Sekolah SPP Sampah (IV)

Uut mempunyai cita-cita yang lebih tinggi lagi. Ia berkeinginan memiliki sekolah karakter berbasis lingkungan disetiap daerah

SAGA

Kamis, 28 Mar 2013 18:51 WIB

Author

Indra Nasution

Sekolah SPP Sampah (IV)

sampah, PAUD, depok, sekolah

Sekolah Berbasis Lingkungan

Menurut Uut, kurikulum PAUD yang dikelolanya mengkombinasikan kurikulum formal dan pendidikan karakter.”Jadi kami memkombinasikan untuk anak usia dini ada kurikulum generik, kulkuluim generik adalah kurikulum yang yang diajarkan di anak usia dini, lalu kami  juga mengkombinasi dengan pendidikan karakter yang kami dapat dari buku dan kami juga mendapatkan pelatihan dari EHF, kemudian kami kombinasi dengan pendidikan lingkungan sehingga kami menamakan kurikulum sekolah kami sebagai pendidikan berkarakter berbasis lingkungan,”

Membentuk karakter anak katanya tidak hanya dengan teori saja namun juga harus didukung dengan praktik langsung. “Ya jadi kami dalam mengajarkan ada sembilan pilar karakter dari ketuhanan toleransi sampai percaya diri, nah kesembilan itu kami ajarkan secara berulang-rulang tidak dengan teori tetapi melalui tindakan nyata, dengan bercerita, mengapilkasikan dalam kehidupan sehari-hari, saat ini itu yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat Indonesia,” terangnya.

Di sekolah ini,  Uut dibantu tiga orang guru. Mereka direkrut dari lingkungan sekitar. Awalnya para guru itu  tak mempunyai dasar  mengajar. Uut lantas membagi ilmunya. Berikut salah seorang guru Kiki Latifah  “Jadi beliau lah yang mengajar kita, jadi ini harus begini, ini untuk gini, jadi bagaimana mengajarkan menghadapi anak-anak bu Uut yang mengajarkan,  kebanyakan dari beliau belajar walaupun masih mudah tetapi pengalamannya lebih banya.”

Sang suami sangat mendukung langkah Uut. Menurut Irianto semua orang punya kesempatan membuat sekolah berkualitas dengan biaya murah.“Tidak perlu terlalu mahal sekolah itu jangan membebani orang, yang penting berkualitas,  jadi kualitas itu tidak dilihat dari mahal dan tidak sekolah, tergantung dari kreatifitas guru dan kreatifitas pengelola itu sendiri.”

Uut yang juga psikolog jebolan salah satu universitas di Jepang ini, sudah sering menularkan idenya  ke PAUD lain. “Saya sering mengajak rekan-rekan sesama pengelola PAUD untuk bisa mengembagkan cara-cara seperti ini soalnya terbukti kami sudah merasakan dan menjalankan sehingga tidak ada keraguan untuk menularkan pihak-pihak lain,” akunya.

Uut mempunyai cita-cita yang lebih tinggi lagi. Ia berkeinginan memiliki sekolah karakter berbasis lingkungan  disetiap daerah.  “Ke depaannya saya menginginkan sekolah lebih khusus lagi  yang dibiayai dengan sampah, sehingga siapapun bisa bersekolah bisa menimbah ilmu sesuai dengan keinginan masing-masing, saya ingin membangun SMK yang khusus, yang bener-benar memiliki nilai-nilai yang dimiliki siswa sesuai dengan usianya, ketika anak itu lulus dari sekolah itu dia tau apa yang mereka lakukan dan dia sudah tahu apa yang dia punya dari dirinya, yang memanfaatkan potensi lokal dan potensi anak.”

(Ind, Fik)


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN