Jalan Terjal Merajut Toleransi dari Timur Jawa

Karena buka pintu untuk santri yang beragama selain Islam, sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur dilabeli sesat. Para santri dan pengelola pesantren mencoba tak peduli, mereka ajeg menanam kasih.

Papan nama Yayasan Ponpes SPMAA di Lamongan, Jawa Timur. (Foto: KBR/ Dwi Reinjani)

Selasa, 21 Mei 2019

Tak ada formula pasti untuk belajar toleransi.

Tapi ajaran cinta kasih boleh jadi salah satu unsur yang mesti ada dalam sikap saling menghargai.

Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur meyakini itu dan mengkonkretkan lewat pertukaran pelajar lintas-agama. Namun jalan mewujudkannya tak lempang. Pengelola pesantren mesti legowo dicap sesat karena menerima penghuni yang berbeda agama.

Jurnalis KBR Dwi Reinjani berkunjung ke sana dan menulis ceritanya.


- Merajut Toleransi dari Timur Jawa

[AUDIO KEGIATAN DI PESANTREN]

Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah terletak di Desa Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Pesantren ini berada di antara permukiman penduduk, tidak dibatasi pagar. 

Salah satu pimpinan pesantren, Basyirun Adhim bercerita, inti pengajaran di sini adalah kasih sayang. 

ADHIM: Bapak Guru Muhammad Abdullah Muchtar sebagai founding father SPMAA ini, mengajari kami keteladanan bahwa agama Allah apapun agamanya, dari berbagai macam suku bangsa itu, pasti akan bersatu di bawah kasih sayang dan cinta Tuhan.

Tapi untuk itu, pesantren mesti rela dicap sesat dan kafir

ADHIM: Komunitas Muslim sendiri masih melihat kami berbeda, dengan cara pandang yang extreme. Kami dikafir-kafirkan, difatwa sesat, dijauhi bahkan setiap orang yang datang ke kami mesti ditanyai, "kenapa kamu ke pondok itu?"

"Ada satu semester para santri disuruh datang ke masyarakat, itu banyak di sekitar-sekitar yang masih berkata "Oh kamu anu ya santri sesat itu ya, santri pondok kafir." Itu biasa sampai hari ini,"

- imbuh Adhim.

Asal muasalnya adalah program Seduluran, yaitu program pertukaran pelajar lintas agama. 

ADHIM: Program ini diinisiasi dari tingkat SD atau MI, sampai SMA dan juga termasuk santri dari program pesantren. Program ini diantaranya satu, pertukaran pelajar, para santri live in di komunitas agama lain, kemudian pemeluk agama lain juga live in di tempat kami di pesantren dan mengikuti pembelajaran formal.


Siti Ayu Ninti pernah ikut program Seduluran ini. Ia merasa senang karena dapat berinteraksi dengan pemeluk agama lain.

SITI AYU: Pengalaman yang saya dapat, suster-suster ini kan dia itu kan dalam pelajarannya sudah seperti ini, menjalin kasih. Praktik seharusnya sudah ada tapi dia malah belajar ke kami, saya terkesan dan bersyukur bisa ikut belajar bareng suster-suster itu. Seneng karena saling berbagi pengalaman, bisa berinteraksi.

Program Seduluran ini juga diminati biarawati. 

SITI AYU: Dari suster Don Bosco itu ke sini belajar, berbagi ilmu. Kurang lebih di sini hampir satu minggu ikut kegiatan santri. Yang paling khusus dia ingin ikut banget itu tentang merawat lansia. Soalnya suster itu atau orang-orang Kristen itu kan pasti tentang yang dia bahas itu tentang jiwa kasih. Dia mengatakan bahwa ajaran jiwa kasih yang mereka pelajari itu diamalkannya malah di sini gitu, di SPMAA.

[AUDIO KEGIATAN DI PESANTREN]

Pesantren dengan 500-an santri ini menerapkan ilmu cinta kasih yang mereka pelajari lewat berbagai pelayanan sosial kepada masyarakat. 

Pesantren sekaligus jadi tempat tinggal puluhan warga binaan--mulai dari para jompo, perempuan korban kekerasan, anak yatim piatu atau anak dengan ketergantungan narkoba. 

[AUDIO SAAT BERKELILING KE KAWASAN PESANTREN]

Salah satu ruangan di sini adalah ruangan bagi 15 lansia perempuan. Mereka tampak saling akrab. 

Mereka juga tak canggung menggendong balita-balita yang ditinggalkan orangtuanya, sudah dianggap sebagai cucu sendiri. 

Tak semua lansia punya keluarga yang bisa merawat mereka. 

ADHIM: Ya mbah-mbah yang kesepian di rumah. Ini kan diantaranya ada yang… ya biasalah sindrom orang kota, kerja, kerja, kerja akhirnya orangtua itu merasa kesepian. Akhirnya ke sini itu untuk mencari teman mencari teman bicara. Akhirnya mereka punya cucu-cucu seperti itu. Jadi seperti ada siklus miniatur bumi, miniatur dunia.


[AUDIO WARGA BINAAN SEDANG BERCENGKERAMA]

Dengan berbagai pelayanan sosial yang dilakukan pesantren ini, Adhim mengaku pendanaannya tak tentu. 

ADHIM: Seringkali dari tak terduga sumbernya. Ada santri bawa sendiri terus masak di sini, ada tiba-tiba datang orang berkunjung datang terus bawa sesuatu. Makanya menunya itu gonta ganti nggak bisa ditebak.

Adhim tak berharap pesantrennya bakal dapat bantuan dari Pemerintah. 

Tapi ia berharap masyarakat memahami ajaran cinta kasih di pesantren ini. 

ADHIM: Karena Lamongan sejak peristiwa 2002 di Bali itu kami hampir akrab dengan bully dan persekusi. Lamongan itu T (Teroris) ya kamu Am (Amrozi) itu selalu kemana-mana, dan itu mengganggu. 

“T” maksudnya “teroris” dan “Am” adalah singkatan dari “Amrozi”, teroris yang dihukum mati untuk kasus Bom Bali 2002. 

ADHIM: Tapi kemudian justru itu menjadi challenge kami untuk bisa menjelaskan tentang pesantren, tentang Lamongan, tentang Islam. Anggaplah itu bagian dari latihan komunikasi kami, komunikasi lintas budaya bagaimana mengenalkan santri seutuhnya.