[SERIAL] EPISODE 2: Sebatang Kara

Ini kisah Anisa. Bocah usia 8 yang ikut orangtua & kedua kakaknya melakukan aksi bom bunuh diri. Semuanya tewas, kecuali dia. Kini ia sebatang kara, sementara keluarga besarnya belum berani menerima.

Jumat, 03 Mei 2019

Terorisme membawa luka. Itu jelas. Luka kepada warga tak berdosa yang menjadi korban. Juga luka pada keluarga korban pelaku teror yang ditinggalkan.

Termasuk, anak para pelaku aksi terorisme.

Mereka yang hidup, tumbuh serta beberapa diajak orangtua mereka yang jadi pelaku aksi terorisme. Mereka adalah korban. 

KBR menyajikan serial khusus menyoroti anak-anak yang jadi korban terorisme. Demi melindungi para bocah, identitas mereka kami samarkan.

Ikuti Serial "Hidup Usai Teror" episode ke-2: Sebatang Kara.


PERINGATAN! Seri liputan ini memuat konten yang boleh jadi mengganggu bagi sebagian orang.

- Hidup Usai Teror episode 2 - Sebatang Kara

Ilustrasi Eps02 Sebatang Kara

[AUDIO SAAT PENDAMPINGAN; ANISA NGOBROL DENGAN PENDAMPING]

TUTI: Kamu tulis teman dekat kamu siapa aja? Ada berapa teman dekatnya?

ANISA: Ada. Ada .....

TUTI: Ya ada. Ada berapa? Teman dekatmu ada berapa? Teman dekatmu ada berapa, ibu tanya. Kan kalau temanmu ada tujuh. Kalau kamu ada berapa?

Bocah ini namanya Anisa, usia 8 tahun. Ia adalah salah satu penghuni di Rumah Perlindungan.

[AUDIO ANISA BERCELOTEH DI RUANG PENDAMPINGAN]

TUTI: Temen dekatmu siapa saja?

ANISA: Belum tahu Bu. Ini siapa bu? Sama Usianya? (menyebut nama kawan) Siapa ini, Bu? Oh ... (menyebut nama-nama kawannya).

TUTI: Ya udah kamu enggak usah ngeliat orang lain. Sekarang teman dekat kamu siapa aja?

ANISA: Diwarna?

Anisa suka mengalihkan percakapan seperti barusan. 

Kata Tuti, pendampingnya, jawaban Anisa juga sering tak jelas. 

[AUDIO ANISA MELIPAT KERTAS ORIGAMI DI RUANG PENDAMPINGAN]

TUTI: Yang paling kamu kangenin siapa?

ANISA: Semua

TUTI: Siapa?

ANISA: Semualah

TUTI: Ya siapa aja? Semua kan banyak ...

ANISA: Bu, enggak ada pulpen?

Tuti khawatir, Anisa menyimpan rapat-rapat luka akibat kehilangan keluarganya.

TUTI: Kemarin teman-teman (bilang), "Noh mulai murung". Makanya saya lihat dulu kan. Saya perhatikan. Kemarin ada murungnya. Berarti kan perlu kita gali kenapa. Karena sesenang-senangnya kan pasti akan sesaat. Apalagi misal ketika melihat berita, (barangkali) dia akan teringat.

[MUSIK]

Orangtua Anisa serta dua kakaknya tewas terbakar saat melakukan aksi bom bunuh diri. 

Anisa ikut serta dalam aksi tersebut. Ia satu-satunya yang selamat.

Sejak itu Anisa tak banyak bicara.

[ATMOS DI RUMAH PERLINDUNGAN] 

TUTI: Kalau saya lihat, sendiri dia. Meskipun dekat dengan teman lain, tapi kalau curhat atau apapun, tidak. Meskipun satu kamar dengan si F. Jarang sekali bercerita. Ke orang tua pun, ke si Mbah, enggak cerita. Kadang memang lebih sering melawan kalau dengan si Mbah. Karena merasa bukan si Mbah sendiri.

… apalagi terhadap orang yang baru dikenalnya seperti saya. 

Kami sudah tiga kali bertemu. Tapi ia baru menunjukkan ketertarikan begitu saya hadiahkan lipatan kertas berbentuk burung. 

Sustriana Saragih adalah psikolog yang mendampingi anak seperti Anisa, korban terorisme. 

SUSTRI: Ada anak yang mengekspresikan satu hewan yang sendirian. Sementara hewan lainnya berpasangan. Satu hewan ini tidak punya siapa-siapa, akhirnya mati. Kemudian ciri permainannya .... ada juga tentara yang berjuang sendiri, sisanya tentara lain ada kelompoknya.

[MUSIK]

Orangtua Anisa adalah bagian dari Jamaah Anshorut Daulah, JAD, pimpinan Aman Abdurrahman, yang terafiliasi dengan ISIS.

Kelompok ini akrab dengan senjata tajam, senapan rakitan serta bom berdaya ledak rendah.

Aman memerintahkan pengikutnya untuk berbaiat atau melakukan janji setia ke Pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi.

Juni 2018 lalu, Aman divonis hukuman mati karena terlibat berbagai kasus terorisme. 

[MUSIK]

[AUDIO ILUSTRASI SUARA LANGKAH KAKI ...]

Pagi itu, sang ibu menjemput Anisa dari rumah neneknya.

Mereka lantas bergabung dengan ayah dan dua kakak laki-lakinya. 

Bersama mereka menuju lokasi yang sudah ditentukan. Lalu… meledakkan… diri…

[AUDIO ILUSTRASI LEDAKAN BOM]

[AUDIO ILUSTRASI TERIAKAN ORANG MENYAKSIKAN BOM MELEDAK]

Sejak kecil, Anisa akrab dengan video perang dan kekerasan yang diputar orangtuanya.

