[SERIAL] EPISODE 1: Racun Radikalisme

Setidaknya 23 aksi teror terjadi 3 tahun terakhir. Ide kekerasan ini selalu lahir dari orang dewasa. Tapi lantas mereka mengajak anak-anak. Bagaimana racun radikalisme dijejalkan?

Senin, 29 April 2019

Terorisme membawa luka. Itu jelas. Luka kepada warga tak berdosa yang menjadi korban. Juga luka pada keluarga korban pelaku teror yang ditinggalkan.

Termasuk, anak para pelaku aksi terorisme. 

Mereka yang hidup, tumbuh serta beberapa diajak orangtua mereka yang jadi pelaku aksi terorisme. Mereka adalah korban. 

KBR menyajikan serial khusus menyoroti anak-anak yang jadi korban terorisme. Demi melindungi para bocah, identitas mereka kami samarkan.

Ikuti Serial "Hidup Usai Teror" episode ke-1: Racun Radikalisme.


PERINGATAN! Seri liputan ini memuat konten yang boleh jadi mengganggu bagi sebagian orang.

- Hidup Usai Teror episode 1 - Racun Radikalisme
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Ilustrasi Racun Radikalisme

[MUSIK]

ZAINAL: Jihad itu akan masuk surga, dapat ini dapat itu… termasuk bidadari itu.

Ahmad Zainal Muttaqin, pekerja sosial di Kementerian Sosial. 

Yang ia baru saja sebut adalah apa yang pernah disampaikan anak dampingannya. Kita panggil saja bocah ini, Rambu.

ZAINAL: Dia akan ketemu bidadari ketika berjihad, akan masuk surga, lalu akan ketemu 40 bidadari.. Ya hampir sama bayangannya dengan orang-orang radikal dewasa yang sudah memahami. Maka akhirnya dia kuat (ingin jihad).

[AUDIO SUARA ANAK-ANAK SEBELUM SENAM PAGI DI RUMAH PERLINDUNGAN]

Rambu usianya delapan tahun. Rambutnya jabrik, tapi rapi. Tubuhnya kecil, namun mata mungilnya tak gentar menatap setiap lawan bicara.

Pada jumpa pertama kami, Rambu mengenakan jersey Real Madrid. Belakangan saya tahu, kalau itu klub kesukaannya. Meski suka sepakbola, ia baru mau menapak lapangan setelah dua pekan perkenalan.

ZAINAL: Dia menangis, merenung, tidak mau dekat dengan pekerja sosial, apalagi khususnya dengan yang nonmuslim. Langsung dia bilang: kafir, thogut!

Thogut, artinya setan yang disembah manusia. 

Penolakan Rambu tak membuat Zainal gentar. Ia terus mengajak bocah itu main bola, juga nonton film. Tak sampai sebulan, keduanya sudah akrab.

Selain Rambu, Zainal juga mendampingi 8 anak lainnya. Rambu, satu-satunya korban jaringan terorisme.

ZAINAL: Anak tersebut ketika pertama datang, dia tertutup. Ditanya pun dia diam. Salim pun nggak mau. Enggak mau salim. Dan ketika menanyakan, apalagi yang terkait orangtuanya, apalagi pertanyaan yang mengingatkan orangtuanya, langsung menangis.

[AUDIO SUARA ANAK-ANAK DI SEKOLAH KAWASAN RUMAH PERLINDUNGAN]

[MUSIK]

Rambu, bungsu dari tiga bersaudara. Bapak ibunya merencanakan pengeboman, tapi keburu meledak sebelum aksi teror dilakukan. Orangtua dan kakak sulungnya tewas.

Rambu dan kakak keduanya selamat, dengan luka di beberapa bagian tubuh. 

Sejak itu mereka pindah dari kota asalnya ke rumah perlindungan milik negara.

[AUDIO ANAK-ANAK DI RUMAH PERLINDUNGAN, BERKEGIATAN]

Dua bersaudara lantas dirawat Kementerian Sosial. Mereka bercampur dengan anak-anak korban kasus lainnya; seperti perdagangan manusia.

Pendamping lainnya, Sri Wahyuni, menilai anak-anak seperti Rambu sekilas tampak seperti anak lainnya. Hanya lebih tertutup. 

SRI: Dingin. Ekspresinya, ketika kami tanya itu nggak mau menjawab. Waktu awal datang itu kami minta sekolah nggak mau. Ada yang memang nggak mau cerita langsung, lalu kami kasih kertas, akhirnya menulis.

Sri mendampingi 10 anak, dua di antaranya korban jaringan terorisme.

SRI: Kalau F lebih banyak geleng-geleng, tidak menjawab, hanya geleng-geleng saja.

[AUDIO ANAK-ANAK MEMBACA PANCASILA]

Ciri khas lainnya, alergi dengan simbol kenegaraan. Bungkam ketika diajak menyanyikan lagu kebangsaan atau melafalkan Pancasila. 

SRI: Waktu awal datang itu kan saya tanya, “Di antara kalian ada tidak yang hapal Pancasila?" Yang satu itu H, sambil berdiri di situ dia bilang: "Saya tidak mau!" Tapi lama-lama dia malah yang hapal duluan, dia yang semangat. Lalu ikut kegiatan-kegiatan di kami. Itu perubahan yang terjadi.

Sustriana Saragih adalah psikolog yang mendampingi anak korban terorisme. 

Menurut dia, sikap itu dibentuk karena orangtua menanamkan kebencian dan rasa curiga.

SUSTRI: Jadi saat itu saya melihat level of takfiri, kecenderungan untuk mengkafirkan orang lain: PNS, yang beda agama, yang tidak beriman kepada Allah, polisi, itu adalah orang-orang yang kafir. Jadi level takfirinya tinggi. Kemudian komitmen to violencenya tinggi: berkomitmen anak mau mengeksekusi aksi terorisme, mau ngebom.

SUSTRI: Saya bisa menyimpulkan anak-anak itu redzone, tingkat radikalismenya tinggi.

Sustri tergabung dalam C-SAVE, jaringan koalisi masyarakat sipil yang fokus pada pencegahan radikalisme. 

SUSTRI: Agen yang paling tepat untuk melakukan proses radikalisasi itu adalah  orangtua memang. Karena kalau orangtua, encounter dengan anak itu terus-menerus, setiap hari.

Jadi kalau kita mau menanamkan yang baik atau yang buruk ke anak, yang paling efektif adalah orangtua. Nah, pada kasus anak-anak kita ini, yang diajarkan orangtua bukan nilai-nilai kasih sayang, kebaikan, dan toleransi, tetapi jihad.

- ungkap Sustriana Saragih

[AUDIO ILUSTRASI VIDEO PERANG]

Ayah Rambu selama dua tahun berturut-turut membikin semacam bioskop kecil sebelum tidur.

[MUSIK]

SUSTRI: Yang mereka tonton, ada jihadis yang rela badannya disayat-sayat sampai kelihatan tulang dan darah. Yang ditonton video Amrozi. Jadi saya tanya ke anak-anak, ingatan apa atau kenangan apa yang mereka dapat dari video jihad? Mereka ceritakan seektrim, seagresif itu lah yang mereka tonton sehari-hari.

Bayangan akan hidup yang mengerikan, memerangi orang yang dianggap kafir, lalu mati masuk surga tak pelak jadi mantra setarikan napas yang seliweran di kuping para bocah.

SUSTRI: Sebelum tidur, anak disodorkan video jihad. (jeda)

SUSTRI: Aduh, saya kalau ingat-ingat ini, sampai sekarang masih kebayang sama anak-anak kita.. kasihan sekali…”

REPORTER: Frekuensinya sering?

SUSTRI: (mengangguk-jeda) Iya, sering. Karena sudah nggak sekolah kan anak-anak itu.

Orangtua juga membatasi pergaulan anak-anak mereka. 

SUSTRI: Gambaran anak-anak kita ini sebelum peristiwa teror/ledakan itu, bukan anak-anak yang normal seperti normalnya anak. Mereka tidak diizinkan keluar untuk main, harus di rumah. Kemudian anak tidak diberi akses mendapat pendidikan, tidak diizinkan sekolah.

Beberapa berhenti sekolah umum atau belajar di rumah.

SUSTRI: Di rumah itu tontonannya tentang jihad, diskusinya tentang jihad, komunitasnya pengajian soal jihad. Maka itulah produknya, anak-anak yang siap mati. Anak-anak yang kalau diajak ngebom, mau.

Secara berkala, bocah-bocah juga mulai dikenalkan dengan latihan fisik, cerita salah satu pendamping di rumah perlindungan milik negara, Tuti Nurhayati.

TUTI: Sering naik gunung juga. Nah ternyata kan orangtuanya memang sangat kuat sekali untuk menguatkan mental fisik anak-anaknya. Misalnya dengan cara hiking ke gunung atau ke alam. Untuk menguatkan mereka.

Psikolog dan anggota C-Save Sustriana Saragih mengingatkan, anak-anak ini adalah korban. 

SUSTRI: Anak-anak tadi tidak pernah memilih dilahirkan di keluarga mana. Tidak pernah meminta ayahku teroris, ibuku teroris, mereka dilahirkan di keluarga itu ya… bukan karena kesalahan mereka, bukan karena mereka.

Malangnya, dalam kasus terorisme, anak tak sepenuhnya ditempatkan sebagai korban.