Melawan Tirani dengan Seni (2)

Meski tak diketahui keberadaannya, karya Wiji Thukul tetap abadi. Larik puisinya yang terkenal

SAGA

Selasa, 21 Mei 2013 15:06 WIB

Author

Indra Nasution

Melawan Tirani dengan Seni (2)

Wiji Thukul, Jakarta, Reformasi, Seni, Marjinal

Karya Abadi

“Aku bukan artis pembuat berita, tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa, puisiku bukan puisi, tapi kata-kata gelap, yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan, ia tak mati-mati, meski bola mataku diganti, ia tak mati-mati. meski bercerai dengan rumah, ditusuk-tusuk sepi, ia tak mati-mati, telah kubayar yang dia minta, umur-tenaga-luka, kata itu selalu menagih, padaku ia selalu berkata kau masih hidup,, Aku memang masih utuh, dan kata-kata belum binasa (Wiji Thukul.18 juni 1997)”

Penyair  cadel yang tak pernah bisa melafalkan huruf “r” dengan sempurna itu aktif bersentuhan dengan rakyat. Dia sering memberikan pelatihan budaya di kampung dan kampus.“Tetapi tahun 90 benar-benar berinteraksi dengan rakyat yang menjadi korban penggusuran bahkan ada interaksi langsung, gerakan 90 ada gerakan mahasiswa ada gerakan rakyat yang menjadi korban penggusuran pemuda, seniman petani buruh saya kira Tukul menjadi perekat diantara gerakan-gerakan ini,”

Karya seni Thukul membuat resah pemerintah. Pada 1995 misalnya, almuni Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Solo, jurusan tari itu ikut tampil dalam pementasan parodi yang mengkritik perayaan 50 tahun Kemerdekaan Indonesia.  “Tukul bersama dengan kelompok mahasiswa membuat parodi Indonesia cemas, itu karena 50 tahun Indonesia, tetapi masih ada penggusuran dan upah rendah, kita bikin acara kesenian alternatif, waktu itu kita ingin membuat di taman budaya Surakarta, tetapi taman budaya surakarta dipakai, menggelar acara resmi Indonesia emas, kita buat dikampung namanya Indonesia cemas, ketika acara berlangsung acara itu berlangsung itu ada pembubaran dari polisi semua karya dirampas berapa teman diintrogasi,” jelas Wahyu.

Tindak kekerasan dari aparat keamanan kerap diterima Wiji Thukul. Sang adik, Wahyu Susilo menuturkan kejadian yang menimpa Thukul saat demo  buruh  PT Sritek di Jawa Tengah.  “Dalam demonstrasi tersebut dia mendapat popor dimatanya, Sehingga pada saat itu, dia mengalami keluhan serius dimatanya sulit melihat lagi.”

Meski tak diketahui keberadaannya, karya Wiji Thukul tetap abadi. Larik puisinya yang terkenal “Hanya Satu Kata: Lawan!” misalnya terdengar diteriakan dengan lantang kaum oposisi Malaysia. 

Tak hanya puisi. Protes atau kritik terhadap kebijakan Orde Baru yang sewenang-wenang mengalun lewat lagu. 



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri