Sekolah SPP Sampah (III)

Ide sekolah dengan biaya terjangkau ini berawal dari keprihatinan banyaknya anak yang belum mengenyam pendidikan usia dini

SAGA

Kamis, 28 Mar 2013 19:00 WIB

Author

Indra Nasution

Sekolah SPP Sampah (III)

sampah, PAUD, depok, sekolah

Berawal dari Keprihatinan

Sekolah PAUD Mas Koki di  Beji, Depok Jawa Barat  berdiri sejak tiga tahun silam. Penggagasnya Mahmudah Cahyawati. Ide sekolah dengan biaya terjangkau ini berawal dari keprihatinan banyaknya anak yang belum mengenyam pendidikan usia dini.  “Jadi akhirnya kami mencari jalan supaya anak bisa bersekolah, dan mereka bisa merasakan sekolah seperti anak yang lain yang membayar mahal, akhirnya kami memutuskan membayar dengan sampah, karena semua orang pasti menghasilkan sampah, terutama sampah daur ulang, itu mempunyai nilai dibanding dengan sampah-sampah yang lain, sampah organik juga mempunyai nilai tetapi harus diolah lebih lanjut, jadi akhirnyua sekolah ini dibayar semampu mereka dan sebagian lagi dengan sampah daur ulang,” jelas Mahmudah.

Awalnya sekolah ini saban bulannya memungut biaya SPP  10 ribu rupiah persiswa. Namun lambat-laun banyak orang tua siswa yang kesulitan membayar. “Akhirnya kami mencari jalan ternyata sampah ini bisa digunakan, sejak itu orang tua banyak menyekolahkan di sini, anak-anak juga dengan riang bersekolah di sini, karena kita memakai sampah-sampah sebagai bahan ajar juga,” imbuhnya.

Ada jalan jika ada kemauan, tegas Uut.  “Menyediakan pendidikan yang baik berkualitas yang layak memang memerlukan dana yang tidak sedikit, tetapi sebenarnya itu bisa dikurangi dengan menggunakan sampah-sampah daur ulang,  jadi tidak ada alasan untuk tidak memberikan pendidikan yang layak dan berkualitas.”

Perempuan berusia hampir 40 tahun ini menjelaskan sampah tak sekadar jadi biaya pengganti SPP. “Sekolah ini sebenarnya sebagai salah satu media belajar dari anak didik, artinya anak didik itu untuk bisa belajar di sekolah tetapi juga di rumah, penggunaan sampah ini salah satunya sebagai pembelajar bagi orang tua dan anak, mereka bisa belajar di manapun dengan peralatan yang sederhana yang bisa mereka temukan di rumah sehingga mereka bisa menamba ilmu di manapun ini tujuan akhir sekolah ini.”


Lantas seperti apa kurikulum yang diterapkan di sekolah ini?

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18