Tunjangan Pengangguran Bikin Karyawan Berhenti Kerja, Ini Risetnya

Di Finlandia, program tunjangan untuk pengangguran membuat banyak karyawan berhenti kerja. Sedangkan di Argentina, program serupa membuat durasi menganggur warga jadi lebih lama.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Rabu, 06 Mar 2019 18:12 WIB

Author

Adi Ahdiat

Tunjangan Pengangguran Bikin Karyawan Berhenti Kerja, Ini Risetnya

Ilustrasi. Para pencari kerja memadati bursa lowongan pekerjaan di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/7/2017). (Foto: ANTARA/Arif Firmansyah)

Menurut International Labour Organization (ILO), perlindungan terhadap pengangguran adalah salah satu cabang jaminan sosial paling penting.

ILO menegaskan bahwa pengangguran perlu dilindungi dengan berbagai skema, seperti pemberian "gaji" atau dana tunjangan berkala, serta pelatihan keterampilan kerja.

Dengan skema tersebut, diharapkan masa pencarian kerja para penganggur bisa semakin singkat, jumlah pengangguran bisa berkurang, dan kesejahteraan masyarakat meningkat secara keseluruhan.


Baca Juga: Organisasi Buruh Internasional Dukung Gaji untuk Pengangguran


Efektivitas "Gaji untuk Pengangguran" Masih Diperdebatkan

Biarpun memiliki cita-cita yang baik, efektivitas program tunjangan untuk pengangguran, atau unemployment benefits, masih menjadi bahan perdebatan internasional.

Bahkan menurut sejumlah penelitian, penerapan unemployment benefits di beberapa negara belum terbukti menghasilkan perubahan positif. Berikut paparan singkatnya.


Gaji Pengangguran di Negara Maju: Banyak Karyawan Berhenti Kerja

Finlandia adalah negara maju yang pertama kali menerapkan program unemployment benefits di kawasan Eropa.

Menurut data yang dilansir Statista.com, pada tahun 2016 Finlandia menjadi negara yang paling banyak memberi tunjangan pengangguran.

Sayangnya, setelah 15 tahun berjalan, program tersebut belum memberi dampak yang diharapkan.

Hal ini dilaporkan Tomi Kyyrä, Hanna Pesola, dan Aarne Rissanen, peneliti dari VATT Institute for Economic Research, Finlandia, lewat makalah berjudul Unemployment Insurance in Finland: A Review of Recent Changes and Empirical Evidence on Behavioral Responses (2017).

Setelah Finlandia menerapkan program “gaji untuk pengangguran”, para peneliti menemukan bahwa jumlah karyawan yang keluar kerja meningkat dengan tajam.

Tomi dkk (2017) juga menemukan bahwa semakin besar angka tunjangannya, maka durasi menganggur para pencari kerja jadi semakin panjang.

Ada juga kasus pekerja-pekerja berusia tua yang mengundurkan diri dan menjadi pengangguran dengan sengaja.

Umumnya mereka menganggap program tunjangan pengangguran sebagai kesempatan untuk melakukan pensiun dini.


Gaji Pengangguran di Negara Berkembang: Durasi Menganggur Kian Lama

Hal serupa juga ditemukan terjadi di negara berkembang.

Menurut penelitian, skema tunjangan pengangguran di Argentina tidak terbukti memberi dampak positif dalam bidang ketenagakerjaan.

Hal tersebut dilaporkan Martın Gonzalez-Rozada dan Hernan Ruffo, peneliti dari Universitas Torcuato di Tella, Argentina, dalam makalah berjudul The Effects of Unemployment Insurance Under High Informality: Evidence from Argentina (2014).

Sejak tahun 1991 Argentina telah memberikan gaji untuk pengangguran sebagai salah satu program jaminan sosial.

Program ini dibiayai dari pajak sebesar 1,5 persen yang dibebankan kepada para pekerja.

Sementara pengelolaan dana tunjangannya dilakukan oleh Kementerian Tenaga Kerja setempat.

Setelah beberapa tahun penerapan, Martin dkk (2014) menemukan bahwa Argentina mengalami pemerataan tingkat konsumsi.

Namun, rata-rata durasi pengangguran di negara tersebut menjadi lebih lama dari sebelumnya.

Martin dkk (2014) juga menilai bahwa program tunjangan pengangguran tidak cocok diterapkan di negara berkembang, yang perekonomiannya banyak mengandalkan sektor informal.

Menurut Martin, pekerja di sektor informal umumnya tidak terdata oleh negara. Karena itu mereka bisa saja salah ditafsirkan sebagai pengangguran, dan kebagian dana tunjangan yang harusnya tidak layak mereka terima.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - RUANG PUBLIK

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

Tim Pencari Fakta Gagal Ungkap Pelaku Teror Novel

Kabar Baru Jam 7

News Beat

Kabar Baru Jam 20