Tepis Stigma Janda Dipandang Sebelah Mata

Diskriminasi dan stereotip memberi beban ganda bagi perempuan berstatus janda

Acara Gathering and Sharing komunitas Save Janda pada 2019. (Foto: dok Save Janda).

Senin, 07 Maret 2022

KBR, Jakarta - Bertin Tiara mendapat pengalaman tak menyenangkan sesudah bercerai. Sejak resmi berstatus janda pada Maret 2020 lalu, banyak laki-laki yang mendekati. 

Tak sedikit yang mengarah ke pelecehan seksual. Perilaku itu bahkan ditunjukkan koleganya sendiri, seorang guru yang bekerja di sekolah yang sama. 

Tiara pernah diajak berhubungan intim dengan imbalan uang.

"Pertama kali ga nyadar. Aku pikir si bapak ini, minta temenin ke Bandung, karena dia udah mau pensiun, terus ga kuat nyetir jarak jauh. Setelah ajakan kedua, itu baru ngeh. Berarti itu maksa ngajakin itu, karena dia langsung ngomong mau berapa?,” kata Tiara. 

Akun media sosial Tiara juga diserbu pesan dari pria yang ingin berkenalan. 

"Jadi di-IG, di-FB itu semuanya pasti menjurusnya ke open BO," tutur dia. 

Ada juga yang memakai akun palsu dan diduga bermaksud menipu. 

Untungnya, warga Bekasi kelahiran Yogyakarta ini sigap memilah ancaman di jagat maya.

"Aku juga ga ngerti kenapa setelah ketok palu itu banyak cowok yang akhirnya DM-DM. Iseng ikutan Tinder, masak baru seminggu, semuanya pada ngajakin open BO. Jadi aku, 'ah udahlah ga beres ini',” kisah guru SMP ini.

Baca juga: Cadar Garis Lucu, Upaya Muslimah Bercadar Kikis Stigma

Bertin Tiara menjanda setelah 6 tahun menikah. Ia menjadi ibu tunggal bagi anaknya yang kini berusia 5 tahun. (Foto: dok pribadi).

Para tetangga di lingkungan sekitar rumahnya pun kerap menggunjing tentang status janda Tiara.

“Ya image-nya janda kan perempuan gampangan. Kalau pas aku bawa teman cowok datang ke rumah, itu mereka pasti memandangnya, 'oh dasar gatel, nakal, gini gitu'. Tetangga yang dekat ya itu bilang, 'dianggap selingkuh mbak, cerai itu'. Oh berarti bukan dari pihak laki-laki yang selingkuh tapi aku yang dianggap selingkuh? Perempuannya yang selalu salah,” keluhnya. 

Saking lekatnya stigma janda, ibu Tiara menyarankannya tidak usah menikah lagi.

“Kalau ga nikah dianggap ga laku. Kalau nikah lagi, dianggap doyan kawin. Makanya ribet kan,” celetuk Tiara. 

Tiara sedikit banyak terbantu menjalani hidup barunya usai bergabung dengan komunitas Save Janda. Ibu satu anak ini menjadi anggota sejak April 2020 atau sebulan setelah resmi menjanda. 

Di komunitas itu, ia bisa berbagi pengalaman dan saling menguatkan dengan para janda lain. Tiara juga dilatih menulis cerpen sebagai salah satu sarana pemulihan diri (self-healing).

“Ternyata ada lho yang masalahnya lebih berat dari aku. Jadi, sedih boleh tapi jangan terus-terusan. Kalau yang masalahnya lebih berat dari aku, bisa kok. Masa aku enggak. Sebenarnya jadi lebih termotivasi," kata perempuan yang pada 2022 berusia 39 tahun ini.

Baca juga: Puan Penyelam Gandeng Difabel Gaungkan Kesetaraan

Komunitas Save Janda tampil di Jakarta Ramadhan 2019, yang meliputi kegiatan fashion show plus talk. (Foto: dok Save Janda)

Kini, Tiara ingin fokus menata hidup dan membesarkan anak semata wayang. Ia butuh kerja ekstra untuk menjalani peran barunya. Beban berat itu bisa terasa lebih ringan ketika lingkungan sekitar bersikap adil terhadap janda.

“Kenapa emang kalau janda? terus dianggap jadi gampangan. Malah dikira kalau janda itu terus mauan, dikasih duit mau, padahal enggak. Malah ibu tunggal itu perjuangannya berat banget. Udah sakit hati dengan pernikahan yang lama belum sembuh, dengan orang lingkungannya yang kayak gitu. Kalau punya anak, harus gedein juga. Terus cari uang juga, itu yang berat,” ucapnya.

Pengalaman Tiara menunjukkan stigma terhadap perempuan bercerai belum beranjak jauh, sejak Mutiara Proehoeman mendirikan Save Janda pada 2016 silam.

Persepsi bahwa janda itu aib, hina dan memalukan masih sulit dibongkar. Imbasnya ikut dirasakan Mary Silvita, Law and Advocacy Lead di Save Janda.

Padahal, ia belum pernah menikah. 

Keluarga Mary sendiri kerap memintanya keluar dari komunitas itu. Ia sudah aktif di sana sejak akhir 2018. 

“'Kamu itu nanti disangkain janda'. Mamaku dan adikku terganggu banget dengan itu. Kalau pun dianggap janda juga nggak apa-apa. Justru itulah kita perjuangkan (hapus) stigma terhadap janda. Saking lekatnya, stigma janda, siapapun yang nempel ke situ, jadi kena juga," ujar Mary.

Baca juga: Rumah Inspirasi, Memupuk Inspirasi dan Melawan Diskriminasi sejak Dini

Mary Silvita, Law and Advocacy Save Janda. (Foto: dok pribadi).

Pelan namun pasti, Mary berhasil mengedukasi ibu dan saudaranya. Kini mereka berbalik memberi dukungan penuh. 

"Saya suka cerita, pengalaman kita yang penderitaannya parah banget. Kan mereka punya empati, kasihan banget, terus kita bantu. Jadi teredukasi, terbentuk sendiri pemikiran yang baru tentang status janda,” kata dia. 

Mary menyaksikan sendiri label janda sebagai warga kelas dua, seakan diamini di level pemerintahan. Momen itu tampak nyata saat ada diskusi bersama wakil rakyat di Senayan, tentang revisi batas usia perkawinan. 

“Dari awal perkenalan, 'saya Mary dari Save Janda' semua orang ketawa, satu parlemen, satu ruangan. Betapa kata janda itu something, sehingga membuat kita semua tertawa kemudian diam. Saya ingin capture itu aja, itu nyata. Jadi janda itu kayak banyolan banget sampai diketawain,” kisahnya.

Meski perubahan paradigma belum tampak, setidaknya ada progres kecil dari upaya edukasi. Jelang akhir 2021 misalnya, Save Janda mengecam Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengizinkan kadernya poligami dengan janda. Protes ini mendapat dukungan publik sehingga parpol tersebut minta maaf. 

"Parpol itu lantas mencabut aturan itu. Seruan poligami apalagi terhadap janda, itu bukan seruan yang baik. Dan publik akhirnya belajar, oh ya kita ga boleh lho, janda itu bukan manusia kelas dua," tegas Mary yang berprofesi sebagai peneliti ini.

Baca juga: Insani Teater Cilincing, dari Gang Sempit Kalibaru Tolak Kawin Anak

Save Janda fokus melakukan edukasi dan advokasi dengan tujuan utama menghapus stigma terhadap janda. (Dok: Save Janda)

Selain edukasi, Save Janda juga melakukan advokasi hukum untuk para anggota. Mary banyak membantu anggota mengurus perceraian dan hak asuh anak. Ke depan, edukasi dan advokasi itulah yang bakal digarap Save Janda. Tujuannya tetap sama yakni menghapus stigma buruk terhadap janda. 

“Semua perempuan berpotensi jadi janda setelah menikah. Lantas atas dasar apa perempuan dengan status janda itu pantas untuk dilecehkan atau direndahkan? Mestinya janda itu status netral saja, single misalnya, menikah tidak menikah, janda, duda, itu status saja. Tidak perlu ada konotasi, stigma tertentu, sehingga orang tidak terbebani menyandang predikat janda," pungkas Mary.

Dengarkan Saga episode Tepis Stigma Janda Dipandang Sebelah Mata di KBR Prime, Spotify, Apple Podcast dan platform mendengarkan podcast lainnya.