakukan edukasi melalui sosialisasi, melalui work shop ataupun bimbingan teknis kepada semua pihak yang terkait untuk menyampaikan pentingnya mangrove bagi kehidupan manusia, serta melakukan aksi penanaman dengan melibatkan publik sector, private sector, voluntary sector, mutual air dan informal sector serta terus melakukan monitoring.

Ini pesan Marly kepada dunia usaha. 

MARLY: Dunia usaha tidak boleh semata hanya mengejar keuntungan atau berkontribusi secara ekonomi atau profit, tetapi juga harus menjaga kelestarian lingkungan dan pencapaian kesejahteraan manusia.

[AUDIO SUARA OMBAK DI KAWASAN HUTAN MANGROVE]

Warga Bahowo, Seblum Salaen, memastikan warga akan terus menjaga mangrove di sini. 

SEBLUM: Dari dulu sampai sekarang masyarakat di sini taat memelihara mangrove karena dengan adanya mangrove dapat melindungi wilayah pesisir pantai.