[SERIAL] EPISODE 3: Dari Medan Perang

Mirza usianya 15. Sejak lahir pun sudah disesaki doktrin ekstrem dari orangtuanya. Di usia 9 tahun, ia mulai hidup bersama ISIS di Suriah. Ini kisah Mirza yang memutuskan kabur dari jeratan ISIS.

Senin, 06 Mei 2019

Terorisme membawa luka. Itu jelas. Luka kepada warga tak berdosa yang menjadi korban. Juga luka pada keluarga korban pelaku teror yang ditinggalkan.

Termasuk, anak para pelaku aksi terorisme.

Mereka yang hidup, tumbuh serta beberapa diajak orangtua mereka yang jadi pelaku aksi terorisme. Mereka adalah korban. 

KBR menyajikan serial khusus menyoroti anak-anak yang jadi korban terorisme. Demi melindungi para bocah, identitas mereka kami samarkan.

Ikuti Serial "Hidup Usai Teror" episode ke-3: Dari Medan Perang.


PERINGATAN! Seri liputan ini memuat konten yang boleh jadi mengganggu bagi sebagian orang.

- Hidup Usai Teror episode 3 - Dari Medan Perang
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Ilustrasi Dari Medan Perang

MIRZA: Aku juga sebenernya itu loh sama abi aku diajarin kalau besar jadi tentara. Bukan, tentara pasukan elit gitulah. Aku lagi kecil, temanku itu ada tetangga cita-citanya jadi polisi. Orang nanyain aku, cita-citaku apa. Aku jawabnya mujahidin.

Mirza, usianya 15 tahun. Ia seorang bocah yang percaya diri. 

Tata bahasanya agak berantakan. Bisa jadi karena selama 4 tahun tinggal di Suriah, ia memakai bahasa Arab.

MIRZA: Aku kalau ngomong bahasa Arab kalau lagi butuh aja. Kalau lagi gini, nggak bisa.

Eh, bukan begitu maksudnya. 

MIRZA: Bukan gak bisa, bingung mau ngomong apa.

Mirza adalah satu dari puluhan anak Asia Tenggara yang terekam sedang membakar paspor dan mengangkat AK47 dalam video propaganda ISIS. 

[AUDIO DARI VIDEO YANG TERSEBAR DI YOUTUBE, ANAK DILATIH ISIS]

Kedua orangtua Mirza terlibat kasus terorisme. Ibunya ditangkap ketika Mirza berusia 2 bulan. Sementara sang ayah, jadi buron Densus 88 dan ditangkap setahun setelahnya. 

Sang ayah adalah orang kepercayaan Aman Abdurrahman. Juni 2018 lalu, Aman divonis hukuman mati karena terlibat berbagai kasus terorisme.

Setelah ayah dan ibu Mirza keluar penjara, Mirza dimasukkan ke Pesantren Ibnu Mas’ud di Bogor - sebuah pesantren yang terafiliasi dengan ISIS.

Setiap hari, Mirza dicekoki ide-ide kekerasan. Termasuk untuk pergi ke Suriah dan menjadi jihadis. 

Di tahun 2014, Mirza diajak bapaknya ke Suriah. Rombongannya besar -- beserta sang ibu, empat adik, nenek serta dua pengantar.

MIRZA: Pertama kali dengar bom sih itu bukan yang berkali-kali jadi aku enggak terlalu kaget. Maklumlah aku enggak mikir kayak anak kecil takut atau gimana. Takut juga sih tapi memang emang gini ya udah jalanin aja.

Di sana, Mirza kehilangan ayahnya yang tewas saat perang. 

Ibu Mirza lantas menikah lagi dengan warga Tunisia. Berbeda dengan ayah kandungnya, ayah tiri Mirza tak setuju dengan ISIS dan bercerita soal kekejaman yang dilakukan ISIS. 

Mirza mulai bimbang.

[AUDIO ILUSTRASI SITUASI DI SURIAH PADA 2017; VIDEO DILANSIR SDF]

Sekitar  tiga tahun Mirza bertahan di Suriah.

Saat itu tahun 2017, tentara gabungan Irak dan koalisi sedang menekan ISIS keluar dari Kota Mosul. ISIS juga tengah mengalami kekalahan di Suriah. 

Mirza yang sudah tak percaya lagi pada ISIS, mulai berupaya kabur dari Raqqa, Suriah.

MIRZA: Malam-malam keluar, kita gak sendiri. Ada yang nunjukin jalan. Malam-malam itu kita tidur di gurun. Waktu sudah sampai, ngelihat ada lubang banyak banget orang lagi pada tidur semua. Ternyata ini yang mau keluar.

Ia masih ingat betul rasa angin malam pada musim panas di gurun. Ia tak bisa tidur nyenyak. 

[AUDIO ILUSTRASI LANGKAH KAKI]

Mirza tak tahu persis ke mana kakinya melangkah. Naik turun… sampai akhirnya tiba di perbatasan Irak. 

Di sana rombongan sempat dihadang tentara Kurdi yang menuding mereka ISIS. 

Mirza memang sempat bergabung dengan ISIS, tapi ia memutuskan untuk berbohong daripada .....

Katanya, entar habis ini kita mau dibawa ke gunung. Mau disembelih. Ya sudah di situ aku mikirnya, sudahlah pasrah saja. Emang sudah mau mati,

- Mirza mengingat.

[AUDIO ILUSTRASI DARI VIDEO, KOTA HASAKAH 2017]

Begitu tiba di Kota Hasakah, Mirza bergabung di kemah penampungan orang-orang Tunisia -- di sebuah penjara.

Di situ mereka berdesak-desakan, terpaksa tidur dalam posisi duduk sambil melipat kaki. 

Interogasi berlangsung setiap hari. Ponsel dan jam tangan Mirza disita petugas. 

MIRZA: Hpnya, ada fotonya. Foto keluarga. Tapi fotoku gak ada di situ. Itu juga hp umi aku. Itu kenang-kenangan terakhir kali. Jam tangan itu udah dari awal masuk dari Indonesia ke Suriah, ke penjara lagi masih ada jamnya itu. Jam adik yang aku pakai. Kenang-kenangan abi.

Mirza tinggal di sana selama sebulan, lantas dipindahkan ke penjara lain.

Di situ ia bertemu Febri Ramdhani. Ia dan sekeluarganya juga terjerat propaganda ISIS dan pergi ke Suriah.

FEBRI: Perjuangannya itu luar biasa sih, sendirian itu. Walaupun ada beberapa orang, tapi ini anak kecil, sendiri.

Kepada Febri, Mirza bercerita soal cita-citanya jadi tentara ISIS dan pelatihan militer yang diterimanya.

MIRZA: Tapi aku udah latihan nembak apa pernah (Senjata apa?) AK47. Udah nyobain semuanya yang berat.

Mirza mengaku ingin kabur, ikut dengan orang-orang Tunisia.

Tapi ia sedih karena terpisah dari ibunya.

MIRZA: Aku kasihan juga sama ummi. Aku udah lama nggak sama umi. Sudah lama sama mereka (orang-orang Tunisia - red).  Aku masih mau sama mereka tapi aku nggak enak sama ummi. Aku cari tahu caranya biar ummi ikut tapi kata mereka nanti aja dulu kita dulu.

FEBRI: Dia bilangnya sudah nggak setuju lagi sama yang di sana. Sudah mau pulang saja. Istilahnya, ibunya dan adiknya masih di sana, tapi dia sudah mau balik. Nggak tahan lagi di sana.

[AUDIO ILUSTRASI MESIN PESAWAT]

Suatu hari pada pengujung 2017, Mirza dijemput oleh aparat Indonesia dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelijen Negara dan Kementerian Luar Negeri. 

Staf Kementerian Luar Negeri Muhammad Ilham masih ingat peristiwa itu. 

ILHAM: Tadinya kita pikir hanya 17 orang. Ternyata ada satu orang berdiri. Mukanya, muka indonesia. Rambutnya rambut, Indonesia lah pokoknya. Kayak cina gitu. 

Mirza sebetulnya tak ada dalam data rencana penjemputan ini. 

ILHAM: Dik, dik, sini dik. kita peluk. Kita rangkul. Kita pukpuk belakangnya. Mereka di situ bau pesing semua.

[MUSIK TRANSISI; AUDIO ILUSTRASI QATAR AIRLINES TIBA DI JAKARTA]

MIRZA: Aku awalnya juga mikirnya gini.. Duh aku ke Indonesia kemana, ya. Aku gak kepikiran bakal ke sini.

Begitu tiba di tanah air, Mirza dirawat oleh BNPT.

Kepala Subdit Bina Dalam Pemasyarakatan Khusus Terorisme BNPT, Andi Prasetyo mengatakan terus berupaya mengikis benih radikalisme pada Mirza.

ANDI: Karena mengubah konsep yang sudah dia alami, itu tidak mudah. Jadi itulah seninya kami ini selaku pelaksana tugas. Istilahnya, menggugah hatinya itu lho untuk… ketika mendekat dan mau diajak komunikasi, itu sudah merupakan suatu kemajuan. Ditawarin sekolah, mau: sudah merupakan suatu kemajuan. Dikenalkan ke kehidupan sosial yang levelnya agak meningkat, itu juga sudah bisa.

ANDI: Kami nggak bisa menyebut pedomannya sebanyak apapun, tapi kalau dia tidak membuka hati dan pikirannya kan ya percuma. Ya itu yang kita perlukan, pendekatan secara hati ke hati.

Kendati Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Radikalisme BNPT, Henri Paruhuman Lubis mengakui proses ini bakal sukar.

LUBIS: Sudah sejak 9 tahun dibawa ke sana, sudah berjalan lebih dari 3 tahun. Dia sudah melihat, sudah ikuti kegiatan yang ada di sana. Tahu-tahu kita datangkan ke sini, kita bisa mengubahnya dalam waktu satu dua tiga bulan? Mustahil lah.

Deputi Bidang Hubungan Luar Negeri BNPT Hamidin mengaku Mirza berangsur berubah. 

HAMIDIN: Pertanyaan di balik itu secara psikologis, apakah dia punya niat membunuh? Kan belum tentu. Kita kan masa kecil senang mobil-mobilan, tentu kita suka mobil. Dia masa kecilnya banyak bermain senjata, dia akan hobi dengan senjata itu.

[AUDIO MIRZA BERCAKAP DENGAN REPORTER, DI RUMAH PERLINDUNGAN]

Kini Mirza sudah menghabiskan sekitar setahun di sebuah rumah perlindungan di Jawa Barat. 

Belum tahu bakal jadi apa selepas ini ...

HAMIDIN: Sehingga tanggung jawab negara untuk membuat dia tidak menjadi radikal, tidak ditarik-tarik oleh kelompok yang memiliki kepentingan untuk terorisme.