Sekolah SPP Sampah

Konstitusi negara menegaskan pendidikan adalah hak setiap warga. Namun faktanya tak semua orang bisa mengenyam pendidikan.

SAGA

Kamis, 28 Mar 2013 18:53 WIB

Author

Indra Nasution

Sekolah SPP Sampah

sampah, PAUD, depok, sekolah

KBR68H - Konstitusi negara  menegaskan pendidikan adalah hak setiap warga. Namun faktanya tak semua orang bisa mengenyam pendidikan. Salah satu sebabnya akibat biaya sekolah yang mahal. Mengatasi masalah ini, pengelola Sekolah PAUD di Beji Depok punya siasat. Tak mewajbkan siswanya membayar dengan uang tapi dengan sampah.  KBR68H datang ke sekolah itu, melihat kegiatan belajar-mengajar di sana.

Suara laju mobil-mobilan  memecah keheningan pagi itu. Seorang anak berusia lima tahun  asik bermain.  Irfan nama bocah itu. Tak jauh dari ia bermain, sang ibu tengah sibuk mengumpulkan bekas kemasan karton susu dan botol air minuman.

Sampah- sampah itu dikumpulkan untuk membayar uang sekolah Irfan yang kini duduk dibangku pendidikan anak usia dini atau PAUD. Ya, Irfan membayar uang sekolahnya dengan sampah. Ibu Irfan, Yulianah. “Saya kumpuli saja, di rumah misalnya susu misalnya gelas plastik, bekas minuman  seperti ini saya kumpulkan nanti giliran mau bayaran saya bawa, (sampah-sampah rumah tangga?) bisa kemasan bekas produk minyak, nanti kan di sana didaur ulang lagi.”

Irfan bersekolah di PAUD Mas Koki di kawasan Beji, Depok, Jawa Barat. Kini orang tuanya tak terbebani dengan biaya pendidikan pasca sekolah menerapkan aturan uang Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan atau SPP dengan sampah.  Maklumlah ayah Irfan,  hanya pegawai honorer di salah satu sekolah  kawasan Glodok, Jakarta Barat. “Biaya sekolah sekarang mahal, walau pun dibilang gratis tetap saja mahal apa lagi di sekolah di sini. Belum bukunya belum yang lain, jadi dengan adanya sekolah seperti ini cukup membantu.”

Yulianah bercerita terkadang honor suaminya baru dicairkan setelah tiga bulan bekerja. “Ini aja dari bulan ini tidak gajian, gajian nanti April, katannya dirapel karena masih honorer, gaji nunggu tiga bulan ya repot,” keluhnya.

Jam di dinding menunjukan pukul 7 pagi. Irfan  bergegas, siap  ke sekolah. Lokasinya tak jauh dari rumah. Tak lupa sang ibu membawa sampah kemasan minuman untuk dibawa ke sekolah.  Seorang guru berdiri di depan  kelas sambil membunyikan alat musik kecrek. Anak-anakpun berbaris rapi. Seorang anak memimpin. “Memberi salam…. Assalam mualaikum…”

Ada sekitar 40-an murid,  mereka dibagi menjadi 4 kelas. Irvan masuk ke kategori kelas b, anak-anak yang berusia 5 tahun.Aktivitas belajar-mengajar dimulai. Kali ini materi yang diajarkan di kelas Irfan  tentang praktik ibadah shalat.

Namun, Irfan beserta anak lainnya, masih mengantuk dan memilih tidur.”Irfan masih ngantuk oh berarti semalam tidurnya malam ya, kalau mau tidur coba baca doa apa dulu, yuk kita tidur semua kita tidur dulu…,” kata seorang guru.

Tapi sang guru tak marah. Ia mengajak semua siswa untuk tidur sejenak. Lantas para murid dibangunkan.  “Kukuruyuk , ibu-ibu sudah pagi, ayo bangun kita mandi, setelah itu shalat dan pergi ke sekolah, bangun-bangun bu, pak, bangun…”


Agar anak tak bosan, materi yang diajarkan dikombinasikan derngan permainan.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme