Posyandu Untuk Masa Depan Anak Rimba

Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya posyandu di kelompok Orang Rimba, membuat angka kesehatan para balita rimba tidak kunjung membaik

Pondok keluarga Betuwah di dalam rimba. (Foto: Khairil)

Rabu, 29 Januari 2020

Penyakit menular dan berbahaya begitu mudah menyerang para balita dan anak-anak Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi. Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya posyandu di kelompok Orang Rimba, membuat angka kesehatan para balita rimba tidak kunjung membaik. Berikut laporan yang disusun Reporter Radio BenorFM, Khairil Anwar dan Kontributor KBR di Jambi, Elvidayanty. 

- Posyandu Untuk Masa Depan Anak Rimba
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Jambi- Ngelitai terus menangis, di tengah rimbunnya kawasan hutan Taman Nasional Bukit Dua belas (TNBD) Jambi. Sang ayah, Betuwah,18 tahun berdendang menghibur Ngelitai bocah perempuan berusia delapan tahun. Perkembangan tubuh Ngelitai memang terganggu, selain itu warna kulitnya pucat dan perutnya buncit. Ngelitai terus menangis meski sang ayah terus berdendang dan membujuknya.

Betuwah bercerita, Ngelitai sebelumnya sudah dibawa berobat ke dukun Orang Rimba. Karena dukun berkata sakitnya sudah bawaan sejak lahir, Ngelitai akhirnya dibawa ke Puskesmas Pematang Kabau di ibukota kecamatan. Dari Puskesmas Pematang Kabau, Ngelitai dirujuk ke Rumah Sakit Umum di Kabupaten Merangin.

“Terus aku bawa ke rumah sakit di Bangko, dokter tambah darah 3 kantong. Lalu dikasih obat, dokter bilang harus hirup ini, pil ini harus diminum sampai habis. Aku bawa balik dari dokter, dari rumah sakit ke hutan, malah kambuh lagi, sampai sekarang tidak ada perubahan,” kata Betuwah. 

Anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi

Fasilitator Kesehatan Komunitas Konservasi Indonesia, KKI Warsi, Rusli Effendi menjelaskan, Ngelitai menderita anemia dengan Hb yang sangat rendah.

“Itu kemarin sudah dibawa juga berobat ke puskesmas, dari pihak puskesmas sudah diberikan pelayanan dengan baik. Dibawa juga ke rumah sakit untuk mengetahui apa sih sebenarnya anak ini kok perkembangannya sangat terganggu. Dan setelah dilakukan perawatan di rumah sakit Bangko (rumah sakit di ibu kota kabupaten Merangin) anak itu menderita anemia, 4 kalau tidak salah Hb anak itu, serta diberikan transfusi darah,” kata Rusli.

Menurut Rusli Effendi, selain Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan diare, anemia adalah penyakit yang paling umum dijumpai pada balita dan anak-anak Rimba. 

Meski posyandu khusus telah disediakan oleh Puskesmas terdekat, Orang Rimba masih enggan membawa anak-anak mereka ke posyandu.

Kepala Puskesmas Pematang Kabau, Kabupaten Sarolangun, Jambi,  Hartati Sandora mengatakan, belum ada kesadaran dari masyarakat rimba soal pentingnya imunisasi dan vaksin.

“Belum ada kesadaran masyarakat Orang Rimba untuk menimbang atau imunisasi anaknya untuk datang ke posyandu di wilayah kerja kami, yaitu yang pertama di pasar dan kedua di Air Panas. Jadi, kita tidak bisa memantau secara maksimal yang balita dari mulai dia lahir sampai umur 5 tahun,” kata Hartati

Tahun ini, puskesmas Pematang Kabau bekerjasama dengan KKI Warsi, berencana membangun posyandu di pinggir hutan. Beberapa Orang Rimba juga akan dipilih dan dilatih menjadi kader posyandu. Ini untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan bagi balita Orang Rimba.