Bagikan:

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin (3)

Berbeda dengan sekolah formal, pengelola sekolah ini tidak menargetkan siswanya mendapat nilai yang tinggi di semua mata pelajaran.

SAGA

Senin, 27 Mei 2013 19:51 WIB

Author

Nurika Manan

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin (3)

Sekolah, Rumpin, Neneng, Bogor, Anak

Disambut Antusias

Setiap pukul enam pagi, sebagian anak-anak di Kampung Cibitung telah siap bersekolah. Mereka menapaki  jalan tanah liat yang becek dengan sandal jepit. Setibanya di SDN Malahpar mereka mengganti alas kakinya dengan sepatu. Aktivitas belajar-mengajar berlangsung hingga siang hari.  

Hadirnya  sekolah alternative  “Sekolah Kita” di kawasan Rumpin disambut baik warga dan anak-anak Kampung Cibitung. Aktivitas belajar-mengajar berlangsung di sebuah mushola setempat saban akhir pekan. Meski ruang belajar  pengap tak membuat surut semangat bocah-bocah itu. “Pengennya Sekolah Kita bisa maju lagi, jangan di situ aja, bisa bikin kelas, makin megah. Sekarang di mana emang belajarnya? Di mushola, sempit-sempitan. Kadang kalau nggak mahi (nggak muat) itu di rumah Bu Neneng,” kata seorang anak, Nia.

Puluhan gambar tertempel di dinding mushola. Beberapa gambar terlihat berdebu.  Nampak pula sejumlah pigura dari kertas menghiasi dinding. “Kalau di Sekolah Kita ini senang nggak? Senang, senang banget. Bisa ada banyak teman, terus kenal sama orang-orang Jakarta, kakak mahasiswa,” imbuh Nia.

Anak lainnya, Fitri ikut berceloteh, “Ngajarin banyak, suka bercanda. Suka main juga, bermain gitu lah, lompat-lompatan. Suka berkebun juga, aku menanam cabai tapi sudah mati.”

Nia dan Fitri adalah anak-anak Rumpin yang mulai terbuka dengan orang-orang baru di sekitar mereka. Menurut salah satu penggagas Sekolah Kita, Rara awalnya anak-anak ini sangat tertutup. Kesimpulan ini berdasarkan riset hasil tulisan tangan, anak-anak korban sengketa tanah tersebut. “Kita bikin tes graphoteraphy gitu, memang pada dasarnya anak-anak Rumpin itu jika dihadapkan pada masalah itu cenderung menjauh. Jadi mereka introvert. Jadi itu karakter, sulit diubahnya. Memang membangun kepercayaan diri di sini itu sulit sekali,” jelas Rara. 

Ana ikut menimpali. “Awal, anak-anak itu masih tertutup, masih malu-malu. Menyebutkan nama saja pelan sekali. Sampai kita itu kewalahan buat, ayo dooong ayo dooong. Sampai akhirnya itu timbul sendirinya karena memang dibiasakan, karena intens juga ya. Sampai akhirnya ketemu kakak-kakak baru itu mereka jadi terbiasa, mereka bisa welcome.”

Upaya Rara  dan kawan-kawan mendidik anak-anak Rumpin mulai terlihat.“Kalau sekarang justru mereka bisa menantang kakak-kakaknya: Kak memang itu benar jawabannya? Jadi kita mengukurnya dengan bukti-bukti anekdot. Jadi yang pertama kita ingin mereka percaya diri, kemudian kita ingin mereka ingin tahu. Karena orang-orang yang curious itu cenderung ingin menyelesaikan permasalahannya dari akar.”

Berbeda dengan sekolah formal, pengelola sekolah ini tidak menargetkan siswanya  mendapat nilai yang tinggi di semua mata pelajaran. 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?