Apa Kabar Lagu Anak?

Sepuluh lagu dan penyanyi lahir dari Festival Lagu Anak Nusantara. Ajang ini digagas untuk menjawab keluhan makin sulitnya mencari tembang yang pantas dinyanyikan anak. KBR68H berbincang dengan penggagas acara dan menyimak aksi penyanyi cilik di atas pang

SAGA

Rabu, 23 Jan 2013 16:00 WIB

Author

Nurika Manan

Apa Kabar Lagu Anak?

lagu anak, festival lagu anak nusantara

Sepuluh lagu dan penyanyi lahir dari Festival Lagu Anak Nusantara. Ajang ini digagas untuk menjawab keluhan makin sulitnya mencari tembang yang pantas dinyanyikan anak. KBR68H berbincang dengan penggagas acara dan menyimak aksi penyanyi cilik di atas panggung.

Ruangan di Tenis Indoor Senayan, Jakarta masih terlihat ramai malam itu. Puluhan anak nampak memainkan balon-balon,  sisa kemeriahan Festival Lagu Anak Nusantara yang baru saja selesai.

Ajang ini digagas sekelompok orang yang peduli dengan perkembangan lagu anak Indonesia  yang makin sulit didengar. Salah satu penggagasnya Bens Leo. Pengamat musik itu lantas mengutarakan idenya  kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sambutan masyarakat cukup antusias, setidaknya 400 peserta ikut ajang ini.
Di atas panggung, bocah usia enam tahun tengah mengayun-ayunkan keranjang berisi tomat buatan. Kemudian ia meletakkan keranjangnya. Tangan kanannya lantas sibuk bergoyang.  Rok selutut dan bando penghias rambut menambah gemas,  siapa saja yang melihat anak perempuan itu.

“Tomat” judul lagu yang dibawakan salah satu finalis, Mika Keiko. Tembang itu karya Mira Julia Putri.  Lagu yang bercerita tentang buah tomat yang segar dan menyehatkan ini meraih juara II dalam festival tersebut.

Ada lagi lagu lainnya “Papa Mama Juara” yang dibawakan  Jesicca Reitanya Putri. Tembang ciptaan Samsara ini berkisah  tentang kekaguman anak kepada orangtuanya. Dalam ajang ini, Samsara mengirim dua karyanya. Tapi hanya satu karya yang lolos ke babak final. “Yang satu tentang Papa Mama Juara, yang satu tentang sahabat. Lagu anak-anak itu nggak gampang seperti lagunya orang dewasa. Karena lagu anak itu nyelamin dulu. Apa yang kita alamin duku sama anak sekarang kan beda. Jadi apa yang ada kita curahkan di syair. Setelah itu kita cari melodi, yang penting adalah cari melodi. Melodi di anak kan susah, nggak gampang. Itu yang perlu digarisbawahi, nggak semua orang bisa bikin lagu anak,” jelas Samsara.

Dewan juri festival ini, Dian HP mengakui tak mudah  membuat lagu anak. Pasalnya kata musisi yang pernah mengorbitkan penyanyi cilik Tasya itu,  daya serap anak mendengar lagu berbeda-beda sesuai usia.  “Secara teori, melodi yang pas untuk anak itu juga tergantung umurnya. Misalnya untuk bayi yang baru lahir, itu hanya lima nada saja: do re mi fa sol itu saja. Karena mereka hanya menangkap nada yang lebih sedikit untuk umur segitu.Tapi itu juga tergantung, kalau untuk didengarkan, mereka bisa mendengarkan apa saja. Sebab dari bayi, mereka disarankan mendengarkan musik klasik yang complicated. Tapi kalau untuk dinyanyikan, hanya lima nada saja,” ungkap Dian.

Tema Variatif

Dewan juri lainnya Bens Leo mengungkapkan sepuluh lagu yang lolos ke babak final  berhasil menawarkan komposisi yang segar. Selain itu liriknya juga menarik. “Jadi arrangement-nya cukup modern tapi tetap berjiwa anak-anak, artinya tidak ketinggalan jaman. Karena anak-anak sekarang kalau dijajakan lagu-lagu yang dengan pola musik yang lama, pasti mereka tidak akan menengok ini sebagai lagu-lagu anak yang baru,” jelasnya.

Tema-tema lagu yang diangkat juga variatif. Kembali Dian HP menuturkan, ”Yang jelas ada sepuluh lagu baru anak-anak dan ada sepuluh penyanyi baru anak-anak. Temanya ada sih tentang superhero. Ada lagu yang sifatnya mengajak main, seperti ci luk baa. Tapi dari festival kemarin itu memang bukan cuma tentang pemandangan saja, ada juga yang cerita tentang kasih sayang tapi lebih luas lagi.”

“Ci ci cilukba, ayo main cilukba.. tutup mata dan muka dengan dua tanganmu. Ci ci ci cilukba, aku bisa menghilang. Kamu bisa menghilang, nanti kita balik lagi. Adikku... Tersayang.. Habis main, kita minum susu...”

Penyanyi cilik, Moza Legitara  tengah membawakan lagu berjudul “Ci Luk Baa” di atas panggung. Tembang  ciptaan Sam Bobo dan LD Sinaringati ini juga jadi  salah satu finalis.

Saat tampil ia mengenakan gaun selutut bercorak senada dengan sepatunya, merah polkadot. Didampingi ayah dan ibunya, Moza bercerita.
KBR68H: Moza bawain lagu apa tadi?

MOZA: Cilukba sama Ambilkan Bulan, Bu.
KBR68H: Ciptaan siapa, cilukba?
MOZA: Oom Sam Bobo sama Tante Yeyen..
KBR68H: Itu isi lagunya tentang apa?
MOZA: Kakak sayang sama adiknya, terus diajak main.”

Selepas Festival Lagu Anak Nusantara bagaimana nasib lagu “Ci Luk Baa” dan lagu lainnya? Akankah tembang-tembang tersebut dapat disimak dan dinyanyikan  anak-anak Indonesia di berbagai pelosok daerah?

Orang tua penyanyi cilik Moza mengakui saat ini sulit mencari lagu-lagu untuk anak yang pantas dinyanyikan. Tak hanya Moza,  Jesicca Legitara akrab disapa Chika juga ikut merasakan.

KBR68H: Chika sukanya lagu apa?
CHIKA: Lagu anak-anak suka, lagu barat suka, semuanya suka.
KBR68H: Kan sekarang jarang lagu anak, trus Chika dengarnya lagu apa?
Chika: Dengernya lagu barat gitu.. lagu Indonesia juga. Misalnya lagunya NOAH, The Dance Company..

Bocah sepuluh tahun itu sedang senang menyanyikan lagu dewasa yang tengah popular “Butiran Debu”.Atas alasan sulitnya mencari lagu anak itulah Festival Lagu Anak Nusantara digelar November silam.  Salah satu  pencipta lagu anak, Samsara berharap setelah festival  usai, karya mereka bisa diproduksi massal dan diedarkan ke berbagai tempat di tanah air.

“Mudah-mudahan dari festival ini, ini kan yang pertama. Mudah-mudahan bisa ada dinaungi label dan bisa dilanjutkan ke proses recording sampai bisa jadu suatu album, sepuluh-sepuluhnya. Sehingga lagu anak bisa naik lagi seperti dulu,” harapnya.

Tapi harapan Samsara saat ini masih sulit terwujud. Maklum saja penjualan rekaman kaset dan CD saat ini tengah jeblok di pasaran. Perusahaan rekaman dan distributor musik tak mau ambil risiko rugi jika mereka menjual album anak-anak. Kondisi itu dibenarkan  pengamat musik Bens Leo.  Meski demikian  ia tetap nekat, menyodorkan sepuluh lagu pemenang Festival Lagu Anak Nusantara ke salah satu perusahaan  rekaman. Bens optimistis di masa datang industri music anak akan kembali bergairah.

“Biasanya kalau sudah salah satu melakukan rilis album seperti ini. Saya kira kalau sudah menemui momentum yang cukup bagus, industry musik anak-anak bisa bergerak lagi. Saya yakinnya itu. Dan banyak yang meyakini ini sesuatu yang positif untuk musik anak,” kata Bens.

Reaksi Pasar

Musisi Dian HP ikut menimpali, “Kalau sepuluh lagu dari festival kemarin itu dipasarkan, bisa jadi tambahan yang baik untuk koleksi. Jadi kalau orangtua mau cari itu bagus. Asyik-asyik lagunya. (Kalau untuk menggairahkan lagi lagu anak, bagaimana?) Ya kalau kemarin itu pencipta lagu bergairah karena festival dan ada duitnya (tertawa). Ya ini kesadaran sih, ini harus menjadi kesadaran bersama.”

Penata Musik dan Artis Trinity Optima Production Andrey menyesalkan jika festival itu tak ada hasil atau kelanjutannya.  “Bukan dari sisis bisnisnya dulu, tapi dari gerakan moralnya. Artinya ketika kita menginisiasi ini sebagai sebuah project, kita melihat bahwa kebutuhan ini merupakan kebutuhan urgent. Bukan kebutuhan yang menunggu pasar, kebutuhan bisnis ada. Ini urgent, karena tidak ada sama sekali. Kesadaran bahwa sebenarnya musik anak itu bukan tren tapi kebutuhan yang setiap saat pasti ada,” kata dia.

Untuk itu perlu tindak lanjut dalam bentuk pembuatan album terang lelaki yang bertugas memilah lagu yang layak diproduksi ini. Tapi syaratnya kata Andrey  perlu penyanyi anak yang berkarakter agar album itu laku di pasaran.“Kalau tidak ada uangnya, kalau kita lihat selama di situ ada anak-anak yang lahir setiap saatnya. Di situ pasti ada pasar. Sekarang pada saat kita tidak menemukan siapa yang akan menyanyikan? Daya tarik orang untuk menikmati lagu yang diciptakan rekan-rekan komposer itu sangan bergantung sekali kepada siapa yang yang menyanyikan. Trus di mana kita akan mempromosikannya? Sedangkan sekarang kita sulit menemukan ruang.”

Soal lain yang tak kalah penting adalah kesesuaian lirik lagu dengan kondisi saat ini jelas  pengamat musik Bens Leo.”Dibutuhkan lagu anak baru yang menjadikan anak-anak sekarang menjumpai suatu keadaan yang riiil seperti sekarang. Contohnya: naik-naik ke puncak gunung. Dulu, kita lihat banyak pohon. Tapi kalau sekarang kan nggak ada, hanya gedung-gedung. Nah, anak-anak sudah perlu diperlihatkan hal-hal seperti itu. Sehingga tidak ada lagi anak yang bertanya: kok cemaranyasudah jarang? Kiri kanan kita lihat gedung-gedung.  Itu satu hal yang penting, kenapa kami menginginkan lagu anak baru yang lahir untuk anak-anak.”

Di tengah sulitnya mencari lagu untuk anak-anak, tinggal  penyanyi cilik seperti Chika dan  Moza yang bisa berharap. “Mau melestarikan lagu anak-anak, biar anak-anak tahu lagu seumuran dia yang pantes itu apa. Kalau untuk pencipta lagu, harus nyiptain lagu anak-anak yang lebih banyak lagi…”
“Aku mau yang lagu anak-anak lebih banyak dari pada lagu-lagu yang orang besar….”

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Mr. Spock dan Homer Simpson: Dinamika Perilaku di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 7

Belenggu Korban Pelecehan Seksual

Kabar Baru Jam 8

Longgar Bikin Lengah?