Jerat Candu Permainan Ketangkasan

Jangan anggap enteng permainan ketangkasan seperti game online atau daring di internet. Jika sudah kecanduan bisa fatal akibatnya. Gangguan jiwa.Berikut kisah salah satu orang tua pasien yang anaknya sempat dirawat di salah satu rumah sakit jiwa Jakarta.

SAGA

Selasa, 15 Jan 2013 16:25 WIB

Author

Bambang Hari

Jerat Candu Permainan Ketangkasan

permainan, ketangkasan, candu

Jangan anggap enteng permainan ketangkasan seperti game online atau daring di internet. Jika sudah kecanduan bisa fatal akibatnya. Gangguan jiwa.Berikut kisah salah satu orang tua pasien yang anaknya sempat dirawat di salah satu rumah sakit jiwa Jakarta.

Pagi itu, seorang perempuan setengah baya terlihat terburu-buru memasuki sebuah ruangan di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerjan di Grogol, Jakarta. Perempuan yang namanya minta disebut MRD itu akan bertemu dengan seorang psikiater spesialis anak.

Setelah berkonsultasi dengan ahli psikologi, MRD  bercerita soal anaknya yang sempat mengalami gangguan jiwa. Inisialnya DN. Karena alasan pribadi, MRD menolak keinginan KBR68H mewawancarai anaknya yang mulai pulih. Hasil pemeriksaan medis  sebelumnya menyebutkan remaja 16 tahun itu mengalami gangguan jiwa ringan akibat dipicu permainan game di internet.

Saat itu perilakunya berubah. Misalnya kalau makan itu di luar kebiasaan. Kalau makan itu satu piring penuh itu tidak sampai lima menit sudah habis. Minum pun juga begitu. Minum lima gelas langsung diminum sampai habis. Itu membuat saya khawatir dan bertanya-tanya. Kenapa sih?," tanyanya.

MRD menambahkan,"Saat itu juga dia menjadi sulit dikendalikan. Kalau dia sudah punya keinginan, sulit dikendalikan.”

Berbagai upaya sang bunda untuk membatasi kegiatan anaknya bermain ketangkasan itu selalu gagal.  "Jadi waktu tidurnya hanya sebentar. Waktunya sebagian besar dihabiskan untuk bermain game. Sehari bisa 16 jam," jelasnya.

Pendidikan Terganggu

Akibat sudah kecanduan aktivitas sekolahnya ikut terbengkalai. "Sudah kita batasi. Tapi susah ya untuk dikendalikan. Saya juga sudah berupaya dan mencoba berbagai macam trik, tapi ya seperti itu. Itu pun juga dalam waktu singkat. Biasanya anak saya itu selalu mengikuti kegiatan sekolah luar biasa," terang MRD.

Selain aktivitas pendidikannya terganggu, perilaku anaknya mulai berubah. Akhirnya sang ibu memutuskan membawa anak pertamanya tersebut, ke rumah sakit jiwa sejak 6 bulan lalu.

"Jadi itu melalui proses rembukan keluarga dulu. Tidak mudah memutuskan untuk membawa anak saya ke sini. Saya juga sempat shock juga kan. Tapi kan kita rembukan keluarga dulu. Jadi seluruh keluarga saya. Kakak saya, mertua saya, orangtua, itu memberi saran sebaiknya diterapi di sini," katanya.

KBR68H menyambangi salah satu tempat penyewaan permainan game online di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Di ruangan berukuran sekitar 8 kali 6 meter itu dipenuhi oleh anak muda berusia belasan hingga dua puluh tahunan. 

Beberapa diantara mereka  mengaku bisa menghabiskan waktu lebih dari 4 jam untuk bermain game. Bahkan, ada yang rela untuk menginap. Salah satunya Raka, yang nama aslinya minta dirahasiakan.

"Dulu mah sering (nginep-red). Sekarang mah udah jarang, bosen soalnya. Dulu main game dari jam 9 malam sampai jam 7 pagi. Main aja di situ terus," akunya.

Pemuda 18 tahun itu mengaku sejak kecanduan kerap terlibat konflik dengan orangtuanya. Maklum saja untuk bermain game online  membutuhkan biaya tak sedikit. Biaya sewa sekali bermain saja,  bisa mencapai Rp 35 ribu rupiah.  Uang yang diminta Raka kerap ditolak orang tuanya. Aktifitas belajar Raka juga ikut terganggu.

Situasi itu pula yang dialami  anak MRD. “Anak saya sebenarnya termasuk siswa yang berprestasi di sekolah. Terus dia juga sempat dijadikan sebagai siswa berprestasi. Tapi di tengah jalan anak saya tidak mau masuk sekolah. Akibatnya prestasinya menurun, menyebabkan anak itu menjadi down. Tapi Alhamdulillah bisa ikut UN. Setelah itu, dia masuk salah satu SMK di daerah Tangerang. Kelas I mengikuti pelajaran dengan bagus. Tiba-tiba di kelas II semester satu drop lagi. Tidak mau masuk sekolah. Alasannya pun tidak jelas,” jelas perempuan itu.

Kini DN anak MRD sudah mulai pulih dari ketergantungan game online.  Bagaimana  permainan ketangkasan seperti game online bisa mempengaruhi kejiwaan seseorang?

Orang Tua Sungkan

Dokter Spesialis Kejiwaan Anak, Suzy Yusna Dewi mengklaim pasien anak atau remaja yang mengidap gangguan jiwa akibat  candu permainan game cenderung meningkat. Di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerjan  pada tahun lalu saja, sudah menangani empat pasien. 

"Jadi kasusnya sangat berbeda-beda. Dari yang hanya prestasinya menurun di sekolah. Terus dari hukuman yang diberikan dari sekolah. Misalnya jam 12 malam dia keluar untuk main game, kemudian baru kembali ke rumah jam 4 subuh, sehingga waktu pergi ke sekolah terlambat. Tidur sebentar, pergi ke sekolah terlambat. Sampai yang hanya agresifitasnya berubah. Kemudian bermusuhan dengan orangtuanya. Menarik diri dari sekolah dan teman-temannya. Jadi dari yang ringan sampai yang berat," jelasnya.

Biasanya, orang tua membawa anaknya ke rumah sakit bila sudah mengalami perubahan perilaku.

"Jadi orangtua biasanya membawa anaknya yang tidak mau sekolah lagi. Lalu main game terus maunya. Dan hampir setiap hari juga tidur malam. Dan ada juga orangtua yang bilang kalau dimatikan game nya jadi marah. Terus kemudian jadi bermusuhan sama orangtua. Akhirnya malah curiga sama orangtua. Kemudian ada juga yang tidak mau sekolah, terus kemudian orangtuanya memanggil temannya ke rumah, atau gurunya ke rumah untuk membujuk. Jadi intinya selalu bermusuhan sama orangtua. Dan misalnya kalau dia sudah marah itu biasanya suka mukul tembok. Agresifitasnya jadi menonjol," tambahnya.

Suzy menjelaskan bagaimana permainana ketangkasan itu bisa mempengaruhi kejiwaan seseorang. "Jadi sebenarnya kan ada neuroplastisitas otak. Ketika pembelajarannya itu positif. Otak itu akan terbentuk positif pula. Ketika pembelajarannya negatif, otak itu akan terbentuk negatif pula. Di dalam otak kan ada korteks tempat untuk berpikir kan. Pemikiran itu dirangsang oleh sesuatu yang dipelajari. Kalau dia belajar dari game. Dia hanya belajar itu saja. Jadi pengetahuannya hanya sekitar itu saja. Dia tidak berkembang, kreatifitasnya sudah tidak ada," imbuhnya.

Orang tua kata  Dokter Spesialis Kejiwaan Anak, Suzy Yusna Dewi  mudah mengenali gejala awal gangguan jiwa. "Orangtua seharusnya bisa mengenali gejala-gejala dini dari kecanduan game. Pertama, anaknya setiap hari selalu bermain game. Lalu semakin lama frekuensinya semakin bertambah, terus sampai istirahatnya terganggu. Orangtua itu harus mengontrol. Jam berapa dia biasanya bermain game. Misalnya dia hanya boleh bermain game pada hari Jumat. Itu bisa dikasih aturan begitu. Tapi tetap dikasih waktu jam nya. Terus orangtua juga harus bisa meningkatkan aktifitas olahraga atau aktifitas fisik bagi anaknya," ungkapnya.

Namun, Suzy  menyesalkan masih banyak orangtua yang enggan membawa anaknya ke rumah sakit jiwa. Ia berasumsi, keengganan orangtua tersebut akibat  kekhawatiran menerima stempel buruk dari masyarakat akibat sang anak dirawat di rumah sakit jiwa.

Rumah sakit jiwa bukan orang atau pasien-pasien yang mengalami gangguan jiwa berat saja. Di sini yang seperti itu (gangguan jiwa ringan-red) malah justru yang paling banyak. Prosentasi gangguan jiwa berat itu kan cuma beberapa persen saja di dunia. Yang lainnya itu lebih banyak mengalami gangguan jiwa ringan, ya. Kayak model-model seperti ini. Kecanduan game, cemas, depresi, itu kan yang paling banyak sebetulnya. Tapi kan tidak dirasakan sebagai gangguan jiwa," jelasnya. 

Untuk itu, ia  menganjurkan agar orang tua tak sungkan membawa anaknya yang sudah mengalami gejala gangguan jiwa.

"Misalnya sudah ada gejala awal kecanduan game. Buru-buru dibawa berobat. Jadi kita bisa melakukan penanganan lebih dini. (Ketika dibawa ke sini, apa yang akan dilakukan terhadap si anak?) Sebetulnya pola pemeriksaannya lebih ditekankan pada konsultasi ya. Mencoba mencari tahu permasalahannya apa. Karena ada juga anak yang kecanduan game disebabkan oleh gangguan proses berfikir. Jadi sudah ada gangguan jiwa lain. Ada juga yang mengalami depresi. Jadi untuk mengilangkan depresinya, untuk menghilangkan gelisahnya itu dengan bermain game,"  terang Suzy.

Saran yang sama disampaikan MRD, orangtua pasien gangguan jiwa,"Saya mengimbau kepada orangtua lain bila menemui anaknya mengalami gangguan kejiwaan, jangan sungkan-sungkan dan malu untuk berkonsultasi kepada psikiater untuk ditindaklanjuti. Jangan sampai nanti berakibat fatal."

Dokter Suzy menjelaskan, setelah anak dinyatakan pulih dari gangguan jiwa, orang tu membantu agar ia dapat kembali beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Jika tidak, bukan tak mungkin pasien akan kembali  depresi dan kembali mengalami gangguan kejiwaan.

Lingkungan sekolah juga ikut berperan membantu pemulihan terang MRD."Sebelum dia masuk ke sekolah. Saya mendorong pihak sekolah. Lalu pihak sekolah juga mendorong teman-temannya. Nah dari pihak rumah sakit pun, melalui Dokter Suzy pun juga sudah menyampaikan untuk memberi tahu pihak sekolah bahwa anak saya itu bukan gila. Cuma mengalami gangguan saja. Jangan sampai ketika kembali ke sekolah dia menjadi minder."

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Ngobrol Serius, Tapi Santai: Tips Hadapi Hoax dan Hate Speech

Kabar Baru Jam 7

Ramai-ramai Mudik Dini

Ramadan (Masih) dalam Pandemi Covid-19

Kabar Baru Jam 8