covid-19

Bersatu karena Beda

Undang-Undang Perkawinan menabukan pasangan beda agama menikah. Namun realitas di masyarakat, praktik perkawinan berbeda keyakinan ini jamak terjadi. Desakan untuk merevisi Undang-Undang No 1 Tahun 1974 itu pun kembali disuarakan.

SAGA

Kamis, 21 Feb 2013 19:38 WIB

Author

Rony Rahmata

Bersatu karena Beda

UU Perkawinan, Nikah, Agama

KBR68H - Undang-Undang Perkawinan menabukan pasangan beda agama menikah. Namun realitas di masyarakat, praktik  perkawinan berbeda keyakinan ini jamak terjadi. Desakan untuk merevisi Undang-Undang No 1 Tahun 1974 itu pun kembali disuarakan. KBR68H  menemui pasangan beda agama yang telah dan akan menikah. Seperti apa pergulatan bathin mereka?
  
Perbedaan agama tidak menghalangi Margaretta dan Wahyu untuk mengikrarkan  janji suci. Wahyu yang muslim akhirnya memutuskan menikahi pasangannya yang beragama nasrani. Mereka berpacaran selama 7 tahun. Tapi keputusan Wahyu tersebut mendapat tentangan dari orang tuanya.

“Nah ini yang lebih berat di keluarga saya.Karena orang tua saya, dua-duanya sudah haji dan hajjah. Yang berat itu di ibu saya, karena beliau muallaf, tidak merasa menerima. Untuk keluarga Etta (Margaretta), tidak kami saja, sudah ada kakak sepupunya yang jalanin hal yang sama,” jelasnya.


Lain halnya dengan sikap orang tua Margaretta.”Kami memutuskan untuk benar-benar melangkah. Kebetulan ayah saya sudah meninggal 2 tahun lalu, saya anak tunggal. Jadi ibaratnya saya tidak punya ganjalan dari keluarga. Karena sudah 30 tahun, jadi bisa memutuskannya sendiri. Meski tidak disetujui, saya tetap go. Namun kami telah memutuskan satu titik nikah beda agama, saya tidak akan berpindah dan saya tidak berharap pasangan saya tidak berpindah,” katanya.


Keduanya pun, menempuh berbagai cara untuk meyakinkan orang tua Wahyu.”Kalau reaksi bapak mertua cenderung bisa. Ia menilai anaknya sudah besar, jadi segala keputusan ada di tangan sang anak. Apalagi anaknya, anak laki-laki. Kami sudah berusaha berdialog, saya mendorong wahyu untuk berbicara dengan keluarganya. Opsi ini dipilih supaya tidak ada yang berubah,” jelasnya.
Karena restu tak didapat, Wahyu dan Margaretta  nekat menikah. Acara berlangsung September 2012 silam  di Kalibata Jakarta Timur. Ritual pernikahan  dilakukan dalam dua versi agama Islam dan Protestan. Kembali Margaretta.

“Karena konsepnya tidak ada orang tua kami yang bakal menghadiri. Maka kami memang lebih memilih orang lain yang kami tuakan. Jadi prosesnya tidak ada pelaminan. Ternyata memang hari H pemberkatan tidak dihadiri keluarga Wahyu.  Tapi dihadiri keluarga saya dan teman-teman saya. Memang kami tidak sounding seremonial agamanya ke semua orang,” ungkap Wahyu.

Tapi lambat laun hati orang tua Wahyu akhirnya luluh juga.  “Ya sampai saat ini sudah, dan welcome juga sekarang. Karena memang dulunya saya tidak intens memperkenalkan pada keluarga,” paparnya. “Sempat ada ketakutan yang saya rasakan. Satu minggu setelah menikah saya datang ke rumah. Untuk saat ini biasa saja. Ibu walaupun dalam omongannya tetap kecewa karena tidak memenuhi persyaratan dia,” imbuh Wahyu.

Pendeta Kasodu yang menikahkan mereka punya alasan  ikut membantu. Berdasarkan hasil analisannya di media cetak cukup banyak kasus pasangan yang bunuh diri. Salah satu sebabnya akibat pernikahan antar-agama yang tak dapat restu.  “Paling orang bunuh karena tidak lulus ujian, tidak dapat pekerjaan. Tapi sekarang saya tidak ada dengar lagi, orang bunuh diri karena tidak bisa menikah lantaran beda agama, saya tidak pernah dengar lagi.  Ini kliping saya kumpulkan dari harin kompas dari tahun 1980,” katanya.


Sedikitnya 50-an pasangan beda agama sudah pernah ia nikahkan sejak 2000 lalu. “Lalu kalau mereka sudah memenuhi persyaratan pernikahan cara Gereja, nah saya maju ke Catatan Sipil, berdasarkan surat nikah dari Gereja. Tapi ini melalui proses yang panjang.Yang sulit kalau pasangan itu belum bersedia dibaptis.”

Di tempat terpisah, pasangan beda agama lainnya Gloria Natalia dan Otavian Dewangga tengah mempertimbangkan untuk ke pelaminan.  Tiga tahun sudah mereka menjalin kasih. Awalnya sikap keluarga pasangannya yang menganut agama Kristen menolak, terang Otavian yang akrab disapa Okta. “Ada-rasa takut, tapi ketika kami ngobrol, ayahnya bertanya. Apakah kamu akan mengajak anak saya masuk ke agama kamu? Saya jawab, oh nggak om, karena saya sekali tidak suka memaksa pindah agama. Saya pikir sudah mulai ada penerimaan,” katanya.

Oca sapaan akrab Gloria  ikut membantu meyakinkan sang ayah akan pilihan hidupnya tersebut. Lewat diskusi panjang, bapaknya mau menerima Okta yang beragama Islam.   “Sebelum itu bapak tidak tahu kalau Okta jarang shalat, dia tidak tahu. Dan kelihatan sekali pengetahuan sangat kurang. Sedangkan dia, banyak tahu. Bahkan kali pertama kakak ipar saya datang ke rumah. Diskusi mereka tentang agama. Malah keliahatan jelas pengetahuan bapak saya lebih luas disbanding kakak ipar,” terangnya.Kasus nikah beda agama yang dilakoni Wahyu-Margaretta adalah realitas yang terjadi di tengah masyarakat, meski Undang-Undang Pernikahan melarang.

Revisi UU Perkawinan

Polemik  pernikahan beda agama beberapa waktu lalu sempat jadi topik hangat . Ini menyusul  tayangnya  film “Cinta Tapi Beda” besutan Sutradara Hanung Bramantyo. Di Sumatera Barat, Tasikmalaya, Jawa Barat dan Jakarta, film tersebut menuai protes. Kalangan penentang menuding film tersebut mengkampanyekan pernikahan antar- agama. Alasan itu ditolak  Tatty Apriliyana, anggota tim produksi film “Cinta Tapi Beda”. Tatty menyebutkan film ini justru bercerita tentang kebhinekaan atau keberagaman.


“Satu hal yang paling penting adalah kami sama sekali tidak ingin melakukan kampanye untuk nikah beda agama, tetapi lebih didorong oleh keinginan untuk merawat keberagaman. Hanung Bramantyo merasa prihatin dengan kondisi masyarakat kita terakhir, dimana pengkotakkan semakin kencang, konflik antar suku, agama dibiarkan tumbuh dengan baik. Sehingga kami sebagai orang film apa yang bisa kita buat untuk mengatasi hal ini, mungkin kalau teriak-teriak di jalan sudah bukan waktunya, bisanya bikin film maka kita melakukan perawatan terhadap kebhinekaan ini ya lewat film. Yang paling menarik untuk “dijual” tentu kisah cinta, maka dipilihlah tema cinta beda agama ini ke layar lebar,”terangnya.

Pernikahan beda agama sendiri tidak diatur dalam Undang-Undang Pernikahan. Pada 1980 silam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengeluarkan fatwa tentang haramnya pernikahan beda agama.  Undang-undang tersebut nilai Tatty sebagai bentuk intervensi negara dan melanggar Hak Asasi Manusia.“Ada satu yang menarik bicara soal keberagaman, di Bitung itu masyarakatnya sangat plural, sangat beragam, dan mereka sangat terbuka artinya tidak ada masalah. Bahkan misalnya dalam perayaan adat ada makanan yang yang halal dan haram, sedemikian terbuka, sedemikian terawat keberagaman itu dan tidak ada problem apa-apa. Hingga muncul Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 lahir dan menutup gerbang bagi pasangan yang berbeda keyakinan, maksudnya intervensi negara yang begitu besar sampai menghalangi hak anak manusia untuk menjalani kehidupan rumah tangga,” katanya. 

Salah satu pasal dalam konstitusi  UUD 1945 hasil amandemen menyebutkan: “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya.” Margaretta, pelaku nikah beda agama menuturkan, “Menurut deklarasi universal HAM pun menyebutkan, hak untuk menikah itu adalah hak asasi. Jadi bahwa setiap orang merdeka menentukan pilihannya. Harusnya negara hanya mengatur dengan menfasilitasi mencatatkan. Tapi di luar itu negara ya membiarkan saja dan menghormati.”


Pendeta Kasodu, salah satu pendeta yang ikut terlibat menikahkan pasangan beda agama menilai Undang-Undang Pernikahan sepantasnya direvisi. Bahkan ia berencana mengajukan uji materi undang-undang itu ke Mahkamah Konstitusi. Salah satu alasannya praktik nikah beda agama sudah berlangsung sejak dulu. “Orang tua saya di masa Belanda sudah nikah beda agama. Soemitro salah satu contoh nasional. Istinya dari Sulawesi, soemitro tetap islam. Tapi anak-anaknya tetap bebas. Ada yang Kristen, ada yang Islam. Yang masih hidup, Prof, Yusuf Badudu. Tapi sampai sekarang pak Yusuf tetap Islam. Itu tak masalah,” katanya.

Cendikiawan Muslim Zuhairi Misrawi ikut berpendapat. Dalam ajaran Islam  ada mahzab atau pendapat yang menyatakan nikah beda agama dibolehkan. “Pandangan Islam tidak tunggal soal pernikahan beda agama. Ada tiga pandangan dalam Islam soal pernikahan beda agama. Pertama, pernikahan beda agama itu dilarang. Kedua, pernikahan itu diizinkan selama mempelai laki-lakinya adalah muslim, bukan perempuannya. Pandangan ketiga menganggap pernikahan beda agama diizinkan. Dalam ketiga pandangan ini ada perseturuan politis. Kitab suci Al-Quran tidak menilai agama lain musyrik sehingga melarang pernikahan beda agama. Menurutnya, arti musyrik sebenarnya adalah amoral bukan mengacu pada penganut agama lain. Maka, pernikahan beda agama tidaklah suatu larangan”.


Ia mendukung revisi  Undang-Undang No 1 Tahun 1974  tersebut. “Itu secara otomatis dan faktanya pernikahan beda agama juga mencapai tujuannya, tenteram, harmonis, keluarganya juga berpendidikan. Tujuan dari pernikahan itu adalah mawaddah warrahmah. Negara harus melihat ini, memberikan legitimasi formal. Dulu pernah diusulkan revisi Undang-undang Perkawinan dalam Islam itu tetapi ada banyak pertentangan, ke depan harus didorong karena faktanya ada.  Sekretaris Eksekutif Hubungan Agama dan Kepercayaan  Konferensi Wali Gereja Indonesia KWI Antonius Benny Susetyo angkat bicara soal nikah beda agama.


“Tidak ada larangan. Namun, dalam pernikahan katolik, gereja tidak mengizinkan perceraian. Maka, gereja katolik mensyaratkan adanya kursus perkawinan sebelum naik ke pelaminan. Sayangnya, Undang-undang Perkawinan di Indonesia melarang hal tersebut. Maka, gereja katolik memberi dispensasi untuk mempermudah,” ucapnya.


Romo Benny menambahkan, sudah saat yang tepat UU itu direvisi. “sulit untuk menghindari cinta beda agama karena cinta tdak mengenal agama. Apalagi kita masyarakat yang plural. “Mengapa pernikahan beda agama di luar negeri diakui oleh Indonesia, tapi pernikahan beda agama di Dalam negeri tidak diakui negara.”

(Rah, Fik)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

DE-SI (Depresi to Prestasi)

War On Drugs

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10