Melawan Tirani dengan Seni

Pusi itu milik Wiji Thukul seniman asal Solo, Jawa Tengah yang dihilangkan paksa karena dianggap melawan penguasa Orde Baru.

SAGA

Selasa, 21 Mei 2013 15:18 WIB

Author

Indra Nasution

Melawan Tirani dengan Seni

Wiji Thukul, Jakarta, Reformasi, Seni, Marjinal

KBR68H - Kekuatan seni dan sastra turut andil menumbangkan kekuasaan Orde Baru pada Mei 1998. Saat itu sejumlah seniman bergandengan tangan dengan para aktivis. Lewat syair yang didendangkan dan larik puisi yang diteriakan dengan lantang, mereka melawan tirani. KBR68H menemui sejumlah seniman yang ikut menjadi aktor sejarah gerakan reformasi.  

“Hanya satu kata, lawan !” Selarik puisi sarat makna  itu kerap terdengar lantang saat demonstrasi mahasiswa akhir 1997 hingga 1998. Sajak perlawanan itu biasa dibacakan sebagai penyemangat demonstran  melawan tirani penguasa.

Pusi itu milik Wiji Thukul seniman asal Solo, Jawa Tengah yang dihilangkan paksa karena dianggap melawan penguasa Orde Baru. Pria bernama asli Wiji Widodo ini hilang. Banyak yang menduga dia menjadi korban penculikan dan pembunuhan menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat 1998.

Adik Thukul, Wahyu Susilo yang juga aktivis dan peneliti buruh migran menuturkan medium yang dipakai kakaknya untuk menyampaikan kritik.   “Salah satu hal yang penting adalah penggunaaan media-media kesenian, di dalam pergerakan perlawanan pada tahun 90-an, dan pertengahan dekade 90an dia membuat jaringan kerja kebudayaan rakyat (Jaker), saya kira karya-karyanya sangat menggugah itu.”

Menurut Wahyu perlawanan Wiji  Thukul melalui kesenian sudah dilakukan sejak era 80 an. Dia mengawali pergerakan di tanah kelahirannya Solo.  “Pada saat itu di mana rezim Orde Baru masih sangat kuat, apalagi di Solo ada trauma gerakan antiCina pada tahun 1982 yang kemudian menjadi  aktifitas gerakan di Solo, lebih pasif, dibanding dengan kota-kota yang lain tapi, yang berkembang adalah kesenian, saya kira di situ artikulasi sosial bisa diungkapkan karena harus diakui Tukul merupakan motor pergerakan lahirnya gerakan protes di Solo, “

Puisi Wiji yang sarat kritik membuat penguasa gerah.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri