Bagikan:

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin

Neneng berharap lewat bekal pendidikan yang diberikan kepada anak-anak Rumpin, nasib kampung mereka akan lebih baik. Paling tidak generasi penerus tersebut dapat lebih paham bagaimana memperjuangkan dan mempertahankan hak mereka.

SAGA

Senin, 27 Mei 2013 19:57 WIB

Author

Nurika Manan

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin

Sekolah, Rumpin, Neneng, Bogor, Anak

KBR68H - Sebuah sekolah alternatif berdiri  di wilayah sengketa tanah di Rumpin, Bogor. Lembaga pendidikan nonformal ini digagas sejumlah relawan dan warga setempat. Salah satu tujuannya   mencegah dampak buruk akibat konflik bagi psikologis anak. Materi yang diajarkan menonjolkan nilai-nilai empati dan keberanian menghadapi masalah.

Sawah luas yang  digarap puluhan petani, warga Kampung Cibitung, Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat terbentang luas. Di sana berdiri  bangunan milik TNI Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Bangunan tersebut  terlihat menonjol di antara hamparan hijau sawah dan perairan  serupa danau. Namun daerah itu menyimpan bara konflik sengketa tanah antara warga setempat dengan TNI AURI sejak 2007 silam.

Dua tahun lalu kasus ini sempat meruncing.Saat itu warga Rumpin meminta hak atas tanahnya kembali kepada TNI. Akibatnya bentrokan antara aparat dan warga pecah. Konflik menyebabkan derita bagi warga, termasuk anak-anak  Rumpin.

Sejumlah aktivis, pendamping warga lantas menggagas berdirinya sekolah alternatif, pada April tahun lalu. Namanya“Sekolah Kita” cerita Ana Agustina. “Awalnya sih itu Bu Neneng yang meminta aku untuk mengajar. Kemudian, lama kelamaan, masa cuma ngajar aja mata pelajaran yang sudah ada di sekolah mereka. Nah dari situ aku mikir, aku nggak bisa jalan sendiri. Sampai akhirnya aku ngobrol dengan beberapa teman. Coba gimana nih, sistemnya kira-kira selain hanya mengajar. Aku coba bikin proposal-proposal dasar pemikirannya”

Neneng yang disebut Ana tadi adalah salah warga Rumpin yang gigih memperjuangkan tanahnya. Pertemuan mereka berawal saat Ana ditugaskan mendampingi Neneng  menghadapi kasus sengketa tanah di sana.

Neneng  berharap lewat bekal pendidikan  yang diberikan kepada anak-anak Rumpin, nasib kampung mereka akan lebih baik. Paling tidak generasi penerus tersebut  dapat lebih paham bagaimana memperjuangkan dan mempertahankan hak mereka.

“Mungkin sekarang kita merasakan, seperti ibu pribadi ini kurang pendidikan, orang-orang tua juga kurang pendidikan. Kita belum bisa tahu kapan ini selesainya. Kita bukan nggak berjuang, hari ini kita masih ingin berjuang. Kalau dengan pendidikan, perjuangan ini bisa diselesaikan dengan damai. Kalau kita kan, orang sini nggak tahu hukum, nggak tahu cara bicara dengan pejabat, dengan TNI kurang pemahamannya,” jelasnya.

Awalnya hanya sedikit anak yang berminat belajar di sekolah itu. Apa penyebabnya? 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?