Bagikan:

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin (2)

Karena terbatasnya jumlah relawan yang mengajar di Sekolah Kita, Ana memanfaatkan media sosial untuk menjaring relawan lain ikut mengajar.

SAGA

Senin, 27 Mei 2013 19:51 WIB

Author

Nurika Manan

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin (2)

Sekolah, Rumpin, Neneng, Bogor, Anak

Tumbuhkan Empati

Neneng menduga ini akibat warga Kampung Cibitung tak menganggap pendidikan sesuatu yang penting. Maklum tingkat pendidikan mereka rendah dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. “Awalnya sih kecil banget, ibu keliling ke dua kampung siapa yang mau kita daftar, umurnya berapa. Kalau nggak gitu kan sulit juga pemahamannya.”

Neneng menambahkan,“Ke sini kadang ada 15 orang, aduh bu gimana ini kok sepi? Sabar aja Kak Ana, kita kan apa-apa nggak sekaligus bisa jalan yah. Ibu aku minggu besok nggak bisa ikut ngajar. Ya sudah nggak papa, ibu yang ngajar. Gitu-gitu aja, ada kali selama lima bulan.”

Lima bulan berjalan,  anak-anak mulai banyak yang berdatangan ke sekolah itu. Sampai-sampai para pengajar, kenang  Neneng ikut kelabakan.  “Gimana ini ibu, daftarnya nambah lagi nambah lagi, lokasi sudah nggak muat ini tempatnya. Sudah biarkan jalani saja. Ngampar tiker, nanti rumah ini dipakai, dapur dipakai, nanti rumahnya adik saya dipakai. Wah biarin lah, yang penting anak-anak mau belajar. Ada yang ngampar di depan, ada yang berkebun itu di belakang. Sudah macam-macam pokoknya kalau hari Minggu penuh lah.”

Karena terbatasnya jumlah relawan yang mengajar di Sekolah Kita, Ana memanfaatkan media sosial untuk menjaring relawan lain ikut mengajar.   “Kita nggak bisa kalau segini saja, kita butuh teman, kita butuh kakak yang lain. Dan akhirnya kita coba bikin draft, lewat blog, kemudian twitter, media sosial lainnya, sampai akhirnya banyak peminatnya. Dan terbentuknya Sekolah Kita sendiri itu awalnya aku kepikiran ini dijadikan sekolah alternatif, mereka sudah punya sekolah formal, tapi mereka juga bisa mengembangkan diri di sekolah ini.”

Ana tentu saja tak bekerja sendirian. Ia dibantu rekan-rekannya sesama penggagas sekolah ini. Salah satunya Rara Sekar. Agar sekolah ini diketahui masyarakat, mereka membuat profil dan ragam kegiatannya. Sampai merancang kurikulum sekolah. “Terus aku bikin kurikulumnya sama Kak Ana. Jadi pertama kali aku ke sini, mereka itu cenderungnya mundur. Jadi memang malu-malu banget,” jelas Rara.

Kurikulum yang dibuat terang Rara disesuaikan dengan kondisi anak di daerah sengketa.  “Kita bikinnya dari observasi awal saja dengan melihat ke sini. Bahwa mereka itu cenderung tidak percaya diri, karena di kampung memang sering ada fenomena seperti itu, di mana anaknya tidak percaya diri. Kedua, mereka juga anak-anak korban sengketa. Jadi kecenderungan mereka untuk bisa mengekspresikan dengan lepas itu memang terhambat, yang dibuktikan lagi dengan analisis tulisan tangan, tapi itu masih dalam proses dan laporannya baru akan dikeluarkan bulan ini. Lalu kita tambahkan dengan nilai-nilai yang kita anggap penting sih,” tambahnya.

Sekolah Kita jelas pekerja sosial ini berpijak kepada rasa empati kepada sesama. Selain itu Rara dan kawan berupaya menumbuhkan rasa percaya diri, kreatifitas dan keingintahuan anak. “Empati sebenarnya lebih ke role model. Kalau aku sih lebih ke, kalau misalnya dia ada konflik di kelas, nah cara penyelesaiannya itu. Terus kita lebih ke menunjukkan, kenapa sih kita tidak menyakiti orang lain? Emang, kenapa kita menyakiti orang lain juga? Sebenarnya itu lebih ke pertanyaan. Karena ada momen refleksi di situ. Kita akan benar sadar, ketika kita sendiri yang menyadarinya. Kalau guru bilang, kamu harus empati, yak, apa itu? Teu ngarti. Tapi kalau kita biasakan terus bertanya, akhirnya akan membentuk pola pikirnya untuk terus bertanya.”

Seperti apa aktivitas belajar di Sekolah Kita? 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?