Ketimbang Ngemis, Menukar Kabar Baik dengan Daya Hidup

"Di zaman sekarang, terutama anak muda, dan yang masih sehat-sehat saja, sudah mengemis, sudah meminta-minta. Sementara banyak juga orang yang justru tetap bekerja meski punya keterbatasan."

Anggota Komunitas Ketimbang Ngemis Pontianak. (Foto: KBR/ Taufik)

Rabu, 03 April 2019

-

Hari ini, kami mengajak Anda ke Pontianak bersama jurnalis Dian Kurniati.

DIAN: Ini, kali pertama saya ke Pontianak. Sekarang hari Minggu dan, saya sedang berada di pusat kota, tepatnya di tepi Jalan Gadjah Mada. Jalanan lumayan ramai. Di sepanjang jalan utama ini, di kanan dan kiri, banyak warung kopi, dan saya lihat ada banyak pula pengemis. Masih muda usianya, kisaran 20 hingga 50 tahun, tapi mereka memilih untuk mengemis.

Dian lantas bertemu Lydia Safitri, yang menggerakkan Komunitas Ketimbang Ngemis di Pontianak, Kalimantan Barat. Lewat komunitas itu, ia ingin mengajak masyarakat lebih menghargai mereka yang tetap memilih bekerja meski punya keterbatasan fisik maupun usia. Bagaimana komunitas itu bekerja? Berikut kisahnya.


DIAN KURNIATI, NARATOR:

Lydia Safitri, 20 tahun, gelisah. 

Di penjuru Kota Pontianak, ia kerap melihat orang-orang yang tubuhnya masih bugar tapi memilih untuk mengemis. 

LYDIA: Di zaman sekarang, terutama anak muda, dan yang masih sehat-sehat saja sudah mengemis, sudah meminta-minta.

Sementara banyak juga orang yang justru tetap bekerja meski punya keterbatasan. 

Untuk itulah komunitas Ketimbang Ngemis Pontianak hadir, kata Lydia. 

LYDIA: Gunanya kami untuk mendukung orang-orang yang lebih memilih bekerja ketimbang mengemis di Pontianak. Terutama yang mempunyai keterbatasan usia, kesehatan, fisiknya. Itu kami dukung dengan cara kami melakukan liputan dan meng-upload ke Instagram.

Bagi komunitas ini, mereka adalah sosok inspiratif.


Rohman, salah satu sosok inspiratif yang diangkat di media sosial Ketimbang Ngemis Pontianak. (Foto: KBR/ Taufik)

Komunitas Ketimbang Ngemis lantas membantu mereka dengan mempromosikan jasa dan barang yang mereka jual lewat akun Instagram yang memiliki 6 ribuan pengikut.

[AUDIO SUARA MENUNJUKKAN AKUN INSTAGRAM KETIMBANG NGEMIS PONTIANAK]

LYDIA: Yang sudah dipublikasikan antara lain adalah sosok-sosok inspiratif yang merupakan pekerja keras dan memiliki keterbatasan dari segi usia, fisik, kesehatan atau lainnya, tetapi tidak pernah menyerah untuk tetap bekerja keras.

Ada Opung, usia 78 tahun, yang masih keliling dengan sepeda menawarkan jasa tambal ban.

Ada juga Rohman, seorang tuna daksa berusia 60 tahun, yang masih berjualan koran di persimpangan jalan. 

[AUDIO SUASANA TERMINAL; VIVI MENJAJAKAN TISU DAN BARANG DAGANGAN LAIN]

Atau Vivi Budiharti, seorang ibu tunggal berusia 43 tahun.

Dia adalah penjual asongan tisu, permen dan kacang, untuk menopang hidup empat anaknya. 

Setelah unggahan tentang dirinya dimuat di Instagram Ketimbang Ngemis Pontianak, Vivi sempat merasakan pendapatannya naik sampai tiga kali lipat!

VIVI: Alhamdulillah laris. Saya tidak tahu sebenarnya, dimasukkan begitu. Jadi semenjak tahu begitu, barulah orang-orang Pontianak beli tisu. Lagipula saya jual tisu juga tidak mahal.


Vivi Budiharti saat sedang menjajakan barang dagangan di Pontianak. (Foto: KBR/Taufik)

[AUDIO KEGIATAN DISKUSI ANGGOTA TIM KETIMBANG NGEMIS PONTIANAK]

Ketimbang Ngemis Pontianak dibentuk sejak 2016 oleh Resi Jesita yang berusia 22 tahun. 

Misi utamanya adalah membantu sosok inspiratif dengan cara membuatkan cerita tentang mereka yang memakai pendekatan jurnalistik. 

RESI: Di Instagram Ketimbang Ngemis meng-include 5W dan 1H. Jadi mengindahkan kaidah jurnalistik, karena di media sosial sekarang, akun informasi, tidak mengindahkan kaidah jurnalistik.

Cerita-cerita itu ditulis oleh tim survei lapangan yang mengecek langsung sosok yang akan dibantu. 

Dari sinilah para donatur bisa memilih sosok inspiratif mana yang hendak dibantu. 

[AUDIO YULISTIA BERKEGIATAN DAN MERAPIKAN DAGANGAN]

Di usianya yag baru 22 tahun, Yulistia Rizki sudah punya bisnis berjualan pakaian secara daring.

Setiap bulan, ia menyisihkan sebagian keuntungan untuk membantu mereka yang kurang beruntung. 

Ia ingin membantu tapi tak sanggup kalau harus bertemu langsung. 

YULISTIA: Saya orangnya penyedih. Kalau lihat yang begitu, kadang nangis kasihnya.


Yuslistia saat menerima suvenir dari Komunitas Ketimbang Ngemis Pontianak. (Foto: KBR/ Taufik)

Ia kerap melihat sendiri sosok-sosok inspiratif yang ditampilkan di Instagram Ketimbang Ngemis.

YULISTIA: Bapak atau ibu yang berjualan itu benar-benar yang saya kadang lihat di jalan. Jadi kadang menyentuh hati ceritanya, dan membuat bisa nangis juga melihatnya. Ternyata kisahnya seperti ini. Kalau saya mulai lebih tertarik itu yang bapak-bapak tambal ban.

Yulistia merasa sangat terbantu dengan Komunitas Ketimbang Ngemis karena ....

YULISTIA: Terpercaya, tepat sasaran, dan Insyaallah amanah. Pasti cepat sampainya kan, ke orangnya.

Lewat Komunitas Ketimbang Ngemis, Lydia Safitri berharap tidak ada lagi pengemis di Kota Pontianak. 

LYDIA: Yang kami harapkan itu, semoga saja mereka hatinya tergerak untuk tidak mengemis. Kami cuma mengharapkan mereka terinspirasi dari sosok-sosok yang kami angkat.