Waspada DBD dan Virusnya

Nyamuk Aedes Aegypti, bukanlah penyebab, melainkan perantara. Penyebab DBD adalah virus dengue dengan 4 jenis (serotipe) yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

RUANG PUBLIK | NUSANTARA | KESEHATAN

Selasa, 05 Mar 2019 10:31 WIB

Author

Nurhayati

Waspada DBD dan Virusnya

Nyamuk Aedes Aegypti

KBR, Jakarta - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus bertambah. Secara nasional, jumlah penderitanya sudah mencapai hampir 30 ribuan orang, dimana korban tewas lebih dari 200 orang. Berbagai langkah untuk menangani dan mencegah penyakit ini terus dilakukan pemerintah bersama berbagai pihak.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Ditjen P2P Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid memaparkan, jumlah penderita DBD di seluruh Indonesia per 1 Maret 2019 mencapai 29.346 dengan jumlah kematian sebanyak 267 orang.

Dari data terbaru, daerah yang dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) terjadi di Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Mangarai Barat, Kota Manado, Kabupaten Biak, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Paser, Kabupaten Lampung Utara, dan Kabupaten Pulang Pisau.

Penentuan KLB di suatu daerah dilihat dari jumlah kasus yang meningkat dua kali lipat dengan cepat dan daerah yang terkena dampak, luas. Hal itu dikatakan Siti saat di Talkshow Ruang Publik KBR.

DBD, kata Siti, adalah penyakit yang terjadi sepanjang tahun, baik musim kemarau maupun musim hujan. Namun, kasus DBD pada musim kemarau cenderung lebih sedikit dibanding pada musim hujan. 

“Sebabnya, pada musim kemarau nyamuk akan menyimpan telurnya, dan dapat bertahan sampai enam bulan. Nah, begitu hujan atau ada genangan air sedikit, ia akan langsung menetas dalam dua hari. Satu nyamuk bisa melahirkan 100-150 nyamuk baru atau jentik,” katanya. 

Nyamuk Aedes Aegypti, bukanlah penyebab, melainkan perantara. Penyebab DBD adalah virus dengue dengan 4 jenis (serotipe) yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. “Nah yang paling galak atau yang paling membuat kematian itu adalah serotipe ke-2 dan ke-3. Nah, Indonesia ini paling banyak serotipe ke-2,” tuturnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Ditjen P2P Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, saat talkshow di Ruang Publik KBR (Foto: KBR) 

Aktivitas Nyamuk Aedes Aegypti saat menghisap darah manusia, biasanya saat pagi hari antara jam 09.00-11.00 dan sore hari pada jam 15.00-17.00. Selain pada jam-jam tersebut, nyamuk ini biasanya suka berada di tempat-tempat yang lembap, gelap, pakaian yang digantung, dan sebagainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah korban DBD, sangat penting mengetahui beberapa gejala awal dari DBD. 

“Kalau dulu khas ya, gejala awal DBD itu demam tinggi kemudian timbul bintik merah. Nah sekarang kita lihat, gejala dari demam berdarah cenderung hanya demam tinggi, kemudian sakit kepala, lalu sakit semua tulang-tulang dan yang khas itu sakit di belakang bola mata,” jelasnya.

Siti menyarankan, bila sudah ditemukan adanya bintik-bintik merah berlebih artinya telah terjadi perdarahan di dalam tubuh, jadi harus segera dirujuk ke layanan kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan. Selain bintik merah, pendarahan juga dapat terjadi melalui mimisan ataupun gusi berdarah. Kelompok umur yang rentan terjangkit DBD adalah sekitar usia 14-19 hingga 44 tahun. 

“Kalau dulu kita tahunya anak-anak ya banyak menderita demam berdarah, ternyata saat ini anak-anak dan usia produktif yang banyak. Begitu juga gambaran kematian. Tapi memang kematian lebih banyak pada usia anak-anak,” ujarnya.   

Upaya pencegahan DBD agar populasi kepadatan nyamuk berkurang, yaitu melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang) secara rutin sepanjang tahun. 

Sedangkan plus-nya adalah segala bentuk kegiatan pencegahan DBD. Misalnya, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk menggunakan kelambu saat tidur, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air, dan lain-lain.

Telur nyamuk membutuhkan genangan air untuk menetas, maka dari itu Siti menganjurkan untuk membersihkan tempat-tempat yang dapat menimbulkan genangan air, seperti pada ban bekas, botol bekas, ember bekas, bahkan hal kecil seperti air dalam tutup botol. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Pemerintah Filipina Tidak Perpanjang Status Darurat Militer di Wilayah Mindanao

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18