Ia juga dicekoki ide kalau aksi bom bunuh adalah jihad sebagai seorang Muslim.

Anisa tahu persis apa yang dilakukan dan dipersiapkan orangtuanya, termasuk soal bom.

TUTI: Tahu, tahu. Mereka bahasanya nasi kotak. (Dia) tahu. Kan dia disuruh megang nasi kotak kan. Bilang ke orang-orang kan nasi kotak. Padahal dia tahu isinya apa.

Anisa satu-satunya yang selamat dari rombongan itu. Sejak itu hidupnya berubah.

Makanya pas kemarin sedih, bilang soal kangen: ya kangen semuanya lah. Selama ini kan yang dia tahu, saya hidup dengan mereka semua. Dia nggak tahu dunia luar seperti apa. Sekarang dia dihadapkan harus hidup sendiri. Ke depannya seperti apa, dan mau bagaimana, itu pasti bergejolak lah,

- ungkap Tuti.

[AUDIO DI GEDUNG MINAT BAKAT; ADA CELOTEH ANISA]

Saya menunggu Tuti selesai bicara dengan Anisa. 

Kami berada di Gedung Minat dan Bakat, masih di area Rumah Perlindungan. 

"Kegagalan dan kesalahan merupakan cambuk …" begitu bunyinya. 

"Buka lembaran halaman buku yang serba putih."

Ini yang mungkin tak mudah bagi Anisa. 

TUTI: Kekhawatiran ditolak, tidak diterima keluarga ataupun teman-teman itu ada. Dia sudah menyadari itu. Dia sudah memahami itu: saya yakin, teman-teman yang lama pasti akan menolak.

[AUDIO ANISA NGOBROL TUGAS MENGHAFAL DENGAN GURU AGAMA, ZAINAL]

Ketika baru masuk panti, Anisa tak mau sekolah. Tapi kini sudah berubah jadi murid yang aktif. 

Pelajaran favoritnya: agama. Pekan itu, dia sedang dapat tugas menghapalkan satu surat pendek. 

Selepas kelas, ia jarang bermain dengan yang lain. Lebih sering dengan enam bocah lainnya yang kebetulan satu rumah.

Beberapa kali Tuti memergoki Anisa sedang di ayunan, sendirian. 

[AUDIO JALANAN DAN TAMAN DI RUMAH PERLINDUNGAN, LENGANG]

Anisa pernah bercerita pada Tuti soal dua kakaknya. Mereka bak ksatria pelindung bagi Anisa yang anak bungsu. Semua perhatian tercurah padanya. 

Hidup sendirian di tempat asing jelas tak pernah terlintas di kepala Anisa.

[MUSIK]

[AUDIO REPORTER MEMBOLAK-BALIK KERTAS DI POHON HARAPAN]

Di sudut ruangan, ada pot berisi pohon, dengan kertas warna warni terikat di ranting-rantingnya.

Saya mencari nama Anisa.

[AUDIO REPORTER MEMBACA KERTAS HARAPAN]

Kertas Anisa ada di ranting bawah, digunting asal-asalan, berbentuk awan. 

Kertas warna putih, pitanya juga.

"Cita-citaku ingin jadi dokter. Alasannya dulu yang meriksa dokter." Itu yang ditulis Anisa.

Rupanya Anisa menulis dua kali.

Yang satunya lagi bertuliskan: "Cita-citaku pingin jadi atlet silat. Alasannya, biar keluarga bisa gembira sama aku."

Anisa masih punya keluarga besar--ada nenek, kakek, juga paman dan tantenya. 

Tapi … begini kata Kepala Panti, Neneng Heryani.

NENENG: Kami sudah ke keluarga beberapa bulan lalu. Ternyata memang ada keluarga yang merasa takut kalau anak tersebut dikembalikan ke mereka, maka keluarga akan terancam. Karena masyarakat tidak mau menerima anak tersebut.

Dan Anisa tahu soal itu. 

TUTI: Kamu kerasan engga?

ANISA: Sudah. Ga mau di sini lagi. Pengen pulang ...

TUTI: Ketemu sama keluarga di sana mau?

ANISA: Mau

TUTI: Kangen enggak sih sama mereka?

ANISA: Kangen sekali

[AUDIO ILUSTRASI GETAR TELEPON]

Suatu kali, nenek Anisa menelefon ke panti. 

TUTI: Waktu itu neneknya sempat bilang, "Sudah kamu di pesantren saja sekolahnya. Nanti nenek akan jenguk.” Dia meskipun tidak bisa menangkap secara utuh, tapi dia paham maksudnya. Oh berarti saya harus belajar dulu di tempat lain, baru bisa berkunjung ke nenek saya."

Panti hanya bisa menampung Anisa selama 6 bulan. 

Negara baru bisa merawat Anisa jika orangtua, paman tante, serta nenek kakek, tidak ada.

Tapi selain orangtua yang sudah tewas, keluarga besar Anisa sebetulnya ada… tapi tak semuanya siap menerima Anisa.

Artinya setelah ini, Anisa harus keluar panti. Hidup sendiri.

TUTI: Dia itu sebetulnya penakut. Awal mandi enggak mau sendiri mesti berdua. Kalau mandi mesti berdua di kamar mandi.

Panti masih terus menyiapkan Anisa untuk segala kemungkinan. 

Termasuk supaya tak kembali terjerat pada paham radikalisme seperti yang dicekoki oleh orangtuanya sejak ia kecil.