Kicau SBY di Twitter (Bagian 3)

Menarik, kata Enda jika isi cuit SBY tidak sama dengan isi pidatonya yang seringkali normatif.

SAGA

Kamis, 30 Mei 2013 19:43 WIB

Author

Eli Kamilah

Kicau SBY di Twitter (Bagian 3)

SBY, Jakarta, Twitter, Media Sosial, komunikasi


Masih Normatif


Badan riset Burson-Marsteller di Swiss merilis sebanyak 264 pemimpin dunia telah memiliki  akun Twitter. Salah satunya Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Bahkan, aktivitas para politisi di dunia twitter juga punya nama yakni, Twitplomacy.

Aktivitas tersebut telah mulai terlihat jelas kala Barrack Obama menuliskan cuit yang berkaitan dengan pernikahan sesama jenis. Menurut sebuah riset yang dilaporkan oleh Associated Press, cuit tersebut mendapat perhatian yang luas dari masyarakat.

Bahkan, hasil penelitian yang dirilis pertengahan tahun lalu itu, menyayangkan beberapa anggota pimpinan G-20 tak gunakan twitter dalam diplomasi mereka, salah satunya Indonesia dan Italia. Kini, orang nomor satu di Indonesia itu sudah memiliki akun twitter. Namun, sebagian kalangan menilai isi twitter SBY tak banyak menjawab keluhan rakyat.

Pengamat Komunikasi Politik, Effendy Ghazali menuturkan, “Kalau mau jujur selama ini masih normatif, kita belum menemukan jawaban-jawaban yang diharapkan, seperti orang-orang yang bertindak berkicau di twitterland itu. Tetapi kalau dibandingkan twitter kepala negara di luar negeri, misalanya Chaves dan  Obama agak seperti itu. Cuma dia diadmin oleh organizing John C, yang bertalian dengan email. Kalau nggak cukup di tweetnya dia kirim dengan nama, Effendi, Ichsanudin Noersy misalnya, jadi orang merasa ini lebih pribadi lebih dari 140 karakter.”

Ghazali menambahkan, “Bedanya kan gini,  Obama kan menggunakan twitter untuk menang dalam pemilu lalu memformulasi kebijakan. Namun  SBY menggunakan itu sebagai soft landingnya seorang out going leader, pemimpin yang menyadari satu tengah tahun dari sekarang tidak lagi menjadi Presiden. Jadi mau berbicara baik-baik dengan rakyat dan aneka pihak, itu berbeda konstelasinya.”

Lain lagi pendapat pegiat media sosial, Enda Nasution. Ia menilai meski terbilang terlambat, hadirnya  twitter SBY dinilai positif. Menarik, kata Enda jika isi cuit SBY tidak sama dengan isi pidatonya yang seringkali normatif. “Sudah muncul kritikan, bahwa apa yang dia sampaikan normatif tidak menyentuh akar permasalahan, seolah-olah bahwa dia tidak berada dalam landasan yg kuat tidak punya control. Akan menarik jika dia tidak hanya mengeluarkan penyataan normatif, tetapi keluar gaya kepemimpinan lebih bisa mengambil keputusan, apa yang dia sampaikan di twitter tiba-tiba langsung terjadi, bahwa itu keputusan yang bakal dia ambil,” harapnya.

Optimalkan Twitter

Enda juga berharap SBY bisa berinteraksi dengan para pengikut atau orang yang menyapa akunnya.  “Di sisi lain akan sangat sulit memang harus menyapa seluruh orang yang memention akun tersebut. Kalau boleh saya usul dari sisi pengelolaannya misalnya setiap sabtu SBY misalnya jam 10 sampai 12 siang, maka seluruh akun yang mention dia yang meminta pertimbangan dan pertemannya, itu akan dibalas. Itu saya kira akan lebih bijak, karena jelas ruangnya dimana dia bisa membalas.”

Enda menilai motivasi RI-1 yang juga Ketua Umum Partai Demokrat tersebut membuka akun pribadi di twitter tak lepas dari upaya meraih simpati publik.  “Saya memandag sebagai sesuatu yang positif dan blusukan dengan segala kekotoran, ketidakaturan, keberengsekan yang terjadi walaupun ada positifnya juga. tetapi kemudian saya bertanya apa setelah itu? Mendongkrak pupularitas iya, SBY pengen dilihat pemimpin yang modern, selama ini yang saya amati, minimal dari sisi perlindungan kebebasan berekspresi dan media dia tidak mengancam itu, kalau dia menggunakan media sosial untuk mendongkrak popularitasnya, saya kira pasti ada tujuan itu.”

Tapi tudingan atau kecurigaan sebagian kalangan yang menilai akun SBY sekadar  pencitraan jelang Pemilu 2014, dibantah sang Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha. “Tidak-tidak. Sama sekali kami membantah soal itu, kalau Presiden masuk ke dunia twitter, karena tidak ada barrier dalam dunia media sosial, jadi Presiden ingin pesan langsungnya bisa diterima pula oleh masyarakat khususnya pengguna twitter,” tegasnya.

Nah untuk menepis kecurigaan masyarakat pengamat komunikasi politik,  Effendi Ghazaly menyarankan SBY mampu mengoptimalkan akun twitternya seperti akun yang dimiliki Presiden AS,  Barrack Obama.

“Ini uniknya SBY.Obama tahun 2007 punya akun twitter tapi di gunakan oleh teman-temannya, sampai 2010, untuk menang dalam pemilu 2008, akun itu juga digunakan untuk tercapainya UU kesehatan yg kemudian terkenal Obama care, kemudian digunakan dalam pemilu 2012, dan sekarang digunakan untuk UU perdagangan senjata. Bahwa twitter itu tidak bersiul, tetapi digunakan untuk formulasi, dan mendapat dukungan.”

Endah menambahkan,” Kalau buat saya akun ini opportunity buat dia untuk menampilkan sisi lain yg tidak muncul dan membalikan prespektif orang terhadap dia yang selama ini dianggap bagaimana dia itu, orang menganggap dia tidak tegas, tidak tau permasalahan dasarnya, ini kesempatan dia menunjukan siapa dia sebenarnya, kalau sama saja ya percuma ada twitter.”

Editor: Taufik Wijaya

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

News Beat

Kabar Baru Jam 8

What's Up Indonesia

News Beat