covid-19

Ada Kartel di Balik Bawang

Hampir satu bulan harga bawang tidak terkendali. Bawang putih di pasaran bahkan ada yang mencapai Rp 100 ribu rupiah per kilogram.

SAGA

Rabu, 27 Mar 2013 15:36 WIB

Author

Agus Lukman

Ada Kartel di Balik Bawang

bawang, kppu, kartel

KBR68H - Hampir satu bulan harga bawang tidak terkendali. Bawang putih di pasaran bahkan ada yang  mencapai Rp 100 ribu rupiah per kilogram. Naik hingga 500 persen dibanding harga normal. Ada aroma tak sedap di balik melambungnya salah satu komoditi pokok tersebut. KPPU menemukan praktik kejahatan ekonomi yang dilakukan para mafia kartel. 

Samirah terus mengeluh. Tumpukan bawang putih dan bawang merah masih menggunung di depannya. Dari pagi hingga siang, belum ada satu pun pembeli yang datang. Pedagang di Pasar Kebayoran Lama Jakarta Selatan itu meratapi harga bawang yang tidak terkendali.

“Dagang begini dari tadi tidak melayani pembeli, Mas-mas. Ora ngelayan-layani dari tadi. Sepi “Bawang nggak bisa anu… Belum bisa stabil harganya. Naik turun naik turun, nggak stabil. (Sekarang berapa?) Harganya nggak tentu Mas. Belanja dikit-dikit, ora laku. Sepi!,” katanya.

Bawang putih per kilogram biasanya dijual di kisaran Rp15 ribu rupiah. Tapi siapa sangka sejak Januari lalu harga rempah-rempah ini terus meroket tak menentu. Di berbagai tempat, harga bawang putih mencapai Rp50 ribu rupiah. Bahkan di Jawa Timur harganya menyentuh Rp100 ribu per kilogram. Naiknya harga bawang putih juga diikuti dengan bawang merah. Para pedagang pun menjerit. Terutama pedagang bermodal pas-pasan.

(Biasanya belanja berapa?) Dulu pas harga stabil, paling belanja 10 kilo. Sekarang lima kilo saja ketar-ketir. Kalau habis ya Alhamdulillah,” kata Samirah.

Masih di Pasar Kebayoran Lama, pedagang lain,  Lanjar juga hanya bisa duduk bersabar menunggu pembeli bawang. Ia membuka lapak di pinggir jalan.  “Bawang putih biasa harganya Rp50 ribu, kalau bawang kating itu Rp60 ribu. Kadang itu bawang yang kecil-kecil, yang sudah dibelah-belah.”

Dulu dengan modal Rp150 ribu ia  bisa membeli 10 kilo bawang putih. Tapi sekarang, modal sebesar itu hanya bisa untuk kulak sekitar tiga atau empat kilo bawang. Itu pun belum tentu laku.  “Pasar lagi sepi. Nggak pernah habis. Orang kalau beli paling seperempat, setengah kilo. Padahal kalau dulu itu pembeli bisa beli sekilo-sekilo,” jelasnya.

Kondisi seperti ini membuat  pedagang eceran bermodal kecil sulit mendapat untung. Termasuk  Sutrisno, pedagang di Pasar Blok A, Jakarta Selatan.  “Keuntungan turun bisa sampai 50 persen. (Kira-kira berapa rupiah itu?) Kalau biasanya untung 100 ribu, ya turun jadi 50 ribu. Kadang Cuma pulang modal saja, kalau dagangan lagi begini.”

Dia menambahkan, “Bawang putih dan bawang merah itu doang yang naik. Dulu  17 (Rp 17.000,-), naik 18, 20, 27 terus berhenti. Naik lagi 35, 37. Kemarin 38 (Rp 38.000,-)”

Nenek Sukiyem mencoba mengingat-ingat harga bawang sebelum meledak. Pedagang kecil di pinggiran pasar Blok A Jakarta Selatan itu lalu menunjuk dagangan bawangnya yang masih utuh.  “Dulu waktu masih murah ya habis nek lima kilo. Sekarang 5 kilo nggak habis. Itu masih utuh. Kentang itu masih utuh,” katanya


Mengapa harga bawang menggila?

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

UU Cipta Kerja Bermasalah, Formil dan Materiil

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17