Pelaku Teror Bom Sri Lanka Diduga dari Kalangan Kaya dan Terdidik

"Ini adalah perang melawan fanatisme. Terorisme tidak punya agama," tegas Haleem, Menteri Urusan Muslim Sri Lanka.

RUANG PUBLIK | BERITA | INTERNASIONAL

Kamis, 25 Apr 2019 16:20 WIB

Author

Adi Ahdiat

Pelaku Teror Bom Sri Lanka Diduga dari Kalangan Kaya dan Terdidik

Seorang perempuan yang kehilangan suami dan dua anaknya, berteriak ke arah makam saat pemakaman masal korban serangan bom bunuh diri Sri Lanka (24/4/2019) (Foto: ANTARA/REUTERS/Thomas Peter/pras/cfo).

Pelaku teror bom di Sri Lanka, yang telah menewaskan 260 orang dan membuat sekitar 500 orang luka-luka, diperkirakan berasal dari kalangan kaya dan terdidik.

Hal ini disampaikan Menteri Pertahanan Sri Lanka, Ruwan Wijewardena, dalam konferensi pers resmi yang digelar Rabu lalu di Sri Lanka (24/4/2019).

Sebagaimana dikutip dari TheGuardian.com, Wijewardena menyebut, “Kelompok pelaku bom bunuh diri ini, kebanyakan dari mereka berpendidikan tinggi dan berasal dari kelas menengah ke atas, sehingga mereka secara finansial cukup mandiri dan keluarga mereka cukup stabil secara finansial, itu merupakan faktor yang mengkhawatirkan,” ujarnya (24/4/2019).

Wijewardena menduga para pelaku teror ini pernah berkuliah di luar negeri, yakni Australia dan Inggris.

"Beberapa dari mereka saya kira berkuliah di negara-negara lain, mereka punya gelar, LLM (sarjana hukum), mereka orang-orang yang cukup berpendidikan," jelasnya.

Dugaan ini sejalan dengan keterangan dari Departemen Dalam Negeri Australia. Menurut keterangan yang dihimpun TheGuardian.com, mereka telah mengonfirmasi bahwa salah seorang terduga pelaku teror bom pernah memegang visa Australia.

Sampai saat ini sudah ada 58 orang yang ditahan sebagai tersangka. Tapi pihak berwenang memperingatkan bahwa sejumlah orang bersenjata bahan peledak masih berkeliaran.

Menurut Wijewardena penyelidikan dan penangkapan masih akan terus berlanjut.

"Kami bisa memastikan dalam beberapa hari ke depan agen keamanan kami akan membuat situasi negara ini terkendali," ujar Wijewardena.


IS Mengaku Jadi Dalang Pemboman, Tapi Belum Ada Bukti Kuat

Sebelumnya, kelompok Islamic State (IS) sudah sempat mengklaim bahwa mereka memegang kendali atas serangan bom bunuh diri di Sri Lanka.

Pada hari Selasa (23/4/2019), Amaq News Agency, portal berita online yang kerap jadi corong kelompok radikal itu, merilis video berisi delapan pria yang mengaku sebagai IS.

Video IS mengklaim terlibat dalam serangan bom Sri Lanka (Foto: www.cbc.ca).

Sebagaimana dikutip dari Independent.co.uk, mereka menyatakan bahwa serangan bom Sri Lanka dilakukan oleh “Islamic State fighters” yang menargetkan negara-negara anti IS, termasuk orang Kristen di Sri Lanka.

Menteri Pertahanan Sri Lanka, Wijewardene, menilai bahwa IS mungkin saja mendanai atau menginspirasi secara ideologis para pelaku serangan bom Sri Lanka.

Karena serangan bom itu demikian masif, pihak berwenang mencurigai adanya keterlibatan jaringan teroris internasional. Namun, sampai sekarang belum ada bukti kuat atas dugaan tersebut.


Terorisme Tidak Punya Agama

Menteri Urusan Muslim (Muslim Affairs) Sri Lanka, Mohammed Hashim Abdul Haleem, memiliki pandangan sendiri terkait dugaan keterlibatan IS.

Dalam wawancara dengan Independent.co.uk, Haleem menyebut “Jika ada Isis menyamar di antara komunitas kami, kami harus bersatu sebagai Muslim dan membasmi mereka. Ini adalah perang melawan fanatisme, yang harus dilakukan pemerintah dan rakyat Sri Lanka," ujarnya.

Haleem juga menegaskan bahwa “terrorism has no religion (terorisme tidak punya agama).

Ia lantas mengajak komunitas Muslim dan Kristen Sri Lanka untuk saling tolong dan bahu-membahu membangun lagi gereja-gereja yang hancur akibat serangan bom.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Hutan dan Sabana Gunung Rinjani Terbakar

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Inggris Bersikeras Tinggalkan Uni Eropa 31 Oktober 2019