Traveling ala Peace Train, Ajarkan Anak Muda Tentang Perbedaan

"Ketika ditanya, orang Cina bermata sipit, anak-anak menjawab: itu kafir. Nah ini sangat berbahaya bagi saya untuk anak usia dini sudah berpikiran seperti itu."

Peserta Peace Train. (Foto: KBR/ Dwi Reinjani)

Senin, 25 Maret 2019

-

DWI REINJANI, NARATOR:

[AUDIO SUARA MESIN DAN KLAKSON KERETA]

ELA PERSI: Peace Train ini tujuannya untuk mengajak anak muda untuk lebih aktif lagi dalam perdamaian, untuk menyebar perdamaian. Mereka diajak mengenal agama lain, langsung mengunjungi tempat-tempat ibadah. Misalnya ke Gereja, ke Pura, ke Vihara. Dan tidak lupa Peace Train mengajak para peserta untuk mengenal kaum minoritas seperti Ahmadiah, Syiah, aliran kepercayaan seperti Sapto Dharmo, Sunda Wiwitan.

Mundiroh Lailatul Munawaroh, disapa Ela Persi. Perempuan 29 tahun ini aktif menggerakkan kegiatan Peace Train.

Anak muda dari berbagai tempat, berkunjung ke daerah lain, dengan kereta. Tak sekadar travelling tapi sekaligus belajar lebih jauh soal makna Bhinneka Tunggal Ika.

[AUDIO SUARA ANAK-ANAK BERMAIN DAN NGOBROL]


Ella lahir dan besar di Madura. Ia kaget ketika terjadi konflik Sunni-Syiah di Sampang pada Agustus 2012--ketika kampung warga Syiah diserang dan dibakar masyarakat. 

ELA PERSI: Waktu itu saya sedang menyelesaikan magister, saya sempat shock ketika mendengar ada konflik Sunni-Syiah di Sampang, karena orang Madura itu dikenal dengan solidaritasnya. Saya kaget ketika ada konflik sesama orang Madura sendiri mengatas namakan aliran keagamaan. 

Sejak itu, warga Syiah harus mengungsi. Sampai sekarang. 

Semula ia tak sadar akan konflik Sampang karena lingkungan sekitarnya tak pernah membicarakan peristiwa itu. 

Matanya baru terbuka ketika ada kajian peristiwa Sampang di bangku kuliah. 

Ela lantas mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

ELA PERSI: Saya termotivasi dari situ. Saya melihat cara berpikir di Madura masih terlalu sempit untuk toleransi, untuk yang berbeda. Jadi saya kira perlu orang Madura mengenal agama lain, mengenal langsung ke tempat ibadah lain, selain Islam karena orang Madura mayoritas Islam.

Sejak 2017, Ela mulai bergabung sebagai fasilitator program Peace Train. 

ELA PERSI: Awal kenal dari Peace Train Indonesia, saya mengenal dari media sosial Facebook. Waktu itu saya berteman dengan penggagas Peace Train, Bapak Ahmad Nurcholis. Ketika itu Peace Train mengadakan kunjungan ke Surabaya.


Selama Ela menjadi fasilitator, ia banyak menemukan pengalaman unik dari para peserta. 

Misalnya di perjalanan Peace Train 4, ketika peserta travelling dari Madura menuju Surabaya dan Jakarta. 

ELA PERSI: Ketika itu ada peserta dari Madura, pertama kali berkunjung ke rumah ibadah lain. Pertama kali menginjak masuk gereja kakinya itu gemetar, bahkan membaca syahadat, takut dia jadi kafir gitu. Tapi setelah proses berjalan, diskusi berjalan di dalam gereja dia mulai enjoy dan mulai memahami makna toleransi yang sesungguhnya.

Aminullah, 21 tahun, adalah mahasiswa yang diajar Ela. Ia juga peserta Peace Train. 

AMINULLAH: Pada zaman sekarang ini toleransi itu tidak cukup hanya dipelajari. Tapi bagaimana kita merasakan dan benar-benar melakukan, minimal lah bisa berbaur dengan orang-orang yang beda kepercayaan, beda agama, budaya dan lain sebagainya. Karena memang yang kita tahu bahwa Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika, selama ini kita hanya sebatas di buku pelajaran di mata kuliah. Nah di Peace Train Indonesia ini kita benar-benar merasakan Bhineka Tunggal Ika itu seperti apa.

Perjalanan Peace Train terakhir adalah ke Banten, bertemu Suku Baduy, mengunjungi vihara, gereja dan bertemu tokoh-tokoh agama lainnya.


Kelompok Ahmadiyah Surabaya pernah juga jadi tujuan “wisata toleransi” Peace Train. 

Rafiq, pengurus Ahmadiyah setempat. 

RAFIQ: Kami ajak untuk live-in di salah satu kampung di jemaah Ahmadiyah Jawa Barat. Mereka memahami betul dengan melihat, merasakan, berkomunikasi.

Kunjungan lintas agama ini, kata tokoh agama Budha Romo Sakya, bisa menekan kecurigaan antar agama. 

ROMO SAKYA: Dengan mengetahui ajaran-ajaran mazab yang lain setiap orang itu mengetahui dan bisa menghargai.

[AUDIO SUARA MESIN KERETA]

Lewat Peace Train, Ela ingin turut berkontribusi dalam menyikapi perbedaan. 

ELA PERSI: Saya bertanya tentang Bhinneka Tunggal Ika. Mereka tahu, banyak  bahasa, banyak budaya, banyak agama --- mereka tahu. Ketika ditanya, orang Cina bermata sipit, anak-anak menjawab "itu kafir". Nah itu sangat berbahaya bagi saya untuk anak usia dini sudah berpikiran seperti itu.