Melawan Tirani dengan Seni (3)

Ia mengenang suatu waktu saat tengah menyanyikan lagu perlawanan pada Mei 1998. tiba-tiba suara tembakan membubarkan kerumunan demonstran.

SAGA

Selasa, 21 Mei 2013 15:07 WIB

Author

Indra Nasution

Melawan Tirani dengan Seni (3)

Wiji Thukul, Jakarta, Reformasi, Seni, Marjinal

Lagu Perlawanan

Kelompok musik punk asal Jakarta, Marjinal salah satu yang menyuarakannya.  Karya-karya mereka lahir di tengah karut-marut situasi sosial-politik Indonesia pada 1997-1998. Mikail Israfil atau bisa dipanggil Mike salah satu pendiri Marjinal “Berawal dari satu kegemaran kita, untuk kita bermain-main dengan musik punk pada saat itu, yang kemudian kita mendapatkan pengaruh besar bahwa di dalamnya itu syarat sekali mengandung perlawan, artinya pada saat itu bicara sosial politik, berangkat dari hal itu, kemudian kita juga aktif dikantong-kantong masyarakat, yang memang kritis artinya saat itu kita melakukan diskusi menyikapi perkembangan politik.”

Mike bercerita saat itu mereka sering ikut berunjuk rasa memberikan semangat kepada demonstran. :Akhirnya ini suatu menjadi metode taktis bagaimana menjaga kesolidan di lapangan, menjaga semangat yang tetap solid, artinya musik itu sebagai penyatu, akhirnya banyak digunakan diaksi, karena udah panas capek haus, jalan capek cuma dicekokin cuap-cuap di atas bis, sambil berjalan dan orang tidak tahu apa, sehingga tidak ada suatu yang kosentrasi yang kuat,   dan peran penting sebagai suautu media penyampaian sebuah aspirasi,” jelasnya.

Mike menambahkan, “Darah juang, buruh tani, pada saat itu tidak hanya milik para demontrans, itu tidak hanya dirasakan pada teman yang tidak pernah diatas bis atau demo di depan DPR atau senantiasa waktu dan harinya ada di empang di kali nelayan dan buruh bangunan, tetapi dia bisa mendengarkan lagu itu yang berpengaruh.”

Ia mengenang suatu waktu saat tengah menyanyikan  lagu perlawanan pada Mei 1998. tiba-tiba suara tembakan membubarkan kerumunan demonstran. Tak ayal personil band yang dulu bernama “Anti ABRI” ini buru-buru menyelamatkan diri.“Sempat kita main di istana di dpr, kita tetap menjaga semangat demonstrans di atas mobil pickup, bawa drum musik, di depan cendana, chaos alat-alat kita masuk komdak,”kenangnya.

Mike menegaskan mereka bukan  sekadar grup band tapi sebuah gerakan sosial.  “Ini kita sandarkan sebagai satu media penyampaian informasi, guna menciptakan satu perubahan, musik kita anggap tak ubah seperti buku, yang kita melihat adalah perkara bicara situasi politik yang berkembang dan kondisi masyarakat yang ada, syarat  sekali dengan pemiskinan atas informasi.”

Seniman lain yang ikut bergelut pada masa gerakan reformasi adalah Jose Rizal Manua. Seperti apa kiprahnya?


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri