Mahalnya Air di Pulau Panggang

Warga Pulau Panggang terpaksa memakai air payau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alat penyulingan air yang ada, belum mampu memasok kebutuhan seluruh warga. Mereka mesti hemat air tawar untuk menghindari membengkaknya pengeluaran.

SAGA

Selasa, 29 Jan 2013 18:39 WIB

Author

Guruh Riyanto

Mahalnya Air di Pulau Panggang

Air, Pulau Panggang, Kepulauan Seribu

KBR68H - Warga Pulau Panggang  terpaksa memakai air payau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alat penyulingan air yang ada, belum mampu memasok kebutuhan seluruh warga. Mereka mesti hemat air tawar untuk menghindari membengkaknya pengeluaran.

Butuh waktu sekitar 2,5 jam dengan perahu nelayan saat bertandang ke Pulau Panggang. Pulau yang masuk Kabupaten Kepulauan Seribu ini berjarak 70-an kilometer dari bibir pantai Jakarta.  Lokasi persisnya berada di sebelah Pulau Pramuka, pusat administrasi pemkab setempat. Warga pulau Panggang Rusli mengisahkan legenda penamaan pulau itu. “Kalau orang pulau ke luar ke laut, ditangkap. Dipanggang di situ, yang ada tiang itu, orang pulau jadi korban, makanya tempat itu disebut karang pemanggang. Tapi, pertolongan pendekar Darah Putih, Kapiten Saudin dan Abdul Malik membersihkan bajak laut itu,” kisahnya.

Menurut Rusli  dari sekian banyak pulau,  Pulau Panggang merupakan yang pertama dihuni  warga. Kini pulau tersebut merupakan yang terpadat penduduknya di gugusan Kepulauan Seribu. Sangking padatnya Wakil Lurah Surahman berseloroh tempatnya sebagai pulau terpadat di dunia. “Kalau dari DPRD, kita ini nomor 1 terpadat di dunia, pulau kelapa no2. Kalau dilihat dari kapasitas pulau, kita ini 9 hektar. Sehari-hari 5860 di sini, ada semua 6 ribuan. Sisanya di darat. “
Padatnya penduduk berdampak kepada persoalan penyediaan air bersih. “Saya namanya Kamid. Tinggal di Pulau Panggang sejak 1970-an. Dulu air asin, sama, tapi dulu agak mendingan, agak tawar, payau. Cuman untuk minum nggak bisa, untuk mandi dan nyuci masih bisa. Sekarang rumah sudah terlalu padat, pohon tidak ada, penuh. Tidak ada air yang tawar sekarang. Sekitar tahun 2000an mulai padat. Sejak itu mulai parah.” 

Penyebab Payau

Air di pulau ini terasa asin atau payau  diduga karena tak ada lahan untuk resapan air hujan. Pakar Hidrologi Institut Pertanian Bogor, NanaMulyana mengatakan, air laut lebih banyak merembes ke bawah permukaan tanah. “Ini air asin, ini air tawar. Ini disebut lapisan metrix. pertmuan air tawar dan asin. Kalau air tanah dipompa, ini menyebabkan intrusi air laut. Kalau debit katakanlah 50 kubik per hari. Dipompa 100 kubik per hari. Akibatnya tertekan air laut. Yang tawar menjadi asin,” jelasnya.

Penduduk setempat mesti membiasakan diri menggunakan air payau. Seperti  Saebah yang ditemui tengah menimba di salah satu sumur, pinggir gang.  “Buat ngosek ini, buat masak asin. Kadang-kadang, kalau kirim air, tidak dapat. Namanya berebutan. Ini ada mata airnya, jadi tidak habis-habis dikuras. Tapi rasanya asin. “
Ia  terpaksa menggunakan air payau untuk mencuci makanan. Seperti Saebah warga lain juga memanfaatkan air tanah Pulau Panggang untuk kepeluan rumah tangga seperti mencuci pakaian dan mandi.
Sore itu hujan mengguyur Pulau Panggang. Warga senang  menyambutnya. Malia warga setempat bisa mencuci pakaian dengan air hujan. “Kalau kemarau, harus ke pulau Karya nyucinya. itu nyeberang pulau sebelah. Kalau air hujan busanya banyak. Air asin keras. Gatel pakaian kalau asin. Di baju ngerusak. Kalau air hujan bening pakainnya. Jadi tidak bisa bersih. Kalau pakai air asin, sabu bisa dua biji. Kalau air asin bisa dua biji.”
Kamid juga ikut sumringah. Sebab tempat penampungan airnya  kembali terisi. “1000 liter. Itu juga karena kalau kita musim hujan, sudah tahu. Kalau musim hujan, paling mulai sekarang sampai bulan 3. Kalau sudah bulan 3 ke sana. Ya, diirit-irit. Dihemat. Kalau musim kemarau, mandi pakai air asin, mata perih kalau kena.”
Air tawar di Pulau Panggang seperti barang mewah. Sulit didapat dan harganya relatif mahal. Lantas, bagaimana pemerintah berupaya menyediakan air bersih bagi warga?

Penyulingan Air

Di Pulau Panggang  berpenduduk sekitar 6 ribu jiwa ini  ada tiga mesin penyulingan air yang memproses air asin menjadi air tawar. Saat ditengok kondisinya awal Januari, hanya satu mesin yang bisa beroperasi. Sisanya rusak.  Penjaganya Muhadi mengaku kapasitas produksi air hasil sumbangan Perusahaan Gas Negara ini terbatas

“Pokoknya kita mentokin 10 gerobak. produksinya kecil, cuman 1500 liter per tanki. Itu saja tidak penuh. Adanya 1350. Kalau kita banyakin tanki. Jamnya makin lama, sedangkan kita memenuhin satu tanki butuh 7 jam,” terangnya.
Mesin penyulingan air yang rusak teronggok di dekat kantor kelurahan. Sang petugas Muhayah pun ikut  menganggur. Biasanya ia sudah sibuk mengantar air pesanan warga. “Banyak yang datang ke sini minta air. Mesti musim hujan tetap. Rusak sudah tiga hari. Senin. Ini olinya bocor. Ditelpon sudah dikasih tau sononya. Dikasih liat. Nanti kita laporin. Dari Jakarta.”
Mesin penyuling lain yang rusak merupakan pemberian  Dinas Pekerjaan Umum Jakarta. Mesin yang hanya berfungsi setahun itu tak kunjung diperbaiki. Di kala musim kemarau, air tawar hasil penyulingan tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruh penduduk. Kalaupun ada harganya cukup mahal, keluh warga bernama Junaidah. “Kalau musim hujan cukup, kalau tidak beli di RO. Itu juga antri bisa dua minggu kadang. Sekali dapat segerobak, 12 jerigen. Ada seminggu. Minum, nyuci, mandi. Segerobak 25 ribu. Sebulan habis 100 ribu.”
RO yang disebut Junaidah adalah mesin penyulingan dengan teknologi Reverse Osmosis. Warga lainnya Kamid ikut menimpali “Aku jauh di ujung barat. Yang punya suling di ujung timur. Setahun cuman kebagian dua kali. Minta sebulan baru dianterin. Kalau musim kemarau pada berebut, suling tidak memadahi. Untuk masak aja pakai galon. Pakai rice cooker gak banyak airnya. Satu galon lima hari sudah habis. Satu galon 18 iribu di pulau.”
Bahkan ada warga yang terpaksa menyeberang untuk membeli air tawar di Pulau Pramuka atau Pulau Karya. Uang yang dihabiskan bagi warga setempat cukup besar Rp50-an ribu untuk memperoleh 200-an liter.

Janji Jokowi

Akhir Desember lalu, Gubernur Jakarta Joko Widodo mengunjungi Pulau Pramuka. Ia sempat belusukan  ke Pulau panggang dan mendengar keluhan warga. Jokowi berjanji pemprov  segera membantu menuntaskan krisis air bersih. Rencananya proyek itu akan diwujudkan tahun ini. “Yang problem lebih mudah, diselesaikan cepat. Yang perlu duit dan waktu, di 2013 segera kita realisasikan. Saya orangnya simple, ada masalah rampungkan, gak sah terlalu banyak, rencan dan lain-lain,” katanya.

Pemkab Kepulauan Seribu mengusulkan agar dibangun penyulingan air yang dapat memproduksi air tawar lebih besar. Sehingga kebutuhan warga khsususnya di Pulau Panggang dapat terpenuhi. Wakil Lurah Pulau Panggang Surahman.”Kalau saya, satu pulau dikhususkan. Atau memang per-rw. Satu pulau dikhususkan untuk penyulingan khusus. Saya kira lebih mahal pasang kabel bawah laut daripada pasang pipa. Bisa saja nanti kalau ada penampungan, pasang pipa dari pulau ke pulau. Pasang kabel bawah laut dari jakarta saja bisa.”
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum Jakarta berencana memperpanjang tanggul di sekitar Pulau Panggang.  Langkah ini dinilai dapat mengurangi tingkat keasinan air tanah Pulau Panggang. Kepala Suku Dinas Pekerjaaan Umum Kabupaten Kepulauan Seribu Sorimuda Harahap.
“Kalau kita lihat untuk hubungan dengan air bersih, sangat baik sekali pembuatan tanggul ini. Karena kita berusaha agar air hujan ini tidak terbuang ke laut. Tapi malah terbuang ke darat. Arah air mengalir dari atas mengalir ke pemukiman. Kita buat supaya air hujan tidak menuju ke laut. Warga yang punya sumur, airnya payau, artinya tidak terlalu asin.”
Di sebelah barat pulau, sebuah penyulingan air tengah dibangun. Namun, warga berharap, pemerintah membangun penyulingan air tambahan untuk mencukupi kebutuhan air tawar. Kembali Wakil Lurah Surahman menuturkan,”Kalau memang untuk penangan secepatnya, adakan setiap RW satu. Khususnya di pulau panggang. Jadi 4. Kalau untuk proses satu pulau itu kan panjang. “
Warga juga berharap  alat penyulingan air itu dirawat secara rutin dari dana pemerintah setempat. Sebab, kas pemerintahan desa cekak, Tak mampu membeli suku cadang yang mahal,   jika peralatan tersebut rusak.  Mereka ingin nasib warga Pulau Panggang  khsususnya dan Kepulaian Seribu pada umumnya  lebih diperhatikan lagi  oleh Pemprov DKI.
Tak menjadi anak tiri, tegas Rusli,”Sebenarnya harapan masyarakat sudah lama untuk distribusi air disamakan dengan Jakarta. Distribusi udah sampai rumah melalui pipanisasi. Namun, kurang tahu karena kondisi anggaran atau apa kan, mungkin prioritas pembangunan dilakukan apa dulu, sampai sekarang belum.” 

(Gur, Fik)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17