Belajar Toleransi dari Homogen ke Heterogen untuk Perdamaian

Persinggungan dengan orang yang berbeda agama, rupanya ikut berpengaruh pada sikap intoleran. Jurnalis KBR menemui Dessy, yang dulu cenderung intoleran tapi kini aktif memperjuangkan toleransi.

Rabu, 27 Maret 2019

-

DWI REINJANI, NARATOR:

[AUDIO RIUH ANAK DI TENGAH KEGIATAN BELAJAR]

Perempuan berkerudung itu duduk di tengah lapangan. Di hadapannya ada puluhan anak korban pengusiran Syiah di Sampang, Madura. 

Tahun 2012 lalu, ratusan jemaah Syiah diusir dari kampung halaman mereka di Sidoarjo, lantas tinggal di pengungsian ini. 

Dessy Fajarwati Lesmana, perempuan 23 tahun itu mengajar Matematika, Bahasa dan Agama untuk anak-anak ini. 

[AUDIO DESSY SEDANG MENJELASKAN MATERI PELAJARAN]

Sudah setahun belakangan Dessy aktif mengajar di tempat pengungsian. Salah satu pelajaran yang paling sulit, kata Dessy, adalah Bahasa Indonesia. 

DESSY: Karena di pengungsi Syiah hampir semua anak-anaknya itu bahasa Indonesianya kurang, jadi yang bisa bahasa Indonesia itu cuma satu, mbaknya, satu orang, sisanya udah engga ada yang bisa. Jadi kaya yang apa ya susah gitu. Tapi ya asik sih.


Rohmah, salah satu pengungsi sekaligus pengajar, mengatakan, kehadiran Dessy membawa semangat baru bagi anak-anak. 

ROHMAH: Kegiatannya Mbak Dessy di sini, main sama anak-anak, ngajarin anak-anak. Ya sambil apa sih setau saya selama mereka bergabung di sini, beliau selalu membawa suatu kegembiraan buat anak-anak gitu.

Dessy mulai mengajar di pengungsian Syiah ini setelah mendapat “pencerahan” dari Young Interfaith Peacemaker Community, YIPC. 

Dessy sebelumnya tak banyak bergaul dengan orang yang berbeda agama.

DESSY: Kenapa ya… Karena waktu itu saya masuk universitas Islam. Kemudian saya juga bersinggungan dengan teman-teman yang berbeda itu waktu SD sampai SMP aja, setelah itu kayak yang aku kok bergaulnya sama yang sesama muslim kek gitu. Jadi ingin punya banyak teman yang lebih beda lagi sih, gimana rasanya.

Dari sekadar anggota, Dessy kini jadi fasilitator di komunitas lintas agama itu.

Ia ikut belajar, dari mana akar intoleransi berasal.

DESSY: Ada yang seneng, ada yang shock, ada yang biasa aja. Kalau yang shock biasanya karena mereka sebelumnya belum pernah bersinggungan langsung dengan yang berbeda. Jadi mereka bergaul hanya dengan orang yang sama, misal orang Kristen di pendidikan disengaja sama orangtuanya untuk di tempat-tempat orang Kristen aja gitu.


Dan "pencerahan" ini mengubah hidup Dessy.

DESSY: Kami cuma kayak punya prasangka buruk saja sih ke mereka. ----- Karena dia punya anjing kita jadi ilfeel, karena dia makan babi kita jadi ilfeel kaya gitu-gitu kan. Nah pas sudah bersinggungan langsung dengan mereka, ternyata mereka asik. Malah lebih asik mereka kebanyakan daripada temen kita sendiri.

Namun ia kerap mendapat tentangan dari dalam.

DESSY: Kalau kendala saya sendiri dari keluarga juga. Kalau dari keluarga ini, kakak. Kan dia beda pandangan sama saya, dia lebih ke Islam yang kanan gitu sih.

[AUDIO PENYIAR BACAKAN BERITA BOM]

13 Mei 2018, sejumlah gereja di Surabaya diguncang bom. 28 orang tewas, 57 orang luka-luka. Pelakunya adalah anggota Jemaah Ansharut Daulah yang terafiliasi dengan ISIS. 

Peristiwa ini sempat membuat Dessy galau.

DESSY: Bertahun-tahun kami menjelaskan ke temen-temen, muslim ini loh, perbedaan kaya gini. Ada orang-orang yang menghancurkan itu semua. Jadi kayak yang aku harus berhenti nggak ya? Kaya yang… ya sudah lah toh semua orang tahu kalau Islam itu buruk….  Jadi sempat kayak yang ya sudah lah nggak usah dilanjutin.

Tapi dorongan dari teman sesama pegiat toleransi membuat ia kembali bergerak.

DESSY: Ada temen dari Yogjakarta, dia bilang gini: ‘Ayo Des kamu harus bisa bantuin temen-temen yang jadi korban’. Jadi kayak yang… ya udah lah. Akhirnya aku buat pengumuman di group. Ayo bantu temen-temen yang di gereja ini, gereja ini. Akhirnya teman-teman datanglah hari H itu ke tempat PBNU, ada press conference.

[AUDIO AKSI DAMAI MELAWAN TERORIS]

DESSY: Malamnya ada nyala lilin 1000 lilin itu mereka ikut.

[AUDIO DESSY BERKEGIATAN; SUARA LANGKAH KAKI DAN SUASANA DESA]


Langkah Dessy semakin mantap memperjuangkan toleransi. Itu yang membuat dia terus mengajar di pengungsian anak-anak Syiah di Sampang, Madura. 

[AUDIO KEGIATAN BELAJAR DAN MENGAJAR]

Tokoh Syiah di Sampang, Tajul Muluk, berharap ada lebih banyak Dessy di sini.

TAJUL: Karena masalah konflik yang terjadi di Sampang ini kan tidak bisa hanya pemerintah saja yang berperan. Semua elemen harus berperan, ya mahasiswa, ya media, ya semua tokoh-tokoh masyarakatnya.