Sekolah SPP Sampah (II)

Sekolah ini telah membuktikan bahwa pendidikan yang berkualitas tak perlu mahal. Sampahpun bisa mengganti biaya sekolah.

SAGA

Kamis, 28 Mar 2013 18:54 WIB

Author

Indra Nasution

Sekolah SPP Sampah (II)

sampah, PAUD, depok, sekolah

Belajar sambil Bermain

Menurut salah seorang guru Halimatus Sadiyah atau biasa dipanggil Bu Neng cara belajar sengaja disesuaikan dengan suasana hati sang anak. Tujuannya agar materi yang diajarkan mudah diterima siswa.  “Kalau lagi mood nya enak, gampang diarahin cuma kalau kayak tadi, ngantuk bu, ya sudah saya arahin yuk kita tidur dulu, jadi mencari suasana ketika dia mood aja, ketika dia ngantuk yuk kita tidur yuk kita baca doa tidur,  akhirnya masuk konsepnya setiap hari jumat belajar agama.”

Di jam berikutnya siswa diajak bermain sambil belajar dengan botol bekas yang diisi  air. Guru tengah mengajarkan ilmu tentang gravitasi dengan cara sederhana. Masing-masing anak mengisi botol dengan air. Ada yang penuh, ada yang hanya setengah.

Botol itu kemudian dimasukan ke dalam ember berisi air. Botol yang berisi air penuh akan tenggelam. Sedang botol yang hanya diisi setengah atau lebih ada yang tenggelam setengahnya saja sampai mengapung. Guru kemudian menjelaskan.”Botol Irfan semuanya tenggelam, kenapa? Oh pintar sekali, karena botolnya Irfan semuanya terisi air, sehingga menjadi berat, seperti itu, sekarang Prabu , wah Prabu botolnya tidak bisa tenggelam ya,  kenapa, karena isi airnya sedikit

Usai bermain dengan botol anak-anak itu kini bermain dengan tutup botol.  “Coba ambil tutup botol yang berwarna merah 5 buah, coba ambil tutup botol yang berwarna merah, merah 2 yang berwarna kuning 3, hebat…”

Tak terasa waktu telah berjalan 2 jam lebih .Selepas belajar, para murid siap kembali ke rumah. Sementara sang guru sibuk membersihkan sampah yang pagi tadi dibawa para siswa dan orang tuanya.

Satu persatu sampah dipilah. Bekas gelas plastik minuman harus dibersihkan. Hal ini dilakukan agar harganya semakin tinggi. Sementara untuk tutup botol dicuci bersih karena akan digunakan kembali sebagai sarana belajar. Salah seorang Guru Kiki Latifah. “Tutup nya kita pakai buat permainan, bisa bikin hurup bikin angka, bikin bunga bikin mobil-mobilan, bisa main warna bisa, banyak sebenarnya bisa bermain dengan tutup botol ini.”

Setelah  selesai dibersihkan, sampah-sampah itu ditimbang. Selanjutnya disetor ke pengepul sampah yang menjemput saban Sabtu. Kembali Ani menuturkan,“Iya biasa dari yayasan menyetor ke pengepul yang datang setiap pagi, sampah-sampahnya dijemput,”

Sekolah ini telah membuktikan bahwa pendidikan yang berkualitas tak perlu mahal. Sampahpun bisa mengganti biaya sekolah.


Seperti apa kurikulum sekolah alternatif ini?

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18