Share This

Selamatkan JKN dan Kelompok Miskin, Rokok Harus Mahal

RUANG PUBLIK

Rabu, 20 Jun 2018 08:02 WIB

Konsumsi rokok yang tinggi  mengancam keberlangsungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pasalnya, merokok memicu beragam penyakit katastropik (berbiaya tinggi) dan membuat keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan defisit. Pada 2016, BPJS Kesehatan defisit Rp9 triliun dan pada 2017 diperkirakan rugi Rp12 triliun. Ironisnya, pemerintah seolah masih galau untuk menaikkan cukai rokok. Terbukti kenaikan cukai rokok hanya 10,14 persen. ASEAN Tobacco Atlas 2016 menunjukkan konsumsi rokok per kapita Indonesia naik dari 725 batang/tahun (2000) menjadi 1.098 batang/tahun (2015). Ini terjadi antara lain karena harga rokok terlalu murah sehingga terjangkau kelompok miskin dan anak-anak. Akan dibahas dalam Ruang Publik bersama Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI, Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH  dan Planing and Policy Specialist Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), Yurdhina Meilissa, pada Rabu, 20 Juni 2018 Pukul 09.00 WIB.

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.