Melawan Tirani dengan Seni (4)

Lewat puisi dan lagu, Wiji Thukul, Jose Rizal Manua dan Band Marjinal berjuang melawan kesewenang-wenangan kekuasaan.

SAGA

Selasa, 21 Mei 2013 14:58 WIB

Author

Indra Nasution

Melawan Tirani dengan Seni (4)

Wiji Thukul, Jakarta, Reformasi, Seni, Marjinal

Kritik Lewat Humor

Seniman Jose Rizal Manua, punya cara sendiri menyampaikan perlawanannya terhadap rezim Orde Baru. Pria berambut panjang ini menyuarakan kritik lewat musikalisasi puisi humor. Cara ini kata dia  untuk hindari penangkapan aparat. “Saya dalam situasi seperti itu, menulis puisi humor, supaya bisa terhindar dari penangkapan, misanya puisi saya buat “Doa Orang Waras", tuhan ku lindungilah aku aku ingin korupsi, tuhan ku hanya kepada Mu aku memohon, Tuhan ku lindungilah aku ingin korupsi, jadi saya balikan kesisi humor supaya lebih soft,” jelasnya.

Pria 58 Tahun itu,  menuturkan kekuasaan yang dibangun Soeharto saat itu sangat anti kritik, sehingga pendapat kritis yang disampaikan dibungkus dengan cara lembut.

Aparat keamanan saat itu, kenang Jose mudah sekali menangkap orang-orang yang menentang kebijakan pemerintah Orde Baru. Tak terkecuali kalangan    seniman. “Mudah sekali kita ditangkap kalau mereka anggap itu mengganggu atau membuat mereka gerah, banyak yang ditangkap dan dilepaskan lagi, karena ketakutkan yang terjadi, “ ceritanya.

Jose menambahkan,”Dan sering kali mahasiwa menyembunyikan kita, jadi selesai baca kita disembunyikan kemana, di kampus banyak sekali saya baca pusi cuma pusi saya saya bungkus dengan humor, kalau Rendra kan lebih keras.”

Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat itu sempat mengelilingi beberapa kampus seperti Trisaksi, Atmajaya, Universitas Indonesia termasuk di tempat dia mengajar Institut Kesenian Jakarta. Pada saat itu dia mengkritik Soeharto yang sudah berkuasa tujuh kali, dan tak berniat diganti. Cara seperti itu dinilai tidak demokratis.  “Jadi orang tidak ada puasnya ketika kekuasaan terus menggurita, kepuasan juga terus menggurita tidak perduli kepada rakyat lag,i dan orang tidak ada puasnya, punya ini punya itu, tidak ada habisnya, itu yang ktiris seniman sebetulnya,” imbuhnya.

Lewat puisi dan lagu, Wiji Thukul, Jose Rizal Manua dan Band Marjinal berjuang melawan kesewenang-wenangan kekuasaan. Lima belas tahun berlalu. Situasi sosial-politik di tanah air yang lebih terbuka dan bebas menyampaikan kritik tak menyurutkan perjuangan para seniman.

Mike personil Band Marjinal menuturkan. “Ada perbedaan dulu dan sekarang, kalau dahulu lebih ke jalanan, kalau sekarang ini kita lebih melihat gerakan edukasi, situasi sangat berubah, akhirnya semangat itu harus dari semangat individu untuk menghasilkan semangat bersama, artinya kenapa enggak ketika kita mempunyai semangat yang kuat lakukan kenapa enggak, lakukan oleh mu dan dengan mu sendiri, dari apa yang kamu bisa lakukan itu.”

Seniman Jose Rizal Manua menimpali. “Seni itu bagian hidup dan kehidupan dia selalu berphak kepada orang tetindas dizalimi orang yang hidupnya dihimpit oleh kesusahaan, tujuan untuk mengingatkan bahwa ada yang seprti ini dan  ini yang harus diperhatikan.”

Dia menambahkan, “Sekarang masih seperti itu, saya sampai sekarang menulis itu untuk mengingatkan, semua masih mengkritik mereka bicara tentang hidup dan kehidupan, dan di dalam hidup,  dan kehidupan itu, ada sisi sosial, sisi moral, ekonomi dan sebagainya, semua karya seni terlibat dalam kehidupan, karena sumbernya itu adalah hidup dan kehidupan.” ***

Editor: Taufik Wijaya

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri