Kami Tak Jual Alam, Kisah Perjuangan Suku Molo & Pubabu

Beberapa lelaki Molo duduk sembari menggelung kaki, di rumah adat setempat yang disebut Lopo, di Nausus, Molo Utara, Nusa Tenggara Timur. Mereka menyanyikan lagu berjudul Batu Naitapan, sambil mengikuti iramanya dari sebuah rekaman di telepon seluler.

SAGA

Rabu, 17 Apr 2013 17:57 WIB

Author

Arin Swandari

Kami Tak Jual Alam, Kisah Perjuangan Suku Molo & Pubabu

Suku Molo Pubabu, Timor Tengah Selatan, NTT, mama Aleta

Apa yang tak bisa dibuat tak akan dijual. Karena hutan, tanah, air dan batu tak bisa dibuat maka Suku Molo dan Pubabu Besipae di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, tak akan pernah menjual sumber alam itu. “Belilah meja, akan kami buatkan, belilah padi biar kami tanam.” Begitu mereka berseru kepada sejumlah perusahaan tambang yang ingin mencabik-cabik gunung dan hutan mereka. Reporter Arin Swandari menemui mereka setahun lalu. PortalKBR merilis cerita ini kembali sebagai penghormatan terhadap rakyat Timor Tengah Selatan, dan Mama Aleta yang meraih penghargaan internasional Goldman Environmental Prize 2013.


Warga Adat Molo Usir Tambang Marmer

Beberapa lelaki Molo duduk sembari menggelung kaki, di rumah adat setempat yang disebut Lopo, di Nausus, Molo Utara, Nusa Tenggara Timur.

Mereka menyanyikan lagu berjudul Batu Naitapan, sambil mengikuti iramanya dari sebuah rekaman di telepon seluler.

Lagu itu diciptakan masyarakat adat setelah gunung batu Naitapan diiris habis oleh PT Sumber Alam Marmer. Dari perbukitan di Nausus, Gunung Naitapan hanya tampak seperti lapangan berwarna putih tak terurus.

Desa Nausus juga nyaris kehilangan semua gunungnya.

Pagi itu di Nausus, salah satu tempat tinggal suku Molo. Begitu pintu Lopo dibuka yang tampak adalah gunung batu Nausus yang sudah terbelah dan juga potongan batu besar-besar seukuran kira-kira 2 meter kali dua meter dengan ketebalan satu meter milik perusahaan tambang marmer yang diusir warga.

Demonstrasi warga pada 1999 dan berlanjut hingga 2001, berhasil mengusir PT Karya Asta Alam dari Nausus.

Sebelumnya perusahaan asal Thailand itu sempat menghabisi Gunung Batu Anjaf, di lokasi yang sama.

Tokoh Adat Molo Pieter Oematan menceritakan perjuangannya bersama warga Nausus lainnya.  Selama tiga bulan mereka mengintai aktivitas pertambangan.

“Capek, tapi karena biasa berkumpul bawa pisang, nasi thiwul, ubi kayu, beras, buat kita bisa berkumpul, bergerak dan berjuang, maju mundur. Malam-malam kita tidur di sini. Waktu itu selama tiga bulan kita tidur di danau sana mengintai karena perusahaan waktu itu belum keluar.”

Titik awal perjuangan warga adalah di Lopo-lopo atau rumah adat. Inilah markas perjuangan masyarakat adat Molo, tutur pemimpin perjuangan, Aleta Baun.

Bersambung Ke Bagian II

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal