Berbekal Peta Adat, Mereka Pertahankan Alam Molo!

Oat yang dimaksud Aleta Baun adalah Organisasi Masyarakat Adat Attaemamus yang ia dirikan. Nama ini bermakna pelindung pengayom dan memperbaiki yang rusak.

SAGA

Rabu, 17 Apr 2013 17:38 WIB

Author

Arin Swandari

Berbekal Peta Adat, Mereka Pertahankan Alam Molo!

Goldman Environmental Prize, Mama Aleta, peta adat, Timor Tengah Selatan

Apa yang tak bisa dibuat tak akan dijual. Karena hutan, tanah, air dan batu tak bisa dibuat maka Suku Molo dan Pubabu Besipae di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, tak akan pernah menjual sumber alam itu. “Belilah meja, akan kami buatkan, belilah padi biar kami tanam.” Begitu mereka berseru kepada sejumlah perusahaan tambang yang ingin mencabik-cabik gunung dan hutan mereka. Reporter Arin Swandari menemui mereka setahun lalu. PortalKBR merilis cerita ini kembali sebagai penghormatan terhadap rakyat Timor Tengah Selatan, dan Mama Aleta yang meraih penghargaan internasional Goldman Environmental Prize 2013.

Kami Tak Mau Merusak Alam


“Ini adalah basecamp, markas perjuangan, kalau mau ke desa-desa masih jauh lagi, ada 2 kilometer, tiga kilometer, ada 6 ada 10 kilometer, ada juga yang 40 kilometer kita jalan kaki. Ini semua dari Suku Molo karena Oat dulu berdiri karena perjuangan Molo.” 

Oat yang dimaksud Aleta Baun adalah Organisasi Masyarakat Adat Attaemamus yang ia dirikan. Nama ini bermakna pelindung pengayom dan memperbaiki yang rusak.

Usai tambang marmer berhasil diusir, organisasi ini meneruskan perjuangan dengan cara membuat peta tanah adat. Peta itu adalah bukti kepemilikan mereka atas tanah ulayat yang tak bisa sembarang diganggu, tutur Lodiana Kaba.

“Bikin peta adat berhasil untuk 7 desa di Molo. Lima desa diantaranya sudah pengesahan. Kami  petakan saat musim hujan, jadi kami jalan siang malam tahan lapar tahan kantuk. Dari belasan orang, saya perempuan sendiri. Dengan peta itu kita bisa kita tunjukan kepada investor atau (dinas -red) kehutanan, kalau meraka akan datang mau merusak alam, kita bisa tunjukan mereka tak bisa lagi masuk, karena kami sudah punya peta. Artinya kami sudah menang dengan adanya peta ini.”
 
Siapa yang mengesahkan?
 
“Masyarakat 5 desa dan waktu itu juga hadir dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.”

Organisasi Masyarakat Adat Attaemamus juga mengajari warga Molo mengembangkan teknik bertani ramah lingkungan serta beternak. Para perempuan didorong mengembangkan motif tenun.

Sekitar 5 km dari Nausus, di desa Kwanwel, Elisabeth Anin Oematan sedang menenun.

Pada 2006 lalu, selama berbulan-bulan Elisabeth bersama perempuan lainnya melakukan aksi menenun kain di lokasi tambang marmer Teja Sekawan.

“Iya sedang hamil itu saya tidak masuk rumah, pokoknya duduki tempat lokasi, kegiatan hanya menenun di lokasi, siang malam. Lalu aksi ke kantor Gubernur, untuk usaha agar bisa cabut izin pertambangan. Kami korban satu balok batu. Lama kelamaan sudah akan adu fisik antara yang pro dan kontra. Izin tambang belum dicabut, tapi waktu itu kami katakan, cabut atau tidak surat izin asal jangan kembali rambah batu. Batu kami yang jaga.”

Warga menduduki lereng-lereng Gunung Batu Fatuliki, menghentikan aktivitas tambang yang memotong gunung batu itu, sambung seorang tokoh adat Wiliambae Satu.

“Semua masyarakat sini kami punya kebun di sekitar batu, tidak mau merusak alam. Kalau rusak alam berarti kami mau tinggal di mana, mau makan apa? Kebun semua di sekitar pohon batu. Kami duduk sama-sama, gelar tikar, tidur kayak sapi. Siang malam. Hujan-angin. Karena kami punya batu adalah nama dan sejarah dari nenek moyang. Jadi kami tak mau merusak itu.”


Bersambung Ke Bagian III

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal