Garuda Muda di Pusaran Konflik PSSI

Hari Minggu lusa PSSI menggelar Kongres Luar Biasa di Jakarta. Langkah ini untuk mengakhiri konflik di tubuh induk sepak bola nasional tersebut. Perseteruan diantara elite sepak bola secara tidak langsung berdampak kepada buruknya penampilan tim nasion

SAGA

Jumat, 15 Mar 2013 16:15 WIB

Author

Khusnul Khotimah

Garuda Muda di Pusaran Konflik PSSI

Timnas U-19, PSSI, Garuda Muda

KBR68H - Hari Minggu lusa PSSI menggelar Kongres Luar Biasa di Jakarta. Langkah ini untuk mengakhiri konflik di tubuh induk sepak bola nasional tersebut.  Perseteruan diantara elite sepak bola secara tidak  langsung berdampak kepada  buruknya penampilan tim nasional Indonesia. Di tengah kabar buruk itu, tim nasional yunior  mengharumkan negeri ini di Hongkong. Timnas usia di bawah 19 tahun  berhasil mempertahankan  gelar juara turnamen HKFA.   KBR68H pergi ke Cirebon  mengikuti latihan tim yang diasuh  pelatih  Indra Sjafri.  

Stadion Bima, Kota Cirebon, Jawa Barat. Jarum jam menunjukan angka Sembilan.  Pelatih Timnas Usia di bawah 19 tahun atau U-19 Indra Sjafri menyambut hangat KBR68H.   Dua puluh empat anak muda tengah berlatih di bawah siraman hangat mentari.  Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Surabaya, Jakarta, sampai Papua.

Cirebon, adalah kota kedua yang menjadi target blusukan atau kunjungan ke daerah  pelatih Indra Sjafri. Sebelumnya mereka mengunjungi Kota  Jambi di Pulau Sumatera. Tujuannya  mencari pemain sepakbola muda berbakat.

Setelah mengunjungi Cirebon, pencarian bakat pemain muda dilanjutkan ke Kota Barito, Kalimantan  dan Palembang, Sumatera Selatan. Diharapkan pada akhir  Mei mendatang, 55 pemain muda berbakat sudah ditemukan. Lima dari 24 pemain yang tengah berlatih adalah pemain timnas U 19 yang baru saja pulang dari Hongkong, mempertahankan gelar juara turnamen HFKA International Youth Invitational Tournament 2013.  Diantara mereka Gavin Kwan Adsit dan Mariando. Tahun sebelumnya mereka berhasil meraih gelar serupa.  Inilah dua pemain timnas U-19 yang telah mengharumkan nama Indonesia di negeri orang.

Dalam  ajang yang diikuti  4 negara Asia itu Gavin dan Mariando  terpilih sebagai pemain terbaik. Sebelum meraih juara,  Timnas U19  berhasil menahan imbang Singapura, 2-2. Setelah itu mengalahkan tuan rumah Hongkong dengan skor 2-0 dan di pertandingan akhir bermain seri lawan Malaysia.

Prestasi timnas yunior membuat sumringah PSSI. Namun Penanggung Jawab Timnas yang juga anggota komite eksekutif PSSI ,  Bernhard Limbong mengaku heran, mengapa di tingkat senior pemain timnas belum bisa berjaya.   “Kalau untuk Indonesia memang berprestasi di usia muda. Makanya perlu suatu saat penelitian, kenapa usia muda itu ketika menginjak usia senior kok jadi melempem begitu. Jadi perlu ada penelitian secara menyeluruh, mulai dari gizi. (Apa karena sistem organisasi juga?) saya kira itu antara lain bagian kecil . Tapi elementernya itu tadi. Kalau dibandingkan dengan prestasi Timnas Senior, bapak sebagai penanggung jawab jadi minder tidak? Kayaknya kita sih ada kemajuan juga dengan kondisi pemain yang rata-rata minim. Cuma musuh-musuh kita lebih jago dan banyak”

Setelah ajang di Hongkong, tim asuhan Indra Sjafri  akan mengikuti ajang internasional lainnya seperti Piala AFF U 19 juga kualifikasi Piala Asia AFC Cup U 19. Untuk itu  akan diterapkan sistem promosi dan degradasi agar tercipta tim yang solid dan tangguh, jelas Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri.  “Dua orang itu memang termasuk yang bagus dan sudah menjadi kerangka tim kita. Tetapi kami yakin masih banyak lagi pemain-pemain yang bagus dari mereka. Dan untuk usia muda, khusus untuk tim usia 19 ini kita tidak ada pemain bintang. Semuanya adalah pemain yang harus diperhatikan. Karena kalau dari usia dini sudah diopinikan pemain bintang saya takut nanti berpengaruh secara psikologis ke mereka dan mereka mulai sombong atau gimana,” katanya.

Mariando dan Gavin tak jumawa meski berhasil membawa Garuda Muda meraih juara di Hongkong. Mereka jusrtru makin keras  berlatih dan lebih disiplin.  “Bekerja keras dan menunjukkan bahwa kita yang terbaik dan berlatih terus agar kondisi menaik,” kata Gavin.

Mariando menimpali,” Saya selalu latihan, latihan agar saya bisa dipanggil lagi karena dengan pelatih saya coach Indra juga sudah begitu dekat. Saya yakin pasti besok AFC saya masih ikut. Saya kan dari kecil ingin main di timnas, cita- cita saya ingin jadi pemain bola, saya tidak mungkin akan tolak kalau timnas yang panggil.”

Pelatih Indra Sjafri juga selalu melecut semangat anak asuhnya. “Kita belum memperbaiki kalian tetapi latihan pertama itu cuma cerminan dari pembelajaran klub kalian. Apa itu Wallpath, apa itu takeover, apa itu overlapping,diajarkan atau tidak, paham atau tidak di klub itu tercermin di sini. Percuma kalian melakukan tapi dengan kesalahan. Kalau mau stretching ya harus betul-betul. Kalau tidak kalian yang merubah diri kalian ya tidak berubah, percayalah. Kita ini hanya memberitahu. Sekali, dua kali, tiga kali, tidak mau dikasitau, kali keempat out. Ada ketegasan di situ. Tim nasional bukan membina orang lagi. Tim nasional adalah kumpulan orang-orang baik. Catat itu oke? (oke.. ) kita tidak akan membina, membina pemain itu di klub.Paham ya? (Paham!) tolong kalian ubah. Attitude, perilaku semua harus ada perubahan. 
Gavin : Teman-teman, para pelatih sebelum kita mengakhiri mari kita berdoa dengan kepercayaan masing-masing!. Berdoa mulai. Berdoa Selesai. Garuda Jaya. Jaya! Jaya!!.”

Tak mudah bagi Indra Sjafri dan kawan-kawan mencari pemain muda berbakat dengan mental juara di pelosok  nusantara. Apa saja kendalanya?

Pembinaan Pemain Muda


Langkah pencarian pemain muda berbakat  di berbagai daerah di tanah air tak lepas dari minimnya ajang kompetisi sepak bola nasional di tingkat yunior. Pembinaan usia muda yang diabaikan oleh PSSI inilah yang memaksa Pelatih Timnas U19, Indra Sjafri dibantu  asisten pelatih, Jarot Supriadi dan Guntur Utomo bekerja keras.




Menurut Indra selama ini PSSI  hanya merekrut pemain U-12, U-14, U-16 hingga U-19 yang  berbakat di tiap-tiap Sekolah Sepak Bola untuk  bergabung menjadi pemain Timnas usia muda.   Cara instant tersebut dinilai kurang optimal.  “Kesulitan yang kita alami sekarang kan kompetisi tingkat nasional usia muda kan tidak ada kecuali Suratin  Cup. Nah kalau kompetisi nanti berjalan, mungkin tidak perlu lagi kita jalan atau tour yang akan kita lakukan seperti ini. Nah kita melakukan tour ini ya itu tadi karena kompetisi yang untuk wadah pemilihan ini kita tak punya,” terangnya. 

Namun belum semua pemain memiliki mental sekokoh baja. Padahal hal ini sangat berperan saat pertandingan. Kemampuan teknis yang mumpuni dalam mengolah si kulit bundar  saja tak cukup, imbuh  Guntur Utomo.   “Jadi ini fase mereka bertumbuh. Hari ini sangat menonjol, besok agak menurun, ganti yang lain menonjol.  Belum kayak tim senior yang sudah betul-betul matang. Bambang Pamungkas selalu di atas gitu. Belum. Kalau untuk usia segini belum bisa seperti itu. Karena mereka masih ya ini akhir puber mereka. Contoh gampang seperti ini, ini kita punya pemain bagus, dia selalu konsisten, begitu masuk imigrasi karena paspornya sudah limit, dibentak oleh petugas imigrasi, ini paspor sudah mau habis tinggal enam bulan. Kalau kamu nekat, kamu tanggung sendiri resikonya. Sampai di Hongkong dia down. Nah kayak gitu, hal-hal sepele seperti itu masih sangat berpengaruh.”

Untuk mempermudah proses pencarian pemain muda berbakat,  Manajemen Timnas U-19 menggandeng kerja sama dengan pengurus sepak bola dan klub di daerah, jelas pelatih Indra. “Makanya kami sebagai tim pelatih harus punya kreasi, kita mengajak orang-orang daerah untuk berpartisipasi terhadap tim nasional. Selama ini daerah tidak pernah dilibatkan dalam pembentukan tim nasional. Nah sekarang paradigma poembentukan tim nasional yang lalu itu sekarang kami  ubah yaitu dengan mengikut sertakan atau men talent scouting atau mencari pemain-pemain ke seluruh daerah. Apa yang terjadi sekarang? Di samping dapat pemain yang bagus-bagus, juga yang kedua adalah partisipasi masyarakat dari daerah cukup luar biasa. Seperti yang kita lakukan sekarang ini semua fasilitas ditanggung oleh daerah.”

Pembinaan usia muda yang terabaikan ini terang Indra akibat dampak  kisruh di PSSI. Saat ini ada dua kubu yang bertikai antara Ketua Umum PSSI Djohar Arifin dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang dipimpin La Nyala Mataliti.   “Jambi mau, Ambon mau, sekarang kita yang kewalahan menolak. Nggak ada duitpun PSSI, saya minta duit ke daerah ini dikasi saya sama orang daerah asal untuk tim nasional. Karena mereka memang merasa memiliki. Selama ini kan pemain diisi orang-orang tertentu saja di Jakarta.
KBR68h : Berarti kalau Pak Bob Hippie nya tidak kasi instruksi sebagai orang yang bertanggungjawab dan membawahi pembinaan usia muda ini?
Coach Indra : Om Bob ada, ya kalau satu exco yang bikin kebijakan kan nggak bisa, ya kan? Harusnya kebijakan itu kan dari 11 exco. Masalah pendanaan misalnya. Jangan hanya mikirin senior. Misalnya sekarang dapat dari sponsor 183 milliar. Exco harus memutuskan untuk timnas senior sekian, U 19 sekian, SeaGames sekian. Nah tunjuk pengelola masing-masing tim itu. Ini kan tidak ada, dia bilang usia muda penting, tapi sekarang mana? “

Ontran-ontran di tubuh induk sepak bola nasional ini  diperparah dengan tak adanya sistem pencarian bakat yang terprogram. Situasi itu  yang memaksa Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI  Timo Scheunemann akhirnya mundur dari federasi. Untungnya di tengah kendala itu,  jelas asisten pelatih Guntur Utomo mereka kerap menemukan keajaiban pemain berbakat di daerah.  “Kita pernah dapat anak Ngawi yang bahkan dia tidak punya klub, tidak tergabung di klub yang rutin begitu. Tapi kebetulan dia dipanggil sama klubnya kita ke sana. Mereka butuh pemain dan ternyata dia berkualitas. Jadi dari manapun. Kadang-kadang ajaib juga. Kita masih terus mencari,” ungkapnya.

Situasi pelik yang melanda sepak bola tanah air tak dipedulikam  para pemain muda seperti Mariando dan Gavin  “Saya tidak terlalu pusing dengan konflik itu yang penting kalau saya dipanggil bermain bola di timnas, saya ikut main saja. Saya tidak perlu pikir apa yang mereka lakukan. PSSI dengan KPSI saya tidak terlalu pusing. Kalau menurut saya, saya tidak berpikir semua bubar, yang penting jadi satu aja, yang penting biar kompak ya, biar negara kita bisa maju. Konflik-konflik itu kan ngga mungkin bisa maju di bidang olahraga. Sebaiknya damai atau jadi satu saja biar bisa maju negara kita,” tegasnya.

Meski demikian para pemain dan pelatih berharap Kongres Luar Biasa PSSI yang akan dihelat Minggu lusa dapat mengakhiri konflik. Sehingga pembinaan usia muda tak lagi terganggu.   “Ya pasti, yang namanya kisruh pasti ada berdampak, ya kan? Tapi kami yang diberi tanggung jawab untuk menyiapkan tim nasional U19 ini berusaha untuk meminimalisir dampak dari kekisruhan ini dan mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terselesaikan secara baik.”
Harapan mungkin bukan harapan kami saja, tapi harapan seluruh harapan masyarakat Indonesia menginginkan sepakbola Indonesia betul-betul dikelola secara baik dengan organisasi baik, federasi yang baik untuk menyusun program-program ke depan.”

(Kkh, Fik)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Strategi Pembiayaan Lingkungan Hidup

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17