Puan Penyelam Gandeng Difabel Gaungkan Kesetaraan

Komunitas Penyelam Profesional Perempuan dan kelompok difabel melakukan penyelaman bersama di kawasan Simprug, Jakarta, Minggu (8/3/2020)

Selasa, 10 Maret 2020

Puan Penyelam Gandeng Difabel Gaungkan Kesetaraan


Hari Perempuan Internasional tahun ini mengusung tema soal kesetaraan. Berbagai kelompok perempuan memperingatinya dengan beragam cara. Di Jakarta, para puan penyelam profesional turut ambil bagian dengan menggandeng kelompok difabel. 

 

- Puan Penyelam Gandeng Difabel Gaungkan Kesetaraan
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Jakarta - Panas terik mentari tak membuat jeri Nadhifa Ramadhani untuk mencicipi pengalaman baru. 

Dengan cekatan, Nadhifa beranjak dari kursi roda, melepas kaki palsu, kemudian meletakkannya di bangku ruang tunggu kolam renang

Perempuan difabel ini lantas turun ke kolam dan memasang peralatan selam dibantu dua instruktur profesional. 

Tak berapa lama, Nadhifa mulai menyelam, menyusuri dasar kolam selama 20 menit.

Instruktur dan kawan-kawannya sontak bersorak begitu kepala Nadhifa perlahan menyembul di permukaan air. Perempuan 21 tahun ini sukses melakukan penyelaman pertamanya. 

"Seru banget sih, karena aku sudah ingin nyoba-nyoba dari lama soalnya dari dulu berenang kan, terus suka nyelam ke bawah gitu, jadi seru," kata Nadhifa saat ditemui di kolam renang kawasan Simprug, Jakarta Selatan, Minggu (8/3/2020).


Nadhifa dan sembilan orang dari kelompok difabel Jakarta diajak Komunitas Penyelam Profesional Perempuan Indonesia (KP3I). Pengalaman seru ini menjadi spesial karena bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, yang diperingati saban 8 Maret. 

"Kalau ada kesempatan lagi mau sih. Karena opportunity gini kan buat disabilitas masih kurang. Orang-orang masih belum banyak yang tahu. Bisa saja kan banyak difabel yang bisa diving juga. Jadi lebih banyak lagi. Kita bisa. Perempuan, difabel, bisa!" ujar Nadhifa yang juga dikenal sebagai pebasket ini.  


Lain halnya dengan Cucu Saidah yang sudah beberapa kali melakukan penyelaman. Perempuan tuna daksa ini bahkan pernah menyelam dengan kondisi lebih ekstrem, yakni di laut lepas.

"Kalau saya mungkin pengalaman waktu di laut aja. Cukup ekstrem, berdua sama suami saya, Faisal. Yang di Lombok dan Bali, karena kedalamannya sudah sekitar 12-16 meter," tutur Cucu yang juga pendiri Jakarta Barrier Free Tourism. 

Bagi Cucu, menyelam hanya satu dari banyak kegiatan ekstrem yang mampu dilakoni penyandang disabilitas, termasuk perempuan. Namun, Cucu mengakui hingga kini masih banyak hambatan karena ketiadaan akses dan dukungan.

"Kita sebagai perempuan dengan disabilitas, no matter what, kita bisa kok lakukan kegiatan apapun. Selama akses dan support dari lingkungan," tegasnya.

"Orang suka menggunakan, istilah orang dengan keterbatasan. Sebenarnya yang terbatas apa sih? semua orang juga akan terbatas, kalau dibatasi kan,"

- Pendiri Jakarta Barrier Free Tourism, Cucu Saidah

Kegiatan Komunitas Penyelam Profesional Perempuan (KP3I) bersama dengan kelompok difabel kental dengan pesan tentang kesetaraan. Pesan tersebut selaras dengan tema Hari Perempuan Sedunia tahun ini, Each for Equal. 

Ketua KP3I, Mimi Amalia mengatakan, komunitasnya ingin menepis anggapan bahwa kegiatan ekstrem hanya bisa dikuasai laki-laki. 

Menurutnya, penyelam profesional memiliki kompetensi dan kualitas yang sama, tak peduli perempuan maupun laki-laki. Meski begitu, ia mengakui sampai saat ini, jumlah penyelam profesional dari kalangan perempuan masih sedikit. 

"Perempuan yang jadi instruktur itu sangat sedikit. Nggak sampai seribu dibanding penyelam yang lain. Kalau penyelam yang bukan pro sih banyak banget yang perempuan, ratusan ribu. Tapi yang menjadi pro itu sedikit. Perbandingannya jomplang dengan laki-laki, 70:30 persen. Kita benar-benar sangat sedikit,” tutur Mimi. 

Kegiatan menyelam di Hari Perempuan Internasional sekaligus untuk menyebarkan optimisme tentang kesetaraan kepada kelompok difabel. 

“Kita ingin memberikan kesempatan kepada teman-teman difabel ini bahwa mereka bisa melakukan scuba diving. Mereka itu equal lho sama kita. Kenapa enggak? Walaupun punya keterbatasan halangan, tapi mereka bisa melakukan hal-hal yang sama dengan kita,” ujar dia. 

Mimi bermimpi suatu saat ada perempuan difabel asal Indonesia, yang sukses menjadi penyelam profesional. Jika hal itu terwujud, maka akan menjadi prestasi spektakuler dan inspiratif.

"Penyelam perempuan saja berat untuk menjadi seorang instruktur, apalagi kalau ada teman-teman difabel di Indonesia terutama, yang berniat untuk mengambil sertifikasi sampai beliau menjadi instruktur. Itu oke banget. Amazed banget sih. Kalau di luar (negeri) sudah banyak," ungkap Mimi